Taratak Retak; Sebuah catatan kaki

Taratak Retak; Sebuah catatan kaki – Sejatinya tulisan ini merupakan catatan kaki ataupun hal yang dirasa perlu diketengahkan. Benar bahwa pada waktu ini seakan gamang serta kerisauan menghantui membikin ngilu melulu pada hari lalu serta hari esok meruang dalam retakan nasib buruk. Sebagaimana lazimnya dalam ruang perenungan dalam kamar sunyi, jiwa-jiwa yang gelisah resah begitu aku hadiahi juga dengan dendang talang seruas, perihal dendang sakit hidup yang dijalani. Benar hidup tiadalah pantas untuk ditangisi, sebab dunia bukanlah tempat untuk meratapi hidup yang hanya tak seberapa adanya.  Teringat akan diskusi dengan seorang karib, seorang mamak yang arif lagi bijaksana.

Suatu waktu kita berdiskusi perihal situasi serta kondisi bangsa Indonesia saat ini, kesimpulan menarik adalah situasinya tak memungkinkan bangsa Indonesia bangkit untuk saat sekarang ini. Kerusakan ada dimana-mana, penyelenggara negara, Pemimpin formal, Pemimpin informal, birokrasi, pengusaha, bahkan rakyat, ormas, orpol, LSM, dll semua terjangkit penyakit.
Bangsa ini baru akan bangkit bekerja dengan baik saat penyakitnya sudah sirna ditelan oleh budi pakerti luhur semua komponen dan sendi bangsa. Pandangan umum ini sering kali saya amati dan diskusikan dengan karib tersebut. Lantas bilamana dipersempit menjadi hanya wilayah Minangkabau saja. Bagaiamana kondisi Minangkabau terutama kondisi masyarakatnya dalam kondisi yang serba tiada menentu tersebut.

Jikalah benar sungguh masyarakat Minangkabau dinamis, lincah serta lihai dalam bergelut seirama dengan perubahan-perubahan yang datang silih berganti sebagaimana pepatahnya mengatakan “sekali aie gadang, sekali tapian barubah“. Maksudnya jelas bahwa sekali bahwa perubahan itu pasti, perubahan itu memang adanya. Dalam pada itu, hendaknya sejalan dengan perubahan tersebut berupa sendi pokok utama seharusnya tiada benar ditinggalkan maupun di buang. Jikalaupun ditinggalkan maka yang pada akhirnya melapuk serta membusuk oleh zaman yang menggilas. Jika berkisar duduk, berkisar dari tikar yang sehelai. Jika berkisar berdiri, berdiri dari tanah yang sebinggkah. Sebagaimana pantun mengatakan

orang Magek berlayang-layang
orang Kamang kumparlah tali
biarlah langit hendak terbang
tambangnya  erat pada kami

Itu satu, pembukaan pada catatan kaki ini. Selanjutnya, sering saya pulang kampung melihat kondisi masyarakat, melihat perekonomian dan banyak hal lain yang saya amati. Setelah mengamati, sebagaimana lazimnya kebiasaan yang sudah-sudah yakni merenung mencari pangkal permasalahan tersebut. Perihal kampung saat ini saya melihat seakan tiada ramah untuk ditinggali ataupun ranah perantauan yang telah memanggil untuk mendidik mereka. Kian hari saya perhatikan kampung semakin sunyi, yang menghuni kampung hanyalah kaum tua, yang tiadalah benar sanggup bagi mereka untuk merantau. Dimana aktifitas mereka sehari-hari adalah berladang, bertani, ada pula yang beraktifitas sebagai pegawai sipil, tidak banyak juga sebagai pengangguran.

Namun nyatanya bahwa kondisi perantauan saat ini jauh berbeda dengan kondisi perantaun pemuda Minangkabau dahulu. Dimana sebagaimana kita paham, dengan pendidikan surau yang menjadi cikal bekal dalam menempuh perantauan. Dengan pendidikan surau tersebut, ilmu beladiri, seni tradisi, ilmu agama, tiada lupa ilmu diplomatis hingga nafas-nafas perantauan yang sudah mulai dihembuskan untuk memantik api semangat bahwa kampung mesti lekas ia tinggalkan untuk menimba diri. Pendidikan surau nyata ada sebagai wadah pendidikan karakter manusia Minangkabau terutama kepada kaum laki-laki yang padanya perantauan fisik serta batin akan dilakukan.

Kondisi tersebut saat ini sangat bertolak belakang dengan kondisi perantauan saat ini, kita mesti jujur bahwa sistem pendidikan yang digunakan saat ini yang secara utuh telah melakukan perusakan jati diri bangsa. Pelemahan nilai budaya luhur serta faktor lain hingga mengakibatkan hilangnya jati diri seorang anak bangsa.

