Alang Tabang

Maraok alang nan sadang tabang
Manampak ayam ka disembanyo
Kok sampai Tuan nak ka subarang
Guno jambatan kanalah juo

Sungguahpun buruang ndeh Tuan tinggi di langik
Dahan yo ka hinggok ndeh Tuan jan dilupokan

Marosok samuik di dalam gauang
Taraso dingin di tapak tangan
Taragak kabuik yo nak ka gunuang
Tagah dek angin nan manulakkan

(Ciptaan Ajis Sutan Sati, Dipopulerkan oleh Elly Kasim)

Rantau adalah sebuah ranah tualang bagi petualang, rantau pada hakikatnya adalah sebuah perpidahan dari tanah pangkal menuju ranah aktualitas diri. Keberangkatan dari sebuah titik pangkal tersebut menuju titik yang berada di seberang memerlukan sebuah instrumen, penyeberangan seorang manusia dalam keberangkatan tubuh yang lahiriah dapat kita ibarat-umpamakan dalam penyeberangan jembatan. Jembatan inilah menjadi instrumen keberangkatan, ia berfungsi sebagai instrumen keberangkatan di satu sisi dan di sisi lainnya sebagai instrumen kepulangan.

Timbul pertanyaan dalam diri saya sendiri, perantau semacam apakah etnis Minangkabau saat ini, apakah digolongkan dalam perantau modern ataukah perantau cina yang sering kita dengar-merantau hingga tak tahu lagi jalan kepulangan-. Jika dilihat dalam perantauan modern, saya menggambarkan perantau ini hanya didasarkan terhadap keingan ataupun hasrat mencari penghidupan yang lebih baik diperantauan yang menjadi cikal berkirabnya masyarakat di tanah pangkal menuju rantau. Berbeda halnya dengan perantauan apa yang disampaikan Elizabeth E. Graves dalam buku Asal Usul Elite Minangkabau Modern. Pola yang digambarkannya dalam buku tersebut adalah perantau yang pergi dari kampung halaman sebab di kampung-kampung mereka tidak mempunyai lahan subur yang bisa mereka garap untuk berladang dan bersawah. Bukan perantau yang pergi, meninggalkan anak-istri di kampung selama setahun, lalu pulang pada lebaran tiba, dan begitu seterusnya. Konon, kabarnya pola merantau seperti ini memang sudah ditinggalkan sejak gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) diluluh-lantakkan oleh tentara pusat.

Dalam pada itu, saya melihat ada perusakan secara sistematis kampung halaman yang dilakukan pemerintah pusat kala itu di pimpin oleh Presiden Seoharto. Perusakan yang berdampak secara sistematis yang saya perhatikan tersebut saat ini adalah dengan adanya melakukan penghijauan perbukitan dengan menanaminya pohon pinus. Dalam paham saya yang menjadi dasar pemikiran perusakan secara sistematis berdampak jangka panjang tersebut melihat dari sifat dari pohon pinus itu sendiri. Pohon pinus memiliki sikap rakus dan tamak, menyerap sekalian air yang dikandung tanah tempat ia tumbuh, selanjutnya air ia diserap tadipun tidak dilanjutkan penguapan/fotosintesis. Air yang diserap hanya untuk pohon pinus itu sendiri. Sifat lain dari kerakusan pohon ini adalah tidak melakukan pengguguran daun sebagaimana pohon-pohon kebanyakan yang menggugurkan daun, gugur daun ini berfungsi sebagai pupuk, jika melapuk bersama tanah tentu akan membantu kesuburan tanah ditempat tanaman tersebut tumbuh.

Sebagai contoh adalah Nagari Simawang, di Simawang terdapat lebih kurang 19 telaga yang menjadi sumber pengairan sawah dan ladang masyarakat. Suatu ketika pernah saya telusuri dimana dari 19 telaga tersebut hanya 1 telaga yang benar-benar berisi air selebihnya telaga tersebut telah rengkah retak sebab telah lama kering dan jika hujan datang, air hujan hanya akan mengisi retakan-retakan tanah tersebut tidak sampai kepada memenuhi telaga tersebut. Dampak kepada sawah yang tidak lagi dialiri dari telaga yang telah mengering tersebut jelas nyata persawahan tersebut saat ini tidak obahnya lahan tertinggal atau sudah sebentuk tanah lapang tempat anak-anak kampung bermain bola kaki.

