Terbentur Terbentur Terbentur Terbentuk

Dalam kondisi beberapa hari ini  mengalami demam ditengah padat-padatnya urusan akhir dari kampus, saya mendapati sakit agak empat hari lamanya. Bermula hari minggu kemarin karena teriknya panas di kota Padang siang itu, sembari menunggu seorang kawan senias dari pulau Jawa yang berkunjung ke kota Padang, ia tengah dalam perjalan dari Pajokumbuah ke Padang. Tentulah ia tiadalah paham daerah di kota Padang sementara padanya ada DVD berupaa film pendek tentang Tan Malaka yang hendak dihantarkan kepada seorang Prof untuk ditampilkan pada sebuah seminar. Karena panas dan terik tadi, saya tertidur dipelataran masjid. Ada agaknya hampir satu jam tertidur di masjid selanjutnya karena hampir sampai di kota Padang, saya jemputlah si kawan ini ke pool bus-Padang, tidaklah terminal yang kita temukan sepanjang jalan, mulai dari Ulak karang hingga Lubuak Buaya. Berkilo-kilo meter pool bus ini panjangnya. Pun jika ada penjurian bilamana terdapat terminal terpanjang, maka barangkali kota Padang berhak mendapat juara agaknya-.

Pukul tiga sore saya bertemu dengan kawan ini dan lekas mengantarkan beliau ke kampus, dikampus disebabkan peserta seminar sudah menanti penuh harap pemutaran film pendek tersebut. Belum sampai di kawasan Pasar Baru, tiba-tiba hujan berlarian berjatuhan kepermukaan bumi. Sempat kehujanan sampai menuju tempat berteduh, barulah agak mulai reda kami lanjutkan perjalanan dan mencari mantel hujan di Pasar Baru.

Cuaca di kawasan Limau Manih tidak ada bedanya dengan perempuan dalam periode PMS, sama-sama tidak dapat ditebak apa maunya, kadang ia bahagia, kadang ia berubah muram durja, entahlah kawan. Sama-sama memahami saja kita. Dan disini tidaklah berlaku gabak di hulu tanda akan hujan, cewang di langit tanda akan panas.

Singkatnya, malam harinya kepala sudah berat ada terasa. Saya barutkan minya kayu putih pada bagian perut dan mengurut sela-sela jari kaki dan tangan dengan balsem, serta meminum secangkir teh pahit. Karena sudah agak pusing, saya lanjutkan untuk tidur. Pagi harinya badan mulai tidak membaik, sementara itu saya cobakan untuk menulis perbaikan proposal dan tugas akhir pratikum. Namun, karena sudah mulai sakit, tidak bisa juga saya paksakan betul.

Saya makan paracetamol dan vitamin B compleks untuk meredakan panas. Dalam pada itu, masih saja bandel untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Teringat apa yang disampaikan oleh engku Tan Malaka, Terbentur Terbentur Terbentur Terbentuk. Dalam hal ini samalah paham kita bahwasanya suatu hal yang telah terbentuk itu telah terlebih dahulu mengalami proses. Proses tidak semudah yang kita bayangkan, ada mengalami beberapa kali proses.

Seorang penulis terkenal mengalami berbagai hambatan dalam proses kreatifnya, dan banyak lagi contohlainnya. Artinya, disini ada namanya kegigihan dalam hidup. Benturan adalah gesekan dalam kehidupan yang mendewasakan kita. Manusia jatuh karena tertarung pada batu yang kecil-kerikil-, pada kerikil kecil itu, yang kadang tidak terperhatikan oleh kasat mata kita tersungkur, Terbentur. Bangkit lagit tersungkur lagi, terbentur lagi. Mempelari pola kesalahan dan kegagalan saat tersungkur tadi ada baiknya untuk dilakukan.

Terbentur Terbentur Terbentur Terbentuk, dalam empat hari ini saya tidak begitu maksimal dalam mengerjakan tugas-tugas akhir ini, hari ini badan sudah mulai membaik dan prima kembali agaknya. Alhamdulillah, berharap untuk tidak mendapati sakit yang berat untuk beberapa bulan kedepan, Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s