Orang Rantai

Kota ini tumbuh dari seribu pekik kematian yang biadab.
Sisa siksa abad silam hinggap
serta lambaian tangan orang rantai,
jauh dari ranah, jauh dari tepian terpisahkan untung perasaian
“pulang kami, pulang kami kepada haribaan”,
air mata mereka seakan kering sebab sangsai penanggungan

Kota ini tumbuh dari seribu pekik kematian yang biadab.
Pada pangkal kota ini, hinga daging dimakan tulang
mereka umpama seakan binatang-binatang paling
melata sekalipun

Di depan lubang mbah suro
aku bayangkan aroma serta bau,
dan segala kepiluan
bau kulit terpanggang,
bau napas seakan putus pada harapan yang pupus,
lecutlecut cambuk meremuk dalam kekalutan
bertahuntahun sudah segala kepiluan memenjarakan
hingga lambung lekat pada punggung
hingga tulang meregang
bertahuntahun pula segala sesal tak dapat diceritakan

Duh, aku hirup udara yang begitu sesak
dari pekik kematian yang datang tibatiba
meneteskan air mata
hingga gigil
pun kecemasan serta ketakutan
hinggap dengan sigap,
serta sekelebat bayang orangorang rantai
dikalungkan besi
dibumikan pada bola besi seberat 5kg.

Pada perasaan yang murung
terkungkung pada tahun mengurung
aku tuliskan segala gambaran sesal
Sebab, pada hati yang murung pada perasaan terkungkung
segala rupa orangorang rantai
hadir dalam sekelebat bayang seakan mengajak berbicara.

Maka aku tuliskan secarik
bait dengan rima terkpaksa, sebab pekik kematian
mendenging pada pangkal telinga
serta gaduh dan riuh suarasuara sangsai nan nelangsa
dan bibir kelu kaku
lalu, aku kirimkan segala doa tolak bala.

Pada pangkal kota ini, kini, orangorang mengunggun api
suka cita, joget dengan irama keroncong
mengubur harilalu pilu berlalu,
bingkai terpajang rapi pada etalase museum
mengenang segala untung nasib bagian malang anak dagang,
serta mendendangkan segala nasib buruk harihari terpuruk.
Kota ini kembali bangun dari seribu kematian.

Sawah Lunto – Batu Paek
15 Juli 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s