Rantau

Dalam masyarakat Minangkabau, cara berpikir rasional membawa perkembangan dinamis. Melalui perantauan masyarakat menyalurkan dan melembagakan perkembangan. Seseorang Minangkabau harus merantau untuk memperkaya pribadinya sendiri dan masyarakatnya, alamnya, yang dengan demikian selalu mengalami suatu perkembangan ke jurusan dan keadaan yang lebih sempurna.

aku merasakan kekosongan yang begitu sunyi dalam kehidupan yang semakin beranjak menua, demam dan ngilu hari lalu peluh bersibuah degup jantung yang entah. Sepanjang malam aku meratapi kesunyian melulu. Ada ruang yang kosong yang ngiang dan ngilu begitu saja ia sepanjang malama tiada hilang dalam ruang-ruang.

Meruang jalan panjang sepanjang jalan tampak mencipta jarak meruang makin memanjang. Jalan pergi, jalan perantauan yang sebenar-benarnya perantauan. Jalan dimana setapak pijak kaki akan perlahan dilangkahan, inilah jalan perlangkahan yang handak ditempuh.  Duh, taratak retak, retak taratakku. Yang berlebuh pada jalan sunyi di taratak sunyi, yang bertepian mandi di pincuran bambu.

Perlangkahan yang semestinya pada hakikatnya rantau, jauh dari ranah dari tanah pangkal segala sesal dan asal ditanggalkan pada hari-hari yang murung. Perasaan sepi terkurung dan semestinya diri yang begitu hakiki, diri yang zahir semestinya aku bebaskan dalam segala keterasingan.

Dihiruk serta pikuk dunia, aku senantiasa memanjatkan doa kehadirat Illahi. Satu yang senantiasa dipintakan, jangan batal tarekat pertaubatan ini ditengah huru dan hara dunia. Dalam hiruk itu, aku seakan asing dan mengasingkan diri kepada entah. Merantaukan batin pada lahir yang sersembunyi, merantaukan lahir mencari hakikat batin nan tersingkap.

Hakikat perantauan, bukan perihal merantauhkan diri semata diri, jauh, pada perantauan batin, pada zat diri yang lahir pada diri nan batin.

Berkurung badan yang terkungkung membuka diri, sedang berhijab batin manakala tersingkap.

Inilah rantau, rantau dari segala rantau. Mahabah dari segala mahabah, diri yang sebenar diri, serta perlangkahan yang sebenarnya sebuah hakikat perjalanan diri.

Kemanakah almanak takdir membawa diri serta tadir, hanyalah rahasia gaib yang mesti disingkap dengan makrifat seutuhnya hingga pada puncak makrifat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s