Mandaki jalan ka Pandai Sikek
Manurun jalan ka biaro
Dima hati indak ka maupuek
Awak takicuah

Jikalaulah komunal mendaki jalan ke pandai sikek, bolehlah kita mendaki jalan  ke Sungai Torok-dalam pelafalan saat ini lazim dengan sebutan Sungai Tarab-. Mendaki jalan ke Sungai Tarab hendak menuju Payokumbuah. Jika mendaki jalan ke Pandai Sikek dari Padang Panjang,  di sisi kanan akan kita jumpai gunung Marapi dan pada sisi kanan akan kita temui gunung Tandikek serta Singgalang, sebuah suguhan pemandangan alam nan tiada tara. Begitu juga jika mendaki jalan ke Sungai Torok, di sisi kanan akan terlihat gunung Bonsu-Kabupaten Lima Puluh Kota- di sisi kiri akan kita temui gunung Marapi-Kabupaten Tanah Datar-. Mendaki jalan ke Pandai Sikek menurun jalan ke Biaro, maka Mendaki jalan ke Sungai Torok bersimpang jalan menuju Tanjung Alam, sampailah kita di Piladang kabupaten Limo Puluah Kota.

Pada suatu ketika, saya hendak menuju Padang Jopang nun di Lima Puluh Kota ingin menemui karib-kerabat yang  sudah lama tidak berjumpa. Perjumpaan kami tiadalah saya paham selain takdir dan izin dari Allah SWT yang mempertautkan kembali simpul buhul tali temali sebuah kekerabatan nan sudah lama tak bertaut. Tak terbetik dan terberita maka bertemu jualah kami kembali. Keluarga yang hendak saya temui ini merupakan garis keturunan secara patrilineal. Singkatnya merupakan keturunan dari kelaurga suami nenek buyut. Jika dijabarkan sudah berapa keturunan saat ini maka saya perkirakan pastinya adalah delapan keturunan.

Hari minggu tepatnya tanggal 25 Desember dalam tahun 2016 atau 26 Rabiul Awal 1438  dalam penanggalan hijiriah.  Berangkatlah saya pagi itu pukul 06.45 wib. Rute yang saya tempuh adalah dari Batusangkar menuju Sungai Torok, jalan mendaki serta awan yang turun merendah, rinai kabut menyelimut gigil mendakap sebisanya. Matahari mestinya sudah tergelincir jauh dari ufuk timur sana namun masih berkelimun dalam kabut. Hamparan sawah membentang sepanjang tepi jalan raya, orang-orang ladang berkelimun dalam sehelai kain sarung turun ke sawah, orang-orang bergegas membawa kendaraan  memintas jalan memangkas waktu.

Dari Sungai Torok hingga menuju Tabek Patah sebentar hanya jalan mendatar selebihnya mendaki. Terniatlah untuk singgah di panorama Tabeh Patah namun urung saya kabulkan terniat tersebut. Dari Tabek Patah bersimpang jalan, ke kiri menuju Baso serta Bukit Tinggi, ke kanan jalan menuju Tanjung Alam. Berbelok saya ke kanan menuju Tanjuang Alam sesekali melambatkan kendaraan menikmati indahnya hamparan pemandangan yang terlukis indah sejauh mata memandang, tiadalah sebuah kalimat terindah selain zdikir senantiasa terucap menyaksikan keagungan penciptaan Allah SWT.

Sesekali saya mencoba merubah lirik lagu ayam den lapeh menjadi

mendaki jalan ke Sungai Tarab

menurun jalan ke Tanjung Alam

kepada adinda hati penuh harab

cinta nan penuh sungguh dendam.

Dari Tanjung Alam tidak berapa lama perjalanan sampailah di sebuah batang beringin gadang, setelah saya amati, rupanya beringin gadang tersebut adalah batas wilayah. Barangkali dahulunya ini merupkan batas antara luhak Tanah Datar dengan Luhak Lima Puluh Kota, ini hanya reka nalar saya pribadi, perlu pembuktian lebih lanjut seperti berdiskusi dengan penghulu nagari Tanjung Alam dan sebagainya.

