Pantomin

sebuah percakapan dengan Syntia Darmila

yang tersisa pada persimpangan jalan,
ratusan pagi yang berlalu
sunyi berkabut seakan
dingin memaksa bibirbibir untuk
tidak sepatah katapun berucap.
kita seakan pemeran lakon pantomin
yang memainkan peran masingmasing,
bahkan saat hujan gerimis, di pagi yang masih lembab
oleh embun yang turun malumalu serta
cericit murai batu perlahan mengalun
serta basah jalan bertingkah dengan wangi melati
tak sedetikpun kita lewatkan dengan peran paling romantis sekalipun.

Kita adalah pelakon pantomin yang mahir menyembunyikan sepatah kata serta kau mahir membohongi setiap kerinduan.

pada ratusan pagi yang telah lalu,
dengan senantiasa berjalan mendahului dan
tidak sekejap pandangan akan aku arahkan ke belakang tetap di hadapanmu,

-bahwa melawan kehendak diri yang mengkehendaki seulas bentuk limau manis pada bibir itu.

Jikok den kaka si daun paku
jatuah nan badarai si bungo lado
jikok den kana maso nan dahulu
jatuah nan badarai si aie mato

Oslan, aku putar Oslan, agar segala gairah kembali tercurah dan
air mata tumpah jatuh ke dalam memendam
dan segala yang redam hanya kesiasiaan.

Bahwa kau serta aku adalah pelakon pantomin
bahkan pada bayangbayang tidaklah sedikitpun kita berucap.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s