Dampaknya jelas berimbas kepada masyarakat Nagari Simawang, lahan pertanian yang selama ini menjadi jantung penghidupan mereka telah perlahan hilang dan punah, cara satu-satunya adalah meninggalkan perkampungan dengan cara merantau.

Dalam sebuah dokumen Belanda yang saya dapatkan mengenai laporan penanam kopi di beberapa daerah di Sumatera Barat waktu itu, saya mendapatkan bahwa Simawang merupakan lahan subur untuk dijadikan ladang kopi, tidak tanggung pula hasil panen mencapai 3 ton.

Tidak hanya Simawang yang saya dapati terdapat tanaman pinus yang  ditanam pada zaman orde baru tersebut, di daerah lain saya perhatikan demikian juga adanya. Inilah yang menjadi dasar saya menyebutknya sebagai perusakan secara sistematis terhadap lahan pertanian masyarakat. Ladang dan sawah sudah banyak yang kering dan sulit untuk mendapatkan air, pertanian bukanlah hal yang menarik untuk digarap dan perantauan adalah sebuah jawaban akhir untuk memperbaiki taraf kehidupan.

Sebuah pantun lama yang begitu terkenal berbunyi:

Karatau madang di hulu
Berbuah berbunga belum
Merantau bujang dahulu
Di rumah berguna belum

Jika isi pantun diatas dilayangkan kepada saya, sudah sejauh mana umur dibadan dibawakan dalam perantauan? Jikalaulah saya jujur, perantauan saya saat ini dapat diumpamakan di belakang pagu dapur, cuma selemparan batu, memicing mata saja sampai ke kampung. Pada tahun 2007 saya merantau dari kampung  ke kota Padang Panjang untuk menempuh pendidikan SMK, benar saja memicing mata saja sampai ke kampung halaman. Padang Panjang saya pilih sebab tidak kebetulan, hobi ketika SMP mendengarkan radio dari frekwensi Padang Panjang terlebih-lebih sebelum azan dikumandangakan selalu di awali dengan kultum ataupun sebuah kata bijak. Adapun kata-kata bijak yang terngiang tersebut mengenai pandangan seorang filsuf asal Lahore mengenai hakikat kehidupan dan entah sebuah kebetulan filsuf tersebut senama dengan saya. Tahun 2007 saya meyakini bahwa Padang Panjang sebuah perantauan yang bagus untuk mengasah intelektual, lain daripada itu kota ini sudah lama terkenal dengan kota membaurnya berbagai etnis terlebih ketika Belanda menguasai kota tersebut.

Perantaun saya berlanjut pada pertengahan 2010 ketika perekonomian di rumah kurang baik, saya putuskan waktu itu untuk merantau di kota Medan. Alasan saya untuk pergi ke kota Medan adalah daripada di kampung saja menjadi penghuni kampung dan berdiam diri di rumah sembari perekonomian membaik tentu tidaklah baik, susah senang nanti dipikirkan. Begitulah lebih kurang pergulatan pikiran kala itu. Di kota Medan saya tidak mempunyai sanak keluarga, murni saya bertahan dan berjuang hidup sendiri. Terakhir saya pernah juga menjadi penghuni sebuah mushalla dengan arti kata saya pernah berprofesi sebagai marbot.

Barulah tahun 2011 hingga saat ini saya masih terkurung di sebuah kota yang membenamkan ini, kota yang ingin sekali saya tinggalkan jauh-jauh. Meninggalkan kota ini untuk beranjak menuju sebuah kota yang entah dimana pada akhirnya nanti saya berpetualang.

Sungguhpun burung yang terbang tinggi dilangit tentulah ia jangan sampai melupakan dahan ranting tempat ia bertumpu untuk terbang. Begitu juga seorang perantau, sebagaimanapun kampung tidak lagi memberikan sebuah arti kedamaian dan ataupun luka lama yang pedih perih, perlulah sekiranya kampung tersebut disilau-silau juga. Dalam keyakinan saya saat ini, banyak sekali lahan-lahan tidur yang tidak termanfaatkan dengan benar. Kakak saya seorang ahli pertanian, ia ahli dalam pemetaan lahan. Satu waktu saya pernah berdiskusi dengan beliau mengenai kondisi lahan pertanian di Kabupaten Tanah Datar, menurutnya banyak lahan pertanian yang tidak termanfaatkan dengan optimal. Tentu ini dapat dijadikan jawaban bagi perantau yang tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengadu untung diparantauan untuk kembali kekampung halaman menggarap perladangan dengan uang hasil berdagang yang dikumpulkan. Permasalahan utama saat ini adalah penyempitan ruang dan makna rantau, jika dahulu seorang lelaki di Minangkabau sebelum merantau akan menempuh pendidikan surau sebagai sarana dan bekal kelak menghadapi laut sakti rantau bertuah. Ideologi dan pemahaman akan kehidupan dunia dan akhirat di hembuskan dalam suasana kehidupan rantau, hingga diberikan bekal berupa ilmu beladiri untuk pamaga diri jika kelak menghadapi situasi genting.

Jikalualah boleh melihat kebelakang, kepada para pemikir dan pendiri bangsa ini yang sebagian dari mereka adalah orang Minang. Mereka pernah menempuh pendidikan surau dan dibesarkan di surau. Ibrahim gelar Datuak Tan Malaka kita ambil contoh, ia sebelum menempuh pendidikan di sekolah raja terlebih dahulu menempuh pendidikan surau, konon pula umur 10 tahun seorang Ibrahim tersebut sudah hafal al-Quran.

Alam filsafat Minangkabau yang menjadikan alam sebagai rujukan utama, mempelajari sifat dan gerak alam menjadikan mereka lebih dekat dengan makrifat mengenal keberadaan diri serta hakikat keadaan. Kegelisahan adalah sifat dasar seorang manusia Minangkabau, kegelisahan adalah cikal pemikiran yang bergejolak dalam diri. Alam serta faktor pembentuk lain menjadi unsur yang membentuk seorang cerdas dan tangkas.

Biasa gunung timbunan kabut, begitulah hukum alam. Sampailah kita pada penutup tulisan ini. Ingin benar kabut hendak ke gunung, namun angin menolakkan kepulangan tersebut. Banyak faktor yang mengakibatkan ranah tanah pangkal tidak lagi menjadi sebuah ranah kepulangan seorang Minangkabau, selain faktor pedih perih luka lama akan perang saudara paska PRRI, perselisihan antara kemenakan dengan mamak, kerakusan mamak dalam menguasai harta pusaka tinggi, dan faktor lain yang membuat mereka enggan untuk pulang. Konsep perantauan yang dijalankan saat ini sangatlah jauh berbeda dengan konsep perantau dahulu. Kekurangan dalam perantauan saat ini adalah tidak adanya bekal sebagaimana pendidikan surau telah terlebih dahulu memainkan peran. Perantau saat ini adalah sebatas pemenuhan kebutuhan hidup, untuk memenuhi kebutuhan perekonimian yang lebih baik.

Jikalaulah perantauan tersebut diiringi dengan bekal yang sebagaimana pendidikan surau tersebut, tentulah adanya hasrat keinginan untuk walau agak sedikit membangun kembali kampung halaman. Tidak jarang pula kita perhatikan saat ini anak kemenakan Minangkabau yang mencikarau diperantauan. Kasus terbaru yang kita dengar adalah kasus tangkap tangan seorang ketua DPD oleh lembaga KPK.

Begitulah perantauan lahiriah, keberangkatan dari tanah pangkal dengan jembatan sebagai instrumen keberangkatan menuju perantauan. Mengenal diri dan hakikat diri tentulah tidak akan sampai kepada melupakan fungsi jembatan yang telah menyeberangkan kita tersebut.  Motif perantauan yang saya tau pasti saat ini telah lama berpiuh, menukik ke arah lain.

Jika dibawakan kedalam, kita akan melihat lebih jauh akan perantauan diri yang sebenarnya Diri. Kita ada melakukan perantauan di bumi yang telah dihamparkan. Kelak dan pasti kepulangan akan datang juga, ia adalah suatu kepastian yang tidak dapat dielakkan, sebab ada kehendak yang tidak dapat ditolak. Sebab ego tidak dapat menahan kehendak tersebut. Itulah kematian menjadi jalan kepulangan ruh kepada asal.

Manusia dalam perantauan lahir nya dapat menahan ego akan hasrat ingin pulang, pun jika rantau dapat diperjauh maka akan diperjauh asal jangan pulang. Namun dalam perantauan batin tentang Diri yang sejati tersebut, bagaimanalah kita dapat menolak kepulangan tersebut. Sebuah kepastian yang entah kapan datangnya.

antara Bakauhini dan Merak tulisan ini telah menjadi sebuah percakapan dalam diri, tak dapat saya tuliskan tulisan ini sebab kali pertama mengalami mabuk laut. inilah sekadarnya pemikiran tersebut. timbang baik-benarnya saya pulangkan kepada sidang pembaca.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s