Batang beringin dalam filosofi kehidupan masyarakat adat Minangkabau mempunyai makna filosifi, lebih kurang seumpama beringin gadang di tengah koto, batangnya tempat bersandar, daunnya rindang tempat berteduh dari kepanasan ……

Tidak jarang kita menemui pohon beringin gadang di beberapa daerah di Sumatera Barat yang diantaranya barangkali sudah berumur ratusan tahun. Salah satu pohon beringin tertua ada di tengah kota Batusangkar.

Dari Tanjung Alam perjalanan berlanjut ke Piladang, Payakumbuh jalannya lurus, bersimpang jalan di piladang, biar genting asal jangan putus, tinggalkan sehelai benang.  Pukul 07.30 sampailah saya di Ngalau, di sana berhenti sejenak sembari melihat-lihat keramaian pagi di hari minggu sembari memesan sepiring lontong pical. Payakumbuh memang cukup aman dari aktifitas kegempaan namun tidak untuk angin ribut, sebagaimana pagi ini, angin bertiup cukup kencangnya.

Sesekali saya tertawa mendengar sekumpulan anak-anak menyoraki supir bus yang melewati jalan raya Om Telolet Om serta di balas bunyi klakson dan gelak tawa  supir bus. Selepas sarapan, perjalanan saya lanjutkan menuju Padang Jopang, rute yang saya tempuh adalah melalui jalan Tan Malaka, sejadinya hendak menuju Donguang-donguang namun karena tidak  sering tempuh jalan tersebut sampailah saya di Simalonggang, berdesir darah serta berdetak di dalam hati, barangkali saya akan melewati Taeh, benar saja, ketika melewati Taeh secepatnya saya pacu kendraan untuk lekas-lekas meninggalkan daerah tersebut. Beruntung lekas saya sampai di Mungka, itu berarti tidak berapa jauh lagi saya sampai.

Sampailah saya di Padang Jopang, di sebuah warung kopi bertemulah dengan saudara tersebut. Ditemani segelas kopi sedikit gulanya, kita mengobrol seputar kehidupan, perjalanan hidup, kisah hidup, dan mengenai politik terutama kondisi politik saat ini sesekali kita bahas.

Dari warung kopi saya melanjutkan perjalanan menuju kebun beliau, melihat-lihat kebun cabai yang sedang tumbuh, diselingi dengan pohon jeruk manis. Tujuan kami ke ladang terutama adalah ingin melihat buah durian, manakala jika beruntung tentulah dapat kita menikmati durian. Beruntunglah, kami mendapatkan sebuah buah durian, tidak menunggu lama langsung kami membelahnya dengan sebilah parang. Meski cuman satu saja, rasanya sangat manis dan kemat.  Dari ladang tersebut saya belajar banyak kepadanya bagaimana mengelola ladang untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari serta anak dan kemenakan-kemenakan.

Dari ladang, kami menurun jalan menuju tepian Batang Sinamar, di sana baru saja beberapa minggu ini selesai pembenahan tepian Batang Sinamar. Disini, disebuah lepau-barangkali lepau ini ada sejak pembenahan tepian mulai dikerjakan-lepau cukup sederhana, hidangannya cukup sederhana hanya ada gulai ikan khas Batang Sinamar serta ditingkah sambalado mudo yang diolah dari cabe hijau mentah di ulek dan di campur minyak kelapa. Kebetulan, di sana saya diperkenalkan dengan seorang Prof lulusan ITB, yang saat ini duduk di kursi DPRD Provinsi komisi III. Beliau tengah mengawasi pengerjaan akhir program tersebut sebelum diserahkan dari kontraktor ke pemerintahan.  Seusai makan dan mengobrol dengan logat aksen Limo Puluh Kota, saya dan  kerabat tadi lantas kami meninggalkan lepau dan membisikkan ke yang punya kedai “masukkan saja makan siang kami ke bon Pak Prof ya Mak”.

