Kewirausahaan duh kewirausahaan

Tepat seminggu sebelum pelaksanaan ujian nasional tingkat SMA sederajat minggu kemarin, saya menemui ketua UPT Kewirausahaan-ketua UPT tersebut telah berganti dengan ketua yang baru seiring bergantinya Rektor dan pejabat terkait lainnya di kampus Universitas Andalas-untuk berdiskusi perihal dana kewirausahaan yang saat ini masih bersisa di rekening-untuk mengambil dana tersebut mesti harus dalam persetujuan ketua UPT Kewirausahaan-. Dalam diskusi siang itu beliau meminta untuk diberikan lembaran-lembaran laporan keuangan. Sebab itu, seusai diskusi saya minta izin terlebih dahulu untuk mempersiapkan laporan keuangan.

Sampai pukul 04.00 pagi Alhamdulillah laporan tersebut telah selesai saya buat termasuk juga dengan kegiatan-kegiatan yang saya ikuti ataupun kerjakan-kegiatan bisnis-. Selanjutnya selang beberapa hari saya kembali menemui ketua UPT Kewirausahaan. Kali ini saya mulai dengan landasan awal kenapa saya mendirikan usaha tersebut dikarenakan ini merupakan kali kedua berjumpa dengan beliau, dan agaknya beliau-pun kurang memahami seluk beluk usaha yang saya jalankan.

Akal dan kemampuan manusia sangatlah terbatas, untuk menjangkau sesuatu yang lebih tinggi manusia memerlukan sayap kesadaran dan meninggalkan pikiran. Meninggalkan pikiran bukanlah hal yang mudah disebabkan oleh ego dan kerangka pikiran yang telah terbentuk. Ego dalam keakuan diri, menempatkan diri sebagai seorang yang maha, seorang yang tidak membutuhkan bantuan dan kerja sama, ego dalam menempatkan diri sebagai orang yang pandai dan cekatan. Itulah yang ingin saya tepis dari awal, saya melihat adik-adik dan serta kawan-kawan mereka semua memiliki potensi yang sangat besar dan mesti dengan semangat komunal, semangat kebersamaan hal besar dapat kita wujudkan. Maka dalam pada itu saya ajaklah adik-adik yang memiliki potensi besar namun dari-maaf-kelaurga yang bisa dikatakan kurang mampu. Dalam hal ini saya tidak memanfaatkan mereka untuk mendapatkan untung yang sebesar-besarnya. Namun, saya memiliki idealis dalam paham sosialis, dalam hal ini komunal. Seberapa yang mereka kerjakan, maka ada upah yang pantas untuk mereka sesuai dengan bagaimana kesulitan dan kesukaran dalam pekerjaan tersebut. Bisa dikatakan ini merupakan sistem bagi hasil dalam bekerja.

Selang berapa lama saya presentasikan kepada ketua UPT Kewirausahaan yang baru ini perihal visi misi usaha yang saya bangun, lantas beliau menengok laporan keuangan yang telah saya bikin lengkap dengan laporan usaha maupun kegiatan yang dilaksanakan. Saya mulai merasakan adanya gelagat ketidaksukaan beliau, berkali beliau mencoba mematahkan argumentasi yang saya ketengahkan dalam forum tersebut, kesekian kali juga saya membela argumentasi. Namun, satu hal yang tidak dapat saya terima ketika beliau menyampaikan “dari laporan keuangan ini saya hanya melihat anda seperti memperkaya diri sendiri”. Sungguh ini membikin pilu bagi diri saya sendiri. Apatah saya salah salah dalam membayarkan gaji pada karyawan-dalam hal ini adik-adik yang saya bina tersebut-. Demikian bahwa harga untuk membikin suatu program komputer tidak semurah membeli satu dua bungkus permen karet, tidak bukan segebegitu murah.

Dalam kesempatan bersama kawan dan adik tersebut, pernah saya menjelaskan managemen Alhamdulillah, serta managemen pasrah. Pasrah bukan berarti menyerah, pasrah yang saya maksudkan disini adalah setelah sehabis-habis usaha dikerjakan maka serahkanlah segala usaha tersebut kepadaNya. Begitu juga dengan manangemen Alhamdulillah, bersyukurlah atas apa yang ada dan bersyukur atas apa yang kurang.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7).

Saya bukanlah seorang kapitalis yang mencari untung yang sebesar-besarnya serta membayar rendah para pekerja. Perihal rezeki, bagi saya telah ada yang mengatur, saya teringat akan kebijakan firmanNya dalam surat Al Maidah ayat 120

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya; Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu

Saya tidak begitu mencemaskan rezeki, ada sama di makan yang tidak ada sama di cari, kebukit sama mendaki ke lurah sama menurun. Tertelungkup sama makan tanah, tertelentang sama minum embun, terapung sama hanyut, terendam sama basah. Barangkali karena saya dibesarkan dalam lingkungan Minang tulen, dari kecil saya telah melihat bagaimana sistem sosialis komunal tersebut hidup dan menjadi sendi kehidupan bermasyarakat di nagari. Pada tulisan mendatang akan saya coba perlihatkan kepada sidang pembaca.

Jikalau memang saya dikatakan memperkaya diri sendiri, tentulah sudah bergigi emas juga saya ini. Atau mungkin sudah berkendraan mobil saya ke kampus, jangan mobil, motor saja sampai saat ini saya tidak punya. Namun begitu saya sangat mensyukuri apa yang ada. Maka nikmat Tuhan mu manakah yang kamu dustakan. Kebijakan firmanNya ini selalu terngiang di dalam diri.

Kabar baiknya adalah adik-adik yang saya bina tersebut saat ini sudah bekerja pada perusahaan yang lebih baik, seorang adik saat ini menjadi programmer pada Gojek, mengurus back end programmer di sana, seorang adik lagi saat ini sedang bekerja pada salah satu perusahaan  dan sedang mengurusi pengadaan sistem informasi pada salah satu hotel yang baru di bangun di kota Padang. Dan adik serta kawan yang lain. Saya sangat senang dan bahagia pernah menjadi bagian dari mereka semua, berdiskusi dan mendidik mereka. Alhamdulillah.

Pada akhirnya dalam pertemuan hingga pukul 15:00 wib sore itu tidak membuahkan hasil apa-apa, dari satu sisi saya sudah merasa tersinggung atas apa yang beliau sampaikan. Saya bukanlah seorang pengemis yang data menghambakan diri kepada UPT Kewirausahaan tersebut. Saya seorang lelaki, yang masih mempunyai dua buah tangan yang masih kuat untuk menggengam, dua buah kaki yang masih kuat untuk melangkah, serta pikiran yang masih tajam. Terhimpit hendak di atas, terkurung hendak di luar. Maksudnya adalah semangat pantang menyerah mesti dalam kondisi tersulit sekalipun, masih ada jalan, masih ada jalan!.

Terhimpit hendak di atas, terkurung hendak di luar, biarkanlah badaniah, badan yang kasar ini terhimpit oleh padihnya derita kehidupan, pahitnya kemiskinan, pahitnya segala fitnah dan cercaan, namun, batin sebagai badan yang halus janganlah sampai terhimpit. Bebaskanlah hati, jiwa, pikiran untuk merderka dan bertauhid. Jikalaulah hati, jiwa, serta pikiran ini merdeka maka La Ilaha illaLlah, Allah bersama kita. Sesulit bagaimanapun jalan, sebagaimanapun badai mengamuk, jika La Ilaha illaLlah sudah terpatri mantab di dalam sanubari tidaklah ada arti semua itu. Penderitaan bagaimanapun sulitnya dapat dipikul.

Akhirnya saya pulang dan bertekat untuk tidak akan pernah ke UPT Kewirausahaan lagi dan cukuplah ini jadi pelajaran, biarlah saya cari untung barang kemana untuk membiayai penelitian tugas akhir. Barangkali tidak rezeki saya ada di sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s