Harmonisasi Masakan

Dua minggu kemarin ini saya mengunjungi sebuah kantin yang tidak berapa jarak dari labor komputer tempat biasa saya bermain. Disana ada menu yang sangat baik dan itu terbukti dengan cepat habisnya menu tersebut menjelang pukul 12.00 siang. Menu tersebut adalah sup. Sesampai di kantin tersebut, saya pesan satu porsi sup dan karena lambung lumayan kosong saya pesan juga telur mata sapi setengah matang.
Menunggu beberapa saat akhirnya pesanan saya sampai. Saya coba cicipi kuah sup tersebut. Ketika mencicipinya, saya merasakan rasa yang tidak asing, mengarah kepada rasa sup yang dibikin oleh mendiang kakek.
Selanjutnya, saya coba memberikan beberapa sendok cabai kedalam mangkuk sup tersebut. Disinilah baru saya merasakan sebuah ketidakseimbangan antara kuah sup tersebut dengan cabai giling yang ditambahkan tersebut.
Saya coba analisa, apa yang salah sehingga ketidaksetimbangan ini terjadi padahal sup tersebut sangatlah enak.
Akhirnya, setelah menganalisa sembari menyantap sup tersebut, sampailah saya pada kesimpulan bahwa cabai yang digunakan berasal dari cabai yang digiling menggunakan mesin dan diberikan beberapa tomat.
Cabai yang digiling menggunakan penggiling mesin (bukan blender) akan menghasilkan aroma yang agak tengik. Itulah sebabnya cabai yang saya masukkan tadi mengganggu dan mengacau keseimbangan bumbu rempah yang telah ada tersaji dalam hidangan tersebut.
Seusai makan, sebelum membayar maka saya sempatkan berdiskusi dengan pemilik kantin tersebut. Saya sampaikan bagaimana enaknya sup buatan beliau namun ada sedikit yang mengganggu dan harus diperbaiki. Dalam paham saya bahwa benar yang ada pada orang, lalukan oleh kita. Maksudnya saya adalah membenarkan apa yang telah ia buat, bahwa sup tersebut memang sangat enak. Selanjutnya, seni diplomatik-nya adalah menyampaikan atau orang Minang biasa menyebutnya dengan melalukan. Melalukan apa yang terasa didalam diri. Maka saya sampaikanlah masukan-masukan serta catatan selama menikmati sup tersebut.
Tidak disangka, beliau tersenyum dan melayangkan jempol dan sumringah sekali tersenyun sembari mengucapkan terimakasih dan akan berjanji untuk merubahnya.
Pagi ini, saya kembai ke kantin ini menikmati kembali semangkuk sup. Ada yang telah berubah dalam sajian sup tersebut. Bahwa cabai yang digunakan tidak lagi seperti dua minggu yang lampau. Sebuah harmoni keseimbangan saya rasakan dalam masakan tersebut.
Seusai makan pagi ini, pemilik warung mengucapkan terimakasih dan mengatakan bahwa apa yang saya sampaikan dua minggu yang lampau itu adalah kata sebenarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s