Bertani Dengan Komputer

Waktu itu yang saya ingat adalah ketika menjadi siswa kelas 1 semester 1 di SMK negeri 2 Padang Panjang. Pernah saya salah satu dari empat siswa lainnya di pilih secara langsung oleh guru BP untuk menjadi peserta debat siswa tingkat SMA sederajat se-Sumatera Barat. Lomba ini diadakan oleh mahasiswa jurusan BK Universitas Negeri Padang. Barangkali karena saya orang yang cerewet dan paling banyak membual di sekolah waktu itu makanya dipilih jugalah, hitung-hitung untuk meramaikan kegiatan apa salahnya, barangkali itu. Teknis lombanya adalah siswa yang sudah dibentuk dalam kelompok tersebut akan berdiskusi dan berdebat dipandu oleh guru BP, topik debatpun diserahkan kepada anggota kelompok masing-masing sekolah. Beberapakali kami latihan untuk mempersiapkan keikutsertaan.

Singkat cerita tibalah hari perlombaan tersebut, berangkatlah kami ke Padang ke kampus UNP. Masing-masing kelompok di berikan ruang sendiri-sendiri, dimana kami duduk di bangku secara melingkar di tengah ruang kelas tersebut dan disekeliling (di sisi dinding kelas) penuh dengan dosen-dosen yang tengah duduk dan siap mencatat setiap jalannya debat dan diskusi. Sebagaimana lazimnya debat dan diskusi kamipun memperkenalkan diri masing-masing walau sebenarnya kami sudah saling mengenal. Ketika sampai pada saya jatah untuk memperkenalkan diri, saya menambahkan cita-cita dan harapan kelak dikemudian hari adalah ingin menjadi petani komputer. Rupanya teman-teman menimpalinya dengan celetuk dan candaan ringan, misalnya “wah, apakah dengan komputer kamu akan bercocok tanam?”, atau “wah, kamu ingin membuat program untuk membantu petani bercocok tanam?”. Saya hanya membalasnya dengan senyuman ramah dan sesekali sudut mata saya coba arahkan kepada dosen-dosen, bagaimana reksi mereka? Beruntungnya dosen-dosen tersebut juga tersenyum.

Ketika diskusi dan debat telah usai, kamipun hendak berdiri untuk meninggalkan ruangan. Ketika berdiri itulah rasanya saya baru bisa untuk bernapas, entahlah apakah ini yang namanya gugup dan canggung, barangkali itu bisa terjadi yang pasti saya sudah bisa bernapas dengan normal kembali. Kamipun menyalami seluruh dosen yang ada di ruangan tersebut. Ketika saya menyalami dosen-dosen tersebut, setiap mereka selalu menyampaikan semangatlah, semoga menjadi petani komputer seperti yang diimpikan tersebut. Saya ingat bagaimana mereka menyampaikan hal tersebut sembari tersenyum.

Hari ini barangkali sudah lebih kurang 10 tahun setelah peristiwa tersebut, saya terkadang merenung-renung ketika lelah dan penat datang tiba-tiba menyergap. Permenungan saya tersebut bermacam-macam, kadang kala tidur malampun susah, sering gusar dan gelisah. Namun juga permenungan saya tersebut kepada penelitian yang saat ini sedang dikerjakan, dimana saat ini saya sedang membuat sebuah sensor untuk mengukur kelembaban tanah.  Jika dikatakan membuatnya tidak sepenuhnya saya yang membuat, sensor ini merupakan bagian modul dari Arduino Uno, namun permasalahannya adalah nilai yang terbaca disensor ini belumlah akurat atau bisa dikatakan jauh panggang dari api nilai yang terukur dan tidak ada pendekatan terhadap nilai kadar kapasitas lapang air tanah. Pendeknya saya mengembangkan sebuah sensor, mencari sebuah metoda pemecahan permasalahan hingga terbentuknya sebuah alat yang murah dan ramah untuk digunakan, baik untuk akademisi di jurusan ilmu tanah, peneliti, dan lainnya.

Untuk kita ketahui bersama bahwa secara ordo, tanah mempunyai lebih kurang 12 klasifikasi tanah. Dari total keseluruhannya tersebut di Indonesia sendiri terdapat 10 jenis klasifikasi tanah. Lantas bagaimana dengan Sumatera Barat sendiri? Baik, Sumbar sendiri setidaknya mempunyai 6 jenis klasifikasi tanah, jumlah yang tidak sedikit memang. Setiap tanah mempunyai sifat-sifat tersendiri, misalnya dari ruang pori tanah, ada ruang pori rapat, menengah, dan renggang. Ruang pori berperanguh dalam resapan air. Nah, bingung kan?

Lantas bagaimana dengan bertani menggunakan komputer? rupanya apa yang saya sampaikan 10 tahun yang lampau tersebut, walau apa yang saya sampaikan sepenuhnya tidak juga serius, seperti bumbu pelancar pembuka diskusi saja biar tidak tegang dan gugup menghadapi perlombaan, pendeknya bisa dikatakan setengah lelucon. Tapi pada kenyataannya hal tersebut yakni bertani menggunakan komputer bukanlah hal yang tidak mungkin lagi. Sederhananya begini, seperangkat komputer yang telah diprogram baik menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence), sistem syaraf tiruan, maupun fuzzy logic ataupun program lainnya. Komputer-komputer tersebut akan mengatur curah air terhadap tanaman, pengaturan suhu ruangan, pengaturan CO2. Di negara Jepang sendiri, sistem seperti ini saat ini sedang digandrungi, bahwa konon di sana terdapat jenis-jenis pisang yang ada di seluruh dunia.

Salah satu program yang menarik untuk dijadikan referensi adalah projek yang saat ini dikembangkan oleh salah satu tim di MIT, mereka memberi nama projek tersebut open agriculture. Mereka menyebutnya sebagai food computer. Prinsipnya adalah dengan menggunakan sistem robot untuk mengontrol dan memonitor iklim, energi, dan pertumbuhan tanaman dalam ruang tumbuh khusus. Cahaya matahari mereka gantikan dengan LED, begitu juga untuk kontrol udara, kelembaban, dan lainnya, semuanya dikendalikan dan dikotnrol dengan komputer yang sudah diprogram. Selengkapnya dapat melihatnya di tautan berikut ini http://openag.media.mit.edu/

Saya mengerjakannya tidaklah sekomplek tersebut namun lebih kepada membuatkan sebuah sensor yang dapat mengukur kelembaban tanah tanpa menggunakan metode konfensional seperti pengukuran kapasitas lapang air tanah yang bisa memakan waktu sampai 2-3 hari lamanya. Siang ini saya sudah janji dengan adik-adik dari jurusan ilmu tanah dengan konsentrasi mereka di fisika tanah.

selfi_dulu_sebelum_ngelab

selfi dulu sebelum ngelab

percobaan siang ini adalah dengan menguji kadar air pada kapasitas lapang, dimana percobaan ini membutuhkan waktu 1×24 jam yang mana artnya besok barulah dapat saya lanjutnkan pengujiannya. Dua gelas ukur kapasitas 1000 ml saya gunakan dalam percobaan ini, dimana 250 ml pada bagian dasar adalah pasir dan sisanya 750 ml adalah tanah jenis entisol yang diambil di daerah Koto Baru tempo hari.

bukan_cendol

bukan cendol

tahap akhir adalah membungkusnya sehingga memanglah seperti es cendol atau es kelapa muda, hi hi hi.

img_20170215_134500

bukan … bukan, jangan dimakan

besok penelitian saya lanjutkan dengan melakukan uji kalibrasi sensor