Asal pandai pengembala, harimau dan kambing dapat sekandang

Memang, tempramen itu beragam: sebagian cepat menerima perubahan, sedangkan sebagian yang lain lambat. Ada dua alasan mengapa perbedaan tersebut terjadi. Pertama, ada daya insting [gharizah] yang terletak pada akar tempramen dan tumbuh searah dengan pertumbuhan usia seseorang: Sebab, sesungguhnya, daya syahwat, amarah, dan kesombongan-semuanya- telah ada di dalam diri manusia; tetapi yang paling sulit diubah adalah daya nafsu-syahwat- karena ia merupakan daya yang paling awal muncul di dalam diri manusia. Pada tahapan paling dini dari hidupnya-mabda’ al-fitrah-, dalam diri seorang anak telah diciptakan daya nafsu, lalu pada sekitar usia tujuh tahun muncul daya amarah, yang terkadang bertambah kuat karena pembiasaan yang sejalan dengannya, tunduk kepadanya dan meyakininya sebagai sesuatu yang baik dan memuaskan.

Dalam hal itu, Imam Al-Ghazali pada kitab Metode Menaklukkan Jiwa telah menjelaskan bahwa manusia terbagi ke dalam empat derajat.

Pertama, orang dungu yang tidak mampu membedakan kebenaran dan kesalahan, atau kebaikan dan keburukan, namun tetap dengan sifat dasar-fitrah– yang ada bersamanya sejak lahir dan belum terjamah doktrin apa pun, sedangkan syahwatnya belum mendesaknya untuk memenuhi kesenangan-kesenangan biologis.

Kedua, orang yang telah mengenal kualitas buruk dari perbuatan yang buruk, tetapi belum terbiasa mengerjakan perbuatan yang baik karena perbuatan-perbuatan buruknya justru tambak baik di matanya. Di samping itu, dia melakukan perbuatan-perbuatan tersebut karena tunduk kepada hawa nafsu yang lebih menguasai dirinya dan membuatnya berpaling dari kebaikan.

Ketiga, orang yang berkeyakinan bahwa justru akhlak buruklah yang diwajibkan dan dianggap benar lagi baik sehingga dia pun terdidik dengan prinsip semacam itu. penyembuhan bagi orang semacam ini nyaris mustahil.

Keempat, orang yang tumbuh dengan keyakinan yang rusak dan dididik untuk mengerjakannya. Dia percaya bahwa keutamaan terletak pada akumulasi kejahatan dan kekejian.

Dapat disimpulkan dari keemapat jenis diatas adalah sebagai berikut; yang pertama dari keempat jenis orang ini hanya semata-mata bodoh, sedangkan yang kedua bodoh dan sesat, yang ketiga bodoh, sesat, dan rusak, serta yang keempat bodoh, sesat, rusak, dan jahat.

Fantasi lain yang mereka yakini adalah pendapat yang menyatakan bahwa selama seorang manusia masih hidup, maka tidak akan berhenti darinya syahwat, amarah, dan rasa cinta kepada dunia. Inilah kesalahan yang menghinggapi sekelompok orang yang mengira bahwa tujuan perjuangan batin adalah memusnahkan dan menghapuskan sama sekali semua sifat tersebut. Agaknya pendapat semacam ini adalah rancu dan abstrud, sebab demikian sesungguhnya nafsu diciptakan dengan faedah tertentu dan merupakan kemestian mutlakb bagi hakikat manusia, Umpama katakanlah nafsu makan yang telah hilang tentu manusia akan mati; pun begitu juga dengan nafsu melakukan hubungan seks lenyap, manusia akan punah; dan jika rasa marah hilang sama sekali, manusia tidak akan mampu mempertahankan dirinya dari bahaya yang mengancam nyawanya. Begitu juga marah dalam hal girah-malu- dalam memperjuangkan nilai-nilai agama.

Saya pernah menemukan dalam sebuat lirik lagu dendang Minangkabau yang berupa pantun nasehat, menarik dari lirik lagu ini sehingga membikin saya untuk membuka kitab Imam Al-Gazhali untuk mencari referensi guna membedahnya.  Adapun liriknya adalah sebagai berikut

kok ka balai ka Rao Rao
jinjiang lah limau ciek surang
asalai pandai urang gubalo
kambiang jo harimau bisa sakandang

jika hendak ke pasar Rao Rao
jinjinglah jeruk satu seorang
asal pandai orang bergembala
kambing dengan harimau dapat sekandang

sesuai dengan apa yang saya cari di dalam kitab Metode Menaklukkan Jiwa, saya akan mencoba untuk membahasnya. Pertama, gembala jika ditilik arti dari KBBI sebagai berikut ini :

gembala/gem·ba·la/ n 1 penjaga atau pemiara binatang (ternak); 2 penjaga keselamatan orang banyak: dia menjadi — kaum Nasrani;
— kerbau orang yang pekerjaannya menggembala kerbau;

menggembalakan/meng·gem·ba·la·kan/ v menjaga dan memiara binatang (terutama ketika binatang itu sedang di padang rumput dan sebagainya);

penggembala/peng·gem·ba·la/ n orang yang menggembalakan (binatang ternak, hewan piaraan); tukang gembala;

penggembalaan/peng·gem·ba·la·an/ n 1 proses, cara, perbuatan menggembalakan; 2 tempat menggembalakan ternak

dapat kita tarik kesimpulan gembala merupakan suatu kegiatan dalam penjagaan atau pemeliharaan hewan ternak, penjagaan hewan ternak perlulah dilakukan, terutama berkaitan dengan keamanan. Misalkan hewan ternak yang tidak diurus dan di gembala dengan tidak baik akan memakan tanaman dari ladang ataupun kebun orang, tentu hal ini akan menyebabkan keributan di dalam lingkungan masyarakat karena tidak terima dan merasa dirugikan oleh hewan ternak milik sipengembala yang tidak mawas tadi. Itu satu.

Kedua, pada bait terakir dari isi pantun nasehat di atas adalah muncul pertanyaan terhadap kalimat yang ambigu “kambing dan harimau dapat sekandang“.  Memelihara hewan ternak saja sudah susahnya untuk dilakukan, dan mesti tekun. Sekarang ada lagi harimau yang mesti digembalakan, dan tambah lagi sekandang dengan kambing. Bagaimana mungkin harimau merupakan hewan karnivora yang lazimnya pemakan daging tersebut dikandangkan dengan kambing yang nyata adalah santapannya sendiri?.

Dari sisi lain, ini merupakan suatu kiasan dan perumpamaan dalam kehidupan manusia, sekarang kita ambil harimau. Harimau dalam pantun nasehat ini merupakan perwakilan dari sikap marah, sikap liar dan tidak terkendali. Kita mesti menaklukkan nafs-jiwa- dari nafs ammarah bi al-su (jiwa yang memerintah pada keburukan). Bahwa nafs ammarah bi al-su tidaklah bisa dihilangkan dari jiwa seorang manusia, sebagaimana telah kita singgung dalam awal pembahasan tulisan ini. Namun, letakkanlah pada sisi tengah untuk dapat dikontrol dan dikendalikan, sehingga ia dapat berkawan dengan kambing yang merupakan kiasan dari sikap penyabar.

Dalam pepatah lain mengatakan “harimau di dalam perut, kambing jua dikeluarkan“. Maksudnya adalah, sebagaimanapun memuncaknya amarah di dalam diri, namun janganlah amarah tersebut dimuntahkan keluar, sebab jika amarah tersebut dimuntahkan akan melontarkan kata yang tidak sepatutnya tersampaikan yang mengakibatkan orang yang mendengarkan akan iba hatinya.

Maka asal pandai pengembala, harimau dan kambing dapat sekandang tujuannya adalah mengembalikannya kepada keseimbangan yang berada titik tengah antara keadaan yang berlebihan dan kekurangan. Mengenai amarah, maka yang dibutuhkan adalah cara mempertahankan diri yang tepat dengan menghilangkan sikap ceroboh dan pengecut serta secara umum memperkuat diri sendiri dengan kekuatan yang tetap berada di bawah kendali akal. Rasa di bawa naik, periksa di bawa turun.

Akhir kata, jadilah kita seorang pengembala yang baik diikat dan dikendalikan menggunakan akal.

“La taghdob wa lakal jannah, jangan marah bagimu syurga..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s