Sejenak kembali kepada Minangkabau, di Minangkabau ada akal yang menjalar dan budi yang merangkak. Ada basa-basi sebagai perwujudan tatakrama pergaulan sehari hari. Namun sangat disayangkan bahwa para terpelajar malah menjadi destroyer lokal sebagai agen interlokal. Restrukturisasi kultur yang tidak bermuatan feodalistik, atau reevolusi kebudayaan, membangun fundamental filosofis kebudayaan dalam bernegara dan negara dalam budaya.

Selanjutnya imperialis bertameng kapitalis dan feodalis memakai tombak kaum terpelajar. Sementara pada sisi lainnya, bangsa di bumi ini dalam pengertian saya yang singkat, ada bangsa manusia, bangsa tumbuhan dan bangsa hewan. juga dilengkapi dengan penunjang kehidupan berupa apa yang ada di perut bumi dan dipermukaan bumi seperti air dan udara.
Maka bangsa yang saya maksudkan adalah the human nation. Bukan nation dalam pengertian state’s yang mengurung kita dalam tempurung atau sekat-sekat bernama negara.

Universalitas human nation merupakan impian mulia seorang Ibrahim Dt Tan Malaka. Konsep nation dari Ibrahim Dt. Tan Malaka dapat kita baca pada tulisan beliau mengenai ASLIA (Asia Australia).

Konsep the human nation  ini selaknya menyemesta bukan meng-khalifah. Tata kelola dan pemanfaatan mesti merahmati seluruh alam dan penghuninya jelas ini sebagai perjuangan dalam konsepsi al Haqum min rabbiikum. Rahmatan lil ‘Alamiin.

Saya rasa tulisan ini sudah agak melebar, kita kembalikan kepada pokok kaji perihal kampung yang semakin sunyi. Kembali saya melihat keengganan para kaum terpelajar yang sudah tinggi ilmunya tadi untuk kembali ke kampung. Saya melihat sebagaimana keenganan mereka untuk memegang gagang pangkul ataupun menginjakkan kaki di tanah berlumpur yang kita namakan sawah tersebut. Mestinya kaum terpelajar tersebut bahu-membahu untuk membangun kampung dengan ranah perantauan yang sesuai dengan sendi kehidupan budaya luhur.

saya rasa dengan hadirnya kaum terpelajar tersebut turun bersama masyarakat mengelola kembali hutan serta lahan tidur yang selama ini terbengkalai akan membangkitkan taraf hidup yang lebih baik. Apa sebenarnya yang tidak mungkin jika dalam kebijakan firman Allah SWT mengatakan bahwa Ia tidak akan merubah nasib suatu kaum terkecuali kaum tersebut merubah nasib mereka sendiri. Jikalaulah memang rantau membikin pandir alih-alih menjadi destroyer lokal namun pada nyatanya sebagai agen interlokal. Jika begitu sebaiknya kaum terpelajar seperti ini tidak perlu rantau, mestinya di kampung saja. Sebab rantau telah membikin mereka pandir.

Akhir kata, sebelum tulisan ini saya akhiri. Dari tulisan ini saya inginkan keinginan bersama serta kesadaran bersama bahwa memang telah ada kerusakan dimana-mana. Telah terjadi gerusan budaya, agama, serta nilai luhur. Jikalaulah memang begitu adanya, patutnya kita kembalikan nilai tersebut kepada fitrah semula. Perubahan serta kesadaran bersama itu tentu tidaklah mudah. Bahwa rambut benar sama hitamnya, namun didalam itu tiadalah kita paham. Saya sebagai manusia biasa, hanyalah paham yang dilahir saja, yang tampak saja saya dapat memahaminya, di batin itu tentu urusan Allah. Namun begitu,  yang lahirpun dapat kita jadikan pedoman bagi nan batin. Sebab wajah lahiriah gambaran cerminan hati.

Dengan itikat serta niat baik bersama suatu perubahan dan perbaikan tentu nyata adanya. Perlu kesadaran bersama, jika itu sulit untuk dilaksanakan maka dapat memulainya dari kesadaran diri pribadi terlebih dahulu, selanjutnya mengajak keluarga hingga masyarakat terdekat.

Akhir kata, rantau pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan aktualisasi. Rantau dapat dikatakan dengan bahasa hijrah. Rantau tiadalah hanya rantau dalam bentuk fisik dimana menjadi seorang pengembara,. Namun, ada perantauan batin, perantauan pikiran.

Jika tulisan ini lahir dari segala kegelisahan, bagi saya ini merupakan ranah perantauan pemikiran yang senantiasa merantau mencari kebenaran hakiki dari sunyi yang abadi. Kebenaran hakiki yang bersumber dari Illahi Rabb.

Merantaulah hingga kampung memanggil pulang. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s