Baiklah, bendera putih kapten! Saya lelah dengan skripsi untuk malam ini, butuh piknik. Rindu dengan Kitab Keabadian yang di tulis seorang filsuf Muhammad Iqbal.  Melalui Javid Namah ini, kita diajak mengarungi samudera kehidupan. Sesekali ia-Muhammad Iqbal- memprotes tindakan kapitalisme Barat, serta mengecam lemahnya semangat juang masyarakat timur. Tiba-tiba datang tuan Tan Malaka berbisik di belakang “Belajarlah dari Barat, tapi jadilah murid dari Timur yang cerdas”. Malam ini ditingkah dengan kopi spesial, campuran Robusta dengan Arabika, namanya KPK-Kopi Pahit Kental-. Jelas tidak ada gula diantara kita.

Memang benar untuk rehat sejenak agaknya, mulai merasakan kejenuhan dan itu tidak dapat dipaksakan untuk dilanjutkan. Dan ini bukanlah suatu benturan, adakalnya dalam perjalanan kita mesti menyandarkan tubuh yang lusuh untuk sekadar menghela napas panjang.

Malam ini, selain kitab Javid Namah, ada buku puisi dari Cak Nun, Acep Zamzam Noor, dan beberapa buku lainnya yang menjadi teman, sembari memutar beberapa lagu-lagu Minang pilihan.

Agaknya minggu depan berhubung ada libur panjang, saya berkeinginan untuk pulang kampuang sembari takziah pada makam seorang guru mengaji yang sudah berpulang hari sabtu kemarin.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s