Kopi Robusta Batupaek

Batu Paek merupakan taratak yang terletak di Jorong Sawah Kareh, Kenagarian Balimbiang, Kabupaten Tanah Datar. Dengan ketinggian berkisar 360 – 400 m/dpl serta suhu yang berkisar 25-30 derajat celcius. Saya masih ingat saat tahun 90-an akhir dan pada awal tahun 2000 ketika itu kebun-kebun masih banyak di tanami kopi, pada pagi yang lembab wangi-wangi bunga kopi yang mekar sepanjang jalan tampak semerbak benar harumnya.

Pada waktu itu belum benar saya menaruh perhatian lebih tentang tanaman yang memiliki nama latin Coffea arabica, C. robusta, namun yang pasti paruh waktu ini agaknya saya memulai meluangkan sejenak waktu untuk sekadar menggali informasi mengenai tanaman tersebut. Namun, satu hal yang pasti saya ingat juga ialah waktu masih sekolah dasar (kira-kira masih pada tahun 2000an awal), ketika itu sering kami pergi ke kebun-kebun sembari memetik kopi yang ranum terkadang juga biji kopi yang matang tersebut kami jadikan cemilan.

Jika berbicara mengenai kebun-kebun kopi di tanah Minangkabau, tidak terlepas dari kerja rodi dan tanam paksa kopi yang dinamakan dengan cultuurstelsel. Bahwa pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 rakyat Minangkabau tengah dikuras keringatnya oleh pemerintah kolonial Belanda. Jika merujuk kepada buku Sumatera Barat Plakat Panjang jilid 2 karangan Rusli Amran begitu lugas menerangkan hal ini.  Watak bangsa Minangkabau ternyata jauh berbeda dengan orang Jawa, suatu hal yang membuat pemerintah kolonial Belanda panik dan kehilangan akal untuk menaklukkan bangsa Minangkabau. Memang, Minangkabau secara geografis telah mampu ditaklukkan, namun Minangkabau secara mental tidak pernah ditaklukkan. Pada Bab mengenai Drama Kopi dapat di baca lebih lanjut untuk melihat dan mengetahui bagaimana jalannya praktik tanam kopi yang sejatinya merupakan penghalusan dari pemungutan pajak. Pajak yang diharapkan untuk meraup keuntungan yang besar bagi pemerintah kolonial diambil dari sistem tanam kopi. Setiap hasil panen kopi harus dijual ke pemerintah kolonial, jika dijual ke tengkulak di luar pengawasan pemerintah kolonial akan dikenakan pajak yang tinggi. Kolonial Belanda telah berpengalaman mendapat kerugian besar di Minangkabau. Bahkan tercatat, untuk menaklukkan Minangkabau ini telah menguras kekayaan Belanda terbesar dibanding daerah lain di Nusantara. Bahkan kerugian tersebut belum terlunaskan sampai Belanda angkat kaki dari daerah ini.

Sejenak kita tinggalkan dahulu Batu Paek, karena ada hal menarik juga yang akan kita temukan di nagari Simawang serta Batipuah. Dari Batu Paek kita menyeberang sungai Batang Ombilin nun di sana, di nagari Simawang. Ketika ketertarikan terhadap kopi terutama sekali dari segi sejarah, saya mulai mencari-cari dokumen serta arsip-arsip Belanda. Pencarian tersebut membuahkan hasil juga. Saya menemukan dokumen berupa majalah yang terbit kira-kira pada bulan april tahun 1984. Majalah dengan nama Tijdschrift voor Neerland’s Indië jrg 23, 1894 (1e deel) [volgno 5]. Pada halaman 244 yang berjudul Gouvernements-koffiecultuur ter Sumatra’s Westkust kita dapat membaca laporan dari asisten residen Batipuah dan X Koto.  Dalam laporannya tersebut dapat disimpulkan juga salah satunya mengenai kegiatan tanam paksa kopi ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan khas Belanda serta dibahas juga mengenai plakat panjang.

Berikut kita dapat lihat daerah di Batipueh dan X Koto yang tercatat sebagai penghasil kopi sekaligus penyumbang khas Belanda pada waktu itu.

kopi_batipueh_dan_X_koto

(saya ambil pada halaman 253 pada majalah tersebut)

jika pada masing-masing daerah tersebut menghasilkan kopi begitu banyaknya (dalam satuan pikul, 1 pikul lebih kurang 60,479 kg).  Sebagai contoh untuk Simawang Atas ada 33 pikul dan itu sama dengan 1995.807 kg (2 ton kurang sedikit). Lalu, bagaimana dengan Batu Paek yang pada awal pembicaraan sudah sering kita singgung-singgung.

Dari Simawang kita kembali menyeberang sungai Batang Ombilin itu untuk kembali menuju taratak Batu Paek untk sedikit membicarakan perihal kopi di sana.

Tepatnya hari minggu kemarin berjalan-jalanlah saya waktu itu mengelilingi kampung untuk sekadarnya saja menikmati pemandangan kampung. Tiba-tiba pandangan mata saya tertuju pada sebatang pohon kopi yang tumbuh di sudut ladang seorang. Terlihat begitu ramun buah kopi.

buah_kopi

karena sedari awal melihat ranum buah kopi ini, saya lantas menemui pemilik kebun untuk meminta izin agar memetiknya. Beruntung, saya diizinkan pemilik ladang untuk memetik sebatang pohon kopi tersebut.

red_cherry_bean

read cherry bean

setangkai_read_cherry_bean

setangkai read cherry bean

saya mendapatkan 300 gram biji basah kopi robusta Batupaek yang kemudian saya bawa ke rumah untuk di tumbuk,

menumbuk_kopi

proses selanjutnya adalah mencuci gabah kopi

mencuci_biji_kopi

selanjutnya, gabah yang sudah dibersihkan dan direndam ini akan di jemur

menjemur_biji_kopi

Selanjutnya, saya mesti menunggu 4-5 hari agar betul-betul kering dan siap untuk di roasting. Harapan saya nanti adalah ingin sekali membudidayakan kembali kopi yang sempat membikin harum kampung ini oleh semerbak wanginya, dan tentu saja, jika penanaman serta pengelolaannya bagus tidak menutup kemungkinan akan memberikan hasil panen yang baik kedepannya dan tentunya dapat menghidupi anak dan kemenakan serta masyarakat kampung kedepannya.

Dan yang terlupakan dalam tulisan ini yakni, alasan ketertarikan saya untuk menggali informasi mengenai kopi Robusta Batupaek ini sesungguhnya adalah ingin mengetahui cita rasa asli dari kopi itu sendiri. Selama ini, setiap kopi yang dipanen akan di jual kepada tengkulak, dari tengkulak akan di jual lagi kepada pengumpul kopi yang lebih besar. Dari sana biji kopi jarang mengalami penyortiran, dari read cherry bean hingga biji yang belum ranum semua berkumpul pada pengumpul. Dan lain daripada itu, pengolahan kopi pun belum baik. Ada yang mencampurkannya dengan kerak nasi, ada pula yang mencampurkannya dengan jagung. Sebab itulah saya ingin betul untuk mencari identitas cita rasa kopi Rubusta ini, terutama sekali robusta Batupaek.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s