Dalam paham saya bahwa akal dan kemampuan seorang manusia sangatlah terbatas, jika ia hendak menjangkau sesuatu yang lebih tinggi dari apa yang inginnya turuti maka ia mesti meredam ego tentang keakuan dalam dirinya serta meninggalkan pikiran dalam dirinya. Persoalannya adalah meredam ego tersebut bukanlah perkara yang mudah. Meredam ego dan pula meninggalkan pikiran akan sangat sulit jika suatu kerangka pikiran telah terbentuk pada diri seorang tersebut. Diibaratkan dengan keenganan untuk menerima masukan-masukan serta memposisikan diri sebagai seorang yang benar dan mesti dilayani seketika itu juga.

Beberapa hari yang lampau, di suatu pagi pernah ada kejadian bermula dari kepanikan di salah satu group WAG yang saya ikuti. Group tersebut mengenai koordinasi jaringan internet di kampus. Singkat cerita, pagi tersebut dari pantauan monitoring koordinator divisi diketahui bahwa listrik di salah satu panel ruang yang berada di ruang server down. Di dalam group tersebut mulailah tim jaringan ribut dan panik, siapa yang mesti harus segera berangkat ke ruang server untuk menangani permasalahan tersebut. Saya lihat dan amati koodiv tersebut agaknya jengkel dengan bawahannya yang diberikan kepadanya tugas dan amanah untuk mengamankan listrik sebab tidak memberikan respon di group tersebut. Dengan tegas koordiv memerintahkan salah seorang bawahannya untuk lekas berangkat menuju ruang server sebab beliau telah menelepon seorang teknisi listrik lain.

Saya membaca pesan group tersebut dan mengamatinya ketika dalam perjalanan dari kampung menuju Padang. Ketika sampai di ruangan server, e e e e, tidak taunya kondisi terlihat tidak kondusif, tegang dan tidak nyaman saya untuk sekedar berada di ruangan terssebut. Baiklah, saya perhatikan saja terlebih dahulu riak-riak gelombang kecil ini sembari mengamati dari jarak aman, dari tepi-tepi barangkali bisa jadi.

Sehari kemudian, pergilah saya dengan teknisi listrik tersebut. Saya memanggilnya dengan uda nopi. Kami pergi shalat maghrib berjamah ke mesjid yang masih berada di lingkungan kampus. Seusai shalat ngobrollah kami di alun-alun masjid dibawah rindanga pepohonan. Baiyo-batido kata orang kampung saya, dari hati ke hati kata mama dedeh. Saya paham bagaimana kesibukan uda nopi saat ini, selain menjadi honorer teknisi lisktrik di LPTIK Unand, beliau juga sehari-hari bekerja sebagai teknisi listrik dan pendingin ruangan di luar. Ia sudah bekeluarga dan memiliki 3 orang anak dan seorang istri yang ia tanggungkan. Tentulah tidak mudah menafkahi keluarga ditengah kondisi perekonomian yang tidak membaik ini. Sering benar uda nopi mengeluhkan kondisi ekonominya kepada saya yang sudah dianggap sebagai adiknya.

Dari baiyo-batido dapatlah saya simpulkan duduk perkaranya. Sebagaimana saya paham seorang teknisi yang sering terjun ke lapangan dengan segala rutinitasnya, umpamanya katakanlah ia sedang memanjat ataupun sedang menarik kabel listrik di suatu rumah, tentulah ketika itu juga ia tidak dapat melakukan multi tasking dengan memonitoring kegiatan GWA . Itu satu, kedua adalah kesibukan beliau di rumah patutlah kita maklumkan terlebih-lebih anak-anak uda ini masih kecil-kecil.

Tadi ketika menjelang siang listrik PLN padam dan anehnya genset yang sedianya otomatis hidup dan membackup pasokan listrik tidak menyala. Saya telepon koordiv memberitahukan kabar tersebut, melalui koordiv saya katakan bahwa saya akan menelepon uda nopi untuk mengkondisikan segala kerusakan yang mungkin terjadi.

Singkat cerita, uda nopi telah saya telepon dan tidak berapa lama dia datang. Hingga lepas lohor beliau mulai bekerja dan kerusakan tersebut telah dapat teratasi.

Jikalaulah boleh jujur apa yang saya lakukan tadi pagi terhadap koordinasi yang saya bangun tersebut, bisa dikatakan sebentuk sebuah sindiran dari satu sisi kepada koordiv mengenai bagaimana semestinya berbaik-baik dalam berkoordinasi, dan terakhir sebagai upaya menyelamatkan harga diri seorang yang sempat merasa berkecil hati serta pekerjaannya tidak dianggap. Benar, saya mencoba menyelamatkan harga diri uda nopi, yang saya inginkan adalah hendaknya saling memahami kondisi masing-masing serta saling seirama seayaun langkah dalam bekerja. Apakah saya terlalu berlebihan menyebut menyelamatkan harga diri? Tidak tau saya. Semoga kejadian ini tidak terulang kembali, pun jika terulang kembali ya apa boleh buat, berarti merugilah kita karena tidak belajar dari pengalaman.

Mamaksakan keinginan tidaklah baik terlebih-lebih saat kita berada dalam sebuah organisasi maupun dalam lingkup pekerjaan, mencari cara agar suatu informasi sampai dengan baik dan sebaliknya baik media penyampaian informasi tersebut tentu juga akan memberikan pengaruh. Sebagaimana yang saya ceritakan ini, rupanya cara berkoordinasi dengan menggunakan WAG untuk seorang teknisi yang sibuk dilapangan tidaklah efisien, WAG hanyalah sebagai sarana rekap pekerjaan, diskusi, dan pelaporan pekerjaan dan selebihnya koordinasi tegas melalui telepon. Barangkali rambut di kepala sama-sama hitamnya, namun isi didalam belum tentulah itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s