The Power Of Muncuang

Bajalan paliharo kaki
Bakato paliharo lidah
Kaki tataruang inai padahannyo
Lidah tataruang ameh padahannyo
Bajalan salangkah madok suruik
Kato sapatah dipikian

 

Jikalaulah benar kalimat memang lidah tidak bertulang komunal, maka benar lidah tersebut dapat meliuk dalam kancah gelanggang persilatan. Silang berbantah dalam ruang mufakat lihai benar. Dalam pada itu, bilamana lidah tersebut tidak bertulang, ia tidak sepantasnya semau saja tuan yang punya lidah mempergunakannya. Ada yang pantas untuk dipersebutkan dan diperbicarakan ada yang sepantasnya dan memang pantas untuk tidak disampaikan.

Celine Dion yang terkenal dengan the power of love-nya, maka lidah ini terkenal dengan the power of muncuang-nya. Muncuang, dalam dialetika masyarakat Minangkabau dapat kita artikan dengan mulut. Sering kita mendengar jika seorang yang dalam perkataannya sumbing terdengar oleh orang banyak, maka orang akan membicarakannya misal “duh, muncuang si anu itu” dan lain sebagainya. Dalam lazimnya petuah dan nasehat orang tua di Minangkabau, adat sopan yang sepatutnya kita jaga.

Berjalan peliharalah kaki, berkata peliharalah lidah. Perhatikanlah jalan yang ditempuh, baik itu jalan yang dalam artian jalan yang sering kita tempuh di lebuh maupun jalan yang dalam artian lain yakni jalan kehidupan. Apa sebab, jika kita tidak berhati-hati memperlangkahkan kaki maka kerikil kecil yang tersandung oleh mata kaki dapat membikin kita rebah. Sebab oleh batu kecil kita rebah dan jatuh, sebab perihal dari tingkah dan laku yang kecil dapat menjatuhkan.

Jika kaki yang tertarung tadi dapat kita obat dengan inai. Inai, selain penghias kuku dalam ilmu kesehatan tradisional Minangkabau dapat dipergunakan juga sebagai ramuan pengobatan untuk penyembuhan kuku kaki. Manfaatnya adalah untuk menguatkan kembali kuku tersebut-sebagaimana yang saya dapatkan dari mendiang nenek, beliau dahulu seorang tabib di kampung-. Jika jatuh di dalam gelanggang hidup, seorang dapat surut langkah sejenak, ambil contoh kepada yang sudah, ambil tuah pedoman kepada yang menang. Jika kusut di ujung jalan dapat ia bersisurut ke pangkal jalan. Sebab tiada kusut yang tidak terselesaikan, keruh tidak ada keruh yang tidak terjernihkan. Bagaimanapun kusut bulu ayam, paruh jua akan menyelesaikannya.

Jikalaulah kuku tersebut mudah dicarikan obatnya, tidak dengan mulut yang terdorong terucap. Emas lah yang menjadi pembayarnya. Tidaklah murah. Pepatah mengatakan sebagai berikut.

jan di tabang batang baringin
batang baringin banyak nan sati, sayang
karano pitih kami tidak inigin
budi nan baiak mamikek hati, sayang

Jangan sesekali karena kita memiliki harta berlimpah, seorang dapat saja dengan mudah kita hina dengan perkataan walau meski kita tidak merasakan perkataan tersebut adalah suatu cemooh ataupun hinaan, namun yang akan merasakannya adalah orang yang mendengar ataupun kalimat tersebut disampaikan kepadanya. Bukan kaerna uang yang berlimpah orang akan sayang dan peduli dengan kita. Uang dan harta tersebut hanya sampai manalah sekiranya. Jika beruang dan berhata banyak, barulah orang ingat dengan kita, jika harta tersebut lengah, kemanalah orang yang selama ini sanjung menyanjung kita. Dalam pada itu semua, yang paling terpenting adalah kehadiran budi. Lazimnya budi dapat diartikan serangkaian kemampuan kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, budi, pertimbangan, dan ingatan pada manusia dan organisme lain.

Kita ambil contoh dengan uang yang berlimpah tadi, jika tidak kita ikat dengan kendali akal dan pikiran, dan keluarannya adalah budi yang buruk, maka di dalam lingkungan kita tidak akan diterima dengan baik. Sebab, kita hinakan orang, kita rendahkan martabat orang dengan perkataan kita. Maka muncullah perkataan sumbing di lepau, barangkali begini umpamanya “awak tidak sudi meminjam ke si anu, jika kaya dia, kaya sendiri sajalah, saya tidak akan meminjam barang setahil emas”, “jika ia pintar, pintar sajalah, kami tidak ingin belajar dengannya”. Dan lain sebagainya.

Mulut umpama harimau yang siap kapan saja akan menerkam si empunya mulut. Kewaspadaan dalam selidik atas setiap perkataan. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan melatih rasa dan periksa. Rasa dapat dilatih dari kehalusan kepekaan hati, periksa dapat diasah dengan menimbang baik buruk suatu hal dengan logika akal pikiran.  Dari hati perkara yang akan disampaikan dinaikkan ke otak untuk diperiksa baik dan benarnya, selanjutnya hasil analisa tersebut diturunkan kembali ke hati. Itulah sebabnya rasa dibawa naik periksa dibawa turun. Sampaikan dengan lembah lembut orang mendengar tidak tersinggung.

Yang saya khawatirkan dari mereka yang menuntut ilmu tinggi-tinggi adalah ilmu yang ia tuntut tersebut hanya melatih kecerdasan otaknya saja (IQ), namun telah menumpulkan kepekaan sosial (EQ). Sering kita lengah, terkadang dengan ilmu yang kita peroleh telah mengantarkan kita kepada jenjang yang lebih tinggi lagi. Misalnya saja mendapatkan pekerjaan yang dicitakan dan memperoleh penghasilan cukup. Namun, di lain sisi kepekaan sosial tadi telah terabaikan. Jika uang dapat di cari barang kemanapun jika masih sanggup badan berkuras keringat, namun budi yang baiklah yang akan memikat hati. Dan tiadalah benar kita patut menyombong meninggi hati jika kelak pada akhir kehidupan kita hanya berumah pada luas tanah 1×3 meter saja.

Muncuang memang tidak bertulang, sebagiamana harimau yang begitu liar namun sejatinya dapat kita bawa berjalan beriringan di tengah-tengah kehidupan, caranya  dengan mengikat dan mengendalikan dengan pengendali akal serta pikiran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s