Saya lahir di Nagari Simawang, di Jorong Ombilin ditepian danau Singkarak, riak-riak air danau dan panas yang berdengkang serta silau ikan Bilih bergerak lincah di kancah danau itulah kampung kecil tempat tanah tumpah darah 24 tahun silam. Di depan rumah merupakan jalan lintas sumatera yang senantiasa dilalui oleh berbagai macam jenis kendraan. Di samping itu, di samping jalan berjarak lebih kurang 5-10 meter terdapat jalur rel kereta api bekas peninggalan Belanda untuk mengangkut arang hitam dari kota kecil bernama Sawahlunto. Pada tahun 1867 Ir. Willem Hendrik de Greve, dalam penelitian De Greve diketahui bahwa terdapat 200 juta ton arang hitam yang terkandung di sekitar aliran Batang Ombilin, salah satu sungai yang ada di Sawahlunto. Sejak penelitian tersebut diumumkan ke Batavia pada tahun 1870, pemerintah Hindia Belanda mulai merencanakan pembangunan sarana dan prasarana yang dapat memudahkan eksploitasi arang hitam di Sawahlunto. Selanjutnya Sawahlunto juga dijadikan sebagai kota pada tahun 1888. Dulu sempat ada monumen untuk menghomati jasa-jasa De Greve yang berada di Arau, dibawah jembatan Siti Nurbaya saat ini, atau persis di depan museum Bank Indonesia tersebut.

Di penghujung tahun 90an memasuki tahun 2000, saya masih dapat melihat aktifitas kereta api mengangkut arang hitam tersebut menuju pelabuhan teluk bayur. Nasionalisasi tambang tersebut saat itu di kelola oleh PT. Bukit Asam. Tidak sedikit ingatan saya akan kejadian-kejadian kecelakaan yang terjadi di Ombilin. Mama seorang bidan, rumah kami waktu itu tepat di belakang puskemas. Bisa dikatakan saat membuka pintu rumah, maka sejengkal jarak kedepan adalah puskesmas tempat mama berkegiatan mengabdikan diri sebagai bidan. Saya ingat, pernah suatu ketika satu keluarga tewas dalam sebuah kecelakaan dimana mobil yang dikemudikan tersebut menghambur kedalam danau. Tragis tidak ada yang selamat. Seluruh jenazah dibawa ke puskesmas untuk di data dan identifikasi. Saya yang waktu itu kira-kira lima tahun, sedang asyik bermain dengan mama di puskesmas. Lekas mama menggendong saya menuju kerumah untuk mengamankan saya terlebih dahulu. Pintu rumah lekas-lekas dikunci oleh beliau barangkali agar saya tidak melasak. Dalam pada itu, bagaimanapun mama melarikan saya ke dalam rumah, saya dapat melihat langsung kejadian tersebut sebab pintu rumah transparan, dari kaca polos. Dapat saya lihat waktu itu, wajah kecemasan mama sesekali menoleh kepada saya-anaknya yang gusar dan cemas-. Kelak dikemudian hari, kejadian ini juga yang membuat Papa menjadi cemas dan takut untuk membawa anak-anaknya bertamasya ataupun jalan-jalan sekeluarga menggunakan mobil.

Lain lagi kejadian-kejadian yang saya anggap menyeramkan. Pernah kejadian kecelakaan kereta api yang menimpa seorang warga, karena ketidakhati-hatiannya, naas baginya kereta api menyambarnya dan mengakibatkan kepalanya putus. Bidan yang menangani waktu itu adalah mama, mama yang menjahit kepala dari korban tersebut.

Simawang terdiri dari delapan jorong masing-masing Jorong Baduih, Jorong Batu Limbak, Jorong Darek, Jorong Balai Gadang, Jorong Ombilin, Jorong Padang Data, Jorong Piliang Bendang, Jorong Pincuran Gadang. Simawang terdiri dari enam suku. Dimana terdapat empat suku induk, dan dua suku pecahan. Suku induk tersebut adalah Payobada, Piliang, Simabua, dan Dalimo, sementara juraiannya atau pecahannya adalah Bendang dan Tanjuang. Saya sendiri merupakan waris keturunan tuo nagari, dimana buyut saya dulunya merupkan sapiah balahan dari kerjaan Pagaruyuang yang ditugaskan untuk menyelesaikan sengketa di nagari-nagari Minangkabau. Pendeknya, Simawang-Bukik Kanduang merupakan sebuah langgam dari langgam nan tujuah dalam administratif pemerintahaan kerjaan Pagaruyuang.

Lantas apa hubungan pembuka cerita ini dengan judul cerita yang sedang saya ketengahkan? Tentu ada, mari kita beranjak ke Padang Data

Beranjak kita dari Ombilin, berjalan ke arah Batusangkar sekitar 5 km terdapat Jorong Padang Data, sebagaimana dalam sebuah pantun lama

berburu ke Padang Data
dapat rusa belang kaki
berguru ke palang aja
bagai kembang tak jadi

di Padang Data merupakan kampung papa, dalam tarikh sistem kekeluargaan yang berlaku di Minangkabau, keluarga papa merupakan bako bagi saya. Bako adalah hubungan kerabat anak dengan adik atau kemanakan kontan dari orang tua laki-laki. Saya lahir tahun 1992 sedangkan kakek wafat tahun 1990 waktu itu kakak saya no tiga masih umur hitungan bulan dan hari. Kakek sakit keras, darah tingginya kumat. Papa berangkat menuju Padang Data namun sesampai di rumah sudah ia dapati orang tuanya tersebut sudah wafat. Saya sering mendapatkan kisah-kisah heroik kakek selama menjadi pejuang kemerdekaan. Kegagahannya, dan jiwa kesatrianya.

Hanya nenek yang sering saya jumpai waktu kecil, saya sering minta di bawa ke Padang Data untuk berkunjung ke rumah nenek pada hari libur, terutama hari sabtu dan minggu. Di hari minggu saya bisa menikmati lezatnya masakan warisan kakek yang senantiasa di jual di setiap hari minggu. Kebetulan di depan rumah papa ada lepau yang sudah diwariskan oleh kakek. Setiap hari minggu pagi, lepau tersebut ramai benar dikunjungi oleh baik masyarakat setempat maupun pelanggan. Terkenal dengan sebutan sup sutan harun. Sangat saya sesalkan bahwa pelebaran jalan yang terjadi beberapa tahun silam telah menggusur lepau tersebut.

Suatu waktu, saya pernah diberikan nenek nasi putih tanpa lauk pauk, diberikannyalah saya minyak kelapa yang disiram sedikit kedalam pinggan yang berisi nasi tadi, lantas ia taburi dengan sedikit garam. Nenek meminta saya menikmati menu santap makan tersebut. Sembari saya menikmat sesuap demi sesuap nasi tersebut, nenek mulai berkisah. Beliau berkisah mengenai kesulitan-kesulitan yang di alami ketika menghadapi perang. Logistik, kebutuhan sandang dan papan sangat susah. Untuk makan saja sangatlah susah. Salah satu alternatif menikmati lezatnya nasi tersebut adalah dengan memberikan sedikit minyak kelapa dan sedikit taburan garam. Jadilah saya menikmati santapan tersebut dan mendapatkan pelajaran moral penting mengenai pentingnya bersyukur atas karunia dan rezeki yang didapatkan. Mesti dengan nasi putih dan minyak kelapa serta garam tersebut, mesti bersyukur dan bertahan di dalam tekanan kehidupan dan harus mampu melewati masa-masa sulit. Jangan mengeluh senantiasa bersitahan dalam getir hidup.

Akhir tahun 90an, tepatnya tahun 1999 selepas reformasi. Mama pindah ke kampung uwo-sapaan kami terhadap orang tua mama-. Disini saya kembali mengenal sesosok perempuan tangguh dan kuat. Beliaulah Uwo Jebok, seorang dukun beranak dan ahli ramuan-ramuan tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Biasanya orang kampung menyebutnya dukun Jebok. Baik di pekarangan rumah, maupun di ladang, uwo banyak sekali menanam berbagai jenis tanaman yang berfungsi sebagai pengobatan.

Sering saya melihat di rumah banyak pasien uwo berdatangan, dari ibu-ibu yang sudah lama menikah namun belum memiliki keturunan, sampai kepada orang yang terkilir.

Jika membayangkan sosok uwo, saya dapat bayangkan sosok yang keras, tegas, pemberani. Sirih pinang tidak pernah lepas dari mulutnya. Uwo selalu mengunyah sirih dan pinang, ketika sedang berbincang-bincangpun uwo sesekali terlihat memasukkan sadah dengan ujung jempolnya sembari mendongakkan kedalam langit-langit mulutnya. Kelak dikemudian hari barulah saya dapat memahami makna sebuah sirih dan pinang dalam sistem tatanan demokrasi baik di Minangkabau, maupun secara umum.

Beruntung saya dapat dibesarkan dalam sebuah ranah dimana semiotik dan simbol-simbol memegang peran penting dalam menanta kehidupan masyarakat. Norma serta hukum di atur sedemikian rupa. Kata memainkan perannya. Melihat alam dengan lukisannya, alam terkembang jadikan guru. Begitulah saya dibesarkan menjadikan alam yang terkembang sebagai guru, memandang alam malakut. Bertafakur akan keberadaan semesta yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Uwo, sebagaimana yang telah saya singgung tadi. Beliau pandai mengurut, ia menggunakan minyak kelapa untuk mengurut pasiennya. Minyak kelapa di campur dengan beberapa akar-akaran yang beliau pilih sebagai pengobatan. Sekali saya pernah belajar mengurut kepada uwo, Alhamdulillah kepandaian tersebut saya dapatkan, mesti tidak sepandai beliau. Di sebalik itu, yang saya sesalkan bahwa saya tidak dapat belajar banyak kepada beliau. Saya tidak dapat belajar banyak bagaimana meracik berbagai ramuan yang digunakan untuk pengobatan. Sangat saya sesalkan namun patut saya tafakur. Umur beliau sudah lanjut tua, sementara saya masih SD, dan baru menginjak SMP. Masa dimana saya masih nakal dan sering berpetualang ke rimba.

Rindu mesti dirayakan sebagai wujud mengenang sebuah lipatan waktu, mengungkai kisah lama biar tidak membangkai hingga abai. Banyak cara agar segala kenang kembali terkenang, agar segala ingatan kembali teringat agar segala rindu singgah di serambi menghadirkan cerita-cerita tersendiri. Rindu adalah sebuah potret memorabilia masalalu yang dengannya sebingkai melankolia menjadi haru dan hari sekaan membisu mematung di sebuah sudut tunggu kisah lalu.

Terkadang, jika rindu terhadap uwo, saya ingat cara pengobatannya. Katakanlah kondisi kesehatan saya sedang menurun, terjadi panas di dalam dan selera makan sedang tidak baik sebab lambung kembali bermasalah. Maka akan saya ambil beberapa helai ataupun agak segenggam daun bunga Kembang Sepatu untuk kemudian saya remas dengan air ngilu kuku. Remasan daun bunga Kembang Sepatu itu saya minum.

Saya ingat bulan kemarin, bulan November. Pada suatu hari perjalanan ke kota Sawah Lunto bersama rombongan saya ingat itu tanggal 10 November tahun 2016. Sebelum masuk ke kota Sawah Lunto untuk menginap, saya mengajak kawan-kawan menikmati makan malam di sebuah warung nasi yang menyediakan dendeng kariang. Yang menarik dalam penyajiannya adalah dendeng kering tersebut di asap di atas tungku kayu serta di lumuri minyak kelapa.

dendeng_kariang

gurihnya dendeng kariang yang telah diasap diperapian tungku kayu menghasilkan aroma khas, ketika ditingkah dengan siraman minyak kelapa menambah harum serta gurih yang tak dapat diceritakan. Apalagi menyantapnya dengan samba lado dan nasi dari beras Solok yang terkenal itu.

Saya meminta kepada pemilik warung untuk memberikan saya sepinggan kecil-tadah- minyak kelapa.

minyak-karambia

muncul seketika itu sebuah perasaan yang begitu sangat gembira dan bahagianya, saya seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah mainan yang sangat bagus dan tak ingin dilepaskan. Sampai-sampai teman rombongan saya jadi heran dengan tingkah saya.

Tentulah saya sangat senang malam itu, minyak kelapa tersebut telah menghadirkan dua sosok orang tua, nenek dan uwo yang saya kagumi. Seakan mereka hadir dalam makan malam sembari memperhatikan tingkah saya sedang menikmati makan malam, sesekali mengatakan tambah lah cucu, tambuah lah nasi. lamak bana makan nampaknyo cucu kami (tambah cucu, tambah lah nasi itu, enak benar makan nampaknya cucu kami).

Merayakan rindu adalah wujud terimakasih kepada yang memberikan kenangan manis terhadap kehidupan yang dijalani. Saya berterimakasih kepada mereka yang telah memberikan pelajaran moral hidup berkehidupan menjadi manusia seutuhnya, sebagiamana dalam paham saya. Bahwa saya hanyalah seorang pemuda biasa, seorang manusia menapaki hidup dan kehidupan untuk menjadi manusia seutuhnya. Saya sampaikan doa teruntuk mereka yang telah pergi.

Menikmati malam malam dengan beras solok sebuah kenikmatan apalagi ditingkah sambalado dan minyak kelapa, sebagaimana lagu Bareh Solok menyampaikan dendang bareh solok, bareh tanamo, lamak rasonyo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s