Hubungan Manusia dan Allah

Dalam filsafat Catesian dikatakan bahwa Tuhan tak berhingga, sedang manusia sebaliknya: finite. Manusia baru dapat menangkap ke-takberhingga-an Tuhan kalau mereka mengakui eksistensi Tuhan. Saya bukanlah seorang Cartesian murni yang mengikuti setiap tesis, antitesis, maupun sintesisnya. Satu yang pasti yang selalu saya ingat, bahwa saya sudah mengenal filsafat Cartesian ketika masih duduk dibangku sekolah dasar. Buku tersebut menghiasi ruang baca perpustakaan di rumah. Saya katakan bahwa saya bukanlah pengikut Catersian murni adalah dalam arti mengikuti seluruh pemikiran Rene Descartes, namun setuju bahwa manusia itu finite – terbatas dalam berbagai hal, tentu saja termasuk dalam berpikir. Keterbatasan ini mempunyai arti bahwa manusia tidaklah sendiri, melainkan bersama Tuhan.

Allah yang memberi manusia otak dan pikiran, dan Allah juga yang ‘memprogram’ otak manusia. Sebaliknya saat ini dapat kita lihat pikiran manusia dapat berlawanan dengan kehendak Allah. Perihal perlawanan yang diberikan manusia ini, menurut saya bahwa sains modern saat ini tidak akan mampu menjawabnya. Sebab manusia telah terlebih dahulu buru-buru menegasikan Tuhan itu sendiri.

Peliknya kehidupan seakan kita tidak mampu untuk bersih dan jujur sehingga pembangkangan demi pembangkangan kian acap benar dilakukan manusia. Pengingkaran akan eksistensi keberadaan Tuhan, jika benar tidak mampu dijawab oleh sains modern, akankah kita kembali kepada dunia metafisika atau lebih tepatnya filsafat yang spekulatif.  Dengan kembali kapada metafisika dan alam filsafat agaknya inilah yang dapat menjawab pertanyaan perihal pendurhakaan manusia terhadap Allah terjadi.

Dalam filsafatnya, Rene Descartes berpendapat bahwa untuk meneliti suatu masalah, kita harus ‘membumihanguskan’ terlebih dahulu prasangka terburu-buru terhadap masalah tersebut lalu mulai memecah masalah tersebut ke dalam bagian-bagian mendetail untuk kemudian dikembangkan menjadi bagian yang lebih kompleks. Premis dari proses filsafat Rene Descartes adalah: Aku berfikir maka aku ada.

Saya berfikir walaupun itu mungkin saja keliru, namun tidak ada salahnya tesis tentang hubungan manusia dengan Tuhan saya coba lontarkan. Jikapun itu keliru, saya akan kembali kepada pangkal kaji biar tiada lelas sesat dan tiada benang kusut yang semakin karut.

Saya melihat hubungan manusia dengan Tuhan seperti hubungan komputer, laptop, gadget/smartphone dengan server. Analoginya demikian, kita sebagai komputer, laptop, gadget/smartphone yang senantiasa tergantung terhadap server dalam hal ini berperan sebagai Tuhan. Saya persempit lagi ruang analogi ini, pada smartphone berbasiskan Android misalnya. Pengguna akan tunduk dan patuh terhadap EULA (End User License Agreement) sebagai syarat untuk menggunakan dan mengakses server tersebut. Sebagaimana lazimnya teknologi cloud computing yang saat ini sudah diterapkan oleh perusahan-perusahaan teknologi, kita tidak akan tahu persis dimana letak posisi server yang akan kita akses tersebut. Entah server itu di Singapura, Amerika, maupun dibelahan negara lain server itu berada. Kita sendiri juga begitu, mengakses server tersebut dengan perangkat kabel, nirkabel namun kita benar-benar tidak tahu persis dimana server tersebut berada namun setiap permintaan data yang kita inginkan selalu diberikan oleh server tersebut.

Sepatut dan seharusnya kita sebagai manusia senantiasa bergantung kepada server android tersebut untuk senantiasa terhubung untuk mengakses data, perbaikan keamanan. Namun, upaya pembangkangan serta menerobos sistem dan aturan baku kita lakukan. Padahal server tersebut telah mengingatkan dari awal ketika kita baru hendak akan terhubung dengannya, yakni bahaya kerentanan disusupi malware, trojan, serta program jahat lainnya jika kita mengakses server lain.

Akibat dari pembangkangan ini adalah kecelakaan, kita telah terjangkiti virus serta program perusak lainnya. Sehingga hubungan kita dengan server yang seharusnya-dalam hal ini Tuhan tadi-menjadi tidak baikl lagi, sebab telah terjadi pembangkangan dan persekutuan dengan server lain.

Dengan hanya menghubungkan diri kepada server Allah SWT, kita telah mendapatkan jaminan update berupa path terhadap aplikasi-aplikasi yang kita gunakan, dalam hal ini adalah jasmani serta rohani. Lima kali dalam 24 jam path tersebut senantiasa diberikanNya. Lazimnya aplikasi yang senantiasa dipakai, tidak ada jaminan  100% aman dari serangan. Setiap hari ada saja ditemukan macam dan ragam virus yang menyerang yang akan merusak perlahan-lahan jika tidak lekas dilakukan update. Jika virus ini dibiarkan bersarang lebih lama, virus ini akan semakin menjangkiti dan dikhawatirkan akan mejangkiti pikiran dan menjadikannya sulit untuk membedakan baik dan benar sehingga pembangkangan tersebut begitu nyata ada padanya.

“Katakanlah: Allah itu Satu”*) ini adalah suatu pernyataan yang tak terbantahkan lagi, langsung disampaikan oleh Allah SWT dalam kebijakan firmannya. Pada zaman Nabi Musa AS, filsafat ketuhanan 1=1 sebagai tesis. Setelah Nabi Isa AS timbullah tantangan berupa 3=1, sebagai anti-tesis. dengan Nabi Muhammad SAW terbentuklah sintesis, yakni kembalinya filsafat 1=1 dengan lebih sempurna dan lebih kaya isinya daripada semula.

Tanpa perbaikan  path terhadap aplikasi, perangkat akan terjangkit virus dan  akan perlahan lumpuh, begitu juga dengan manusia.

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qoof: 16).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s