kartini yang cengeng

Hari ini, seperti ritual biasa, bangsa ini memperingati kelahiran perempuan ningrat dari Jepara, RA.Kartini. Mengulang terus pemikiran, harapan dan keinginan almarhumah. Kartini, memang bukan Tan Malaka. Tak juga seorang yang pernah berteriak lantang. Harapanya lebih dituang pada catatan, kertas, surat-surat dan sedikit percakapan. Selebihnya hanya ingatan.
Pada sebuah rezim namanya dipelihara.

Dari ranah ini-Minangkabau, juga pernah lahir Rohana Koedoes, yang jauh lebih banyak menulis, menerbitkan koran, dan berteriak nyaring dari sebuah sekolah ke sekolah lainya. Lain pula dengan Rasoena Said, yang menjadikan bendera Amerika dan Belanda sebagai alas kasurnya sebagai bentuk protesnya terhadap kapitalis dan kolonialis. Begitu juga dengan Rahmah El Yunusiah, yang meninggalkan rumah untuk bangsanya. Jika disebut mungkin ada banyak perempuan berani yang berteriang lantang, kita juga mengenal ada seorang perempuan berani bernama Siti Manggopoh.

Hari ini, seperti ritual biasa, perempuan-perempuan seakatan latah memperingati lekahiran permpuan cengeng.

Kartini muncul di saat yang tepat, ketika pemerintah penjajah Belanda sedang menggiatkan politik etis. Ideologi politik yang juga dikenal sebagai politik Balas Budi ini dicetuskan pertama kali oleh Van Deventer (w. 1915) dan lantas dikukuhkan oleh Ratu Belanda Wilhelmina yang naik tahta tahun 1901, dengan maksud untuk lebih memerhatikan kondisi penduduk negeri jajahan termasuk Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia saat itu.

JH Abendanon yang menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan pada pemerintahan Hindia Belanda periode 1900-1905 menemukan sosok perempuan Rembang, RA Kartini yang layak dimonumenkan sebagai citra keberhasilan Politik Etis yang dianut pemerintahannya. Oleh JH Abendanon, surat-surat Kartini yang dikirimkan ke beberapa sahabat penanya di Eropa dikumpulkan dan diterbitkan di Belanda pada tahun 1911 dengan tajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalangan akademisi Eropa kemudian sumringah dan berdecak kagum atas keberhasilan Belanda mendidik perempuan di tanah jajahannya. Buku ini kemudian menjadi monumen abadi bagi buah pikiran Kartini yang dianggap memperjuangkan semangat kesetaraan kaum perempuan di masanya.

Sayangnya, surat-surat asli Kartini tak pernah ditemukan. Verifikasi kebenaran buah pikiran RA Kartini ini menghadang tembok gelap bersama sosok Abendanon – yang semasa menjadi pejabat Hindia Belanda menjalin keakraban dengan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang merancang penaklukan Aceh 1902-1904. Tak ada satupun ahli waris Abendanon yang berhasil menemukan transkrip surat aslinya. Buku yang memuat “tulisan” Kartini hanyalah merupakan transliterasi yang dilakukan oleh Abendanon sendiri. RA Kartini pun tak bisa memvalidasi karena wafat sebelum buku itu terbit. Sejarah Indonesia kehilangan bukti otentik untuk satu titik sejarah yang teramat penting.

Kartini yang membuka kursus keterampilan bagi perempuan ningrat Rembang tahun 1904, juga tak bisa dianggap sebagai pelopor pendidikan perempuan. Ada sosok lain yang jauh lebih mula dengan cakupan yang lebih luas. Dewi Sartika, tokoh perempuan asal Bandung, merintis sekolah perempuan bernama Sakola Istri lebih dulu di Bandung pada 1902. Juga ada sosok ratu cendekia asal Tanete, We Tenri Olle, yang mendirikan sekolah di Tanete tahun 1890an. Sekolah yang dihelat ratu Bugis yang memerintah selama 55-tahun ini bahkan memiliki cakupan lebih luas karena mendidik anak-anak lelaki dan perempuan dari berbagai kalangan, bangsawan ataupun jelata tanpa pembedaan. Sedang Kartini, sekolah yang dibentuknya hanya untuk kalangan perempuan ningrat di kraton adipati Rembang.

Bagaimana sikap Kartini terhadap penjajahan? Hal ini juga menjadi sebuah anakronisme dalam pendefinisian pahlawan. Pahlawan kemerdekaan mestinya adalah sosok yang berjuang melawan pihak yang mengangkangi kedaulatan negeri, namun hal ini tak ditemukan pada sosok Kartini. Alih-alih menunjukkan permusuhannya kepada Belanda, Kartini bahkan menjalin keakraban dengan tokoh-tokoh Belanda yang turut melestarikan cengkeraman penjajahan atas negerinya. Beberapa sejarahwan bahkan menganggap bahwa Kartini lebih Belanda ketimbang sebagai putri Jawa pribumi. Buku-buku yang dilahap Kartini semasa muda, dan perkawanannya yang erat dengan teman-temannya di Eropa mengindikasikan hal ini. Padahal, banyak juga perempuan Indonesia sezamannya yang bisa menjadi rujukan bagi RA Kartini sekira mau.

Juga menjadi kenyataan yang menarik bahwa Kartini, ternyata berkenan menjadi istri keempat Bupati Rembang Adipati Djojo Adhiningrat, yang belakangan memfasilitasi kegiatan Kartini menggelar kursus keterampilan. Para pendukung emansipasi dan feminisme mesti menemukan bahasan menarik antara dua hal yang berbeda kutub ini; kesetaraan hak perempuan dan ihwal penerimaan atas praktek poligami.

Sudah saatnya pemerintah Indonesia mengakomodir pucuk-pucuk budaya lokal, termasuk melakukan koreksi atas klaim-klaim yang berbau jawa sentris seperti pengkultusan sosok Kartini ini. Masih banyak sosok lain yang lebih tangguh dan mewakili keluhuran budaya dan perjuangan bangsa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s