Dari lepau kami sejenak melepas lelah dan penat dan melaksanakan shalat lohor, selanjutnya menuju simpang Benteng, menikmati segarnya es teler dan es alpokat. Payakumbuh siang itu cukup terik. Awalnya kami ingin bertemu dengan rombongan yang datang dari Riau untuk menemani mereka ke Padang Mangateh, sebab sejak tadi pagi saudara saya sudah mengurus segala izin untuk dapat akses masuk.  Namun, rencana ke Padang Mangateh batal terlaksana. Maka saya dan saudara tadi selepas menikmati es kami bertemu dengan kawan-kawan dari group Tan Malaka Institute di sebuah kedai jagung rebus di batas kota, arah ke Harau.

Pukul 19.00 wib akhirnya masing-masing kami pamit pulang, saya menempuh rute yang sama sebagaimana pagi hari menuju Payakumbuh. Jika melewati Lintau, selain jauh perjalanan kurang aman, karena kita memasuki perbukitan sepi dan lengang. Sebenarnya saya kangen untuk melewati rute Payakumbuh menuju Lintau, kangen dengan lepau tabek akiak, di sana masakan khas kampung dengan aroma tungku kayu sungguh enak sekali. Semoga lain waktu saya berkesempatan lagi ke sana.

Jika tadi mendaki jalan ke Sungai Torok, maka malam ini menurun jalan menuju Batusangkar. Sampailah saya di Sungai Torok pukul 20.30 wib, berhenti sejenak di Masjid Quba untuk melaksanakan shalat Isya. Mesjidnya bersih sungguh, toiletnya bersih dan harum. Didalam masjidnya rapi serta wangi. Saya laksanakan shalat sunat tahyatul masjid dan menunaikan shalat isya. Karena keasyikan dalam zdikir, saya jadi kaget ternyata petugas masjid sudah menunggu saya untuk menutup masjid.

Memahami makna semiotik dan bahasa dari syair dan pantun Minangkabau, kita akan menemui sebuah hal yang unik. Ada sebuah kedalaman makna dalam kiasan-kiasan kata yang mesti disingkap untuk mengungkap maksud disebalik tersebut. Kalimat-kalimat dalam syair mapun pantun tersebut mengawang ataupun mengambang, ia dapatlah kita tafisirkan dalam bentuk multi tafsir. Sesuai kontek dan arah penggunaan kiasan tersebut. Pantun Minangkabau tiadalah sama pada pantun melayu pada umumnya, terlebih pada bagian sampiran. Jika pada pantun Melayu sampiran tidak mempunyai arti selain sebagai pembungkus untuk menyampaikan isi, tidak begituhalnya dengan sampiran pantun Minang. Dalam pantun Minang, sampiran merupakan sebuah penanda tempat, keadaan sosio-antropologi masyarakat maupun kejadian tertentu yang disampaikan. Misalnya saja diawal ktia berbicara mengenai Ayam den Lapeh, di sampiran pertama //luruihlah jalan ka Payokumbuah//Babelok jalan ka kayu jati//. Ini benar-benar ada, dari Biaro hingga piladang akan kita temui jalan yang cukup panjang dan lurus.

Jika dibawakan dalam tema percintaan muda-mudi teruna ria, maka dapatlah kita menggambarkan lagu ayam den lapeh ini sebagai suasana jatuh cinta pada seorang gadis pujaan hati yang diidamkannya namun terdapat halang-rintang dalam menempuh jalan cinta tersebut. Halangan yang cukup berat dialami oleh pemuda tersebut, bisa datang dari orang tua gadis pujaan tersebut, ataupun ada pemuda lain yang sedang mengincar gadis tersebut.

Melengkapi dera-derita tersebut, maka saya akhiri tulisan ini dengan sebuah pantun, berjalanlah kita ke Koto Baru, sebelum sampai di Pandai Sikek.

Anak urang koto baru
Batungkek batang cumateh
Handak lalu malompek ka subarang
Kini denai baru tau
Ayam lah lapeh
Bakukuak di kandang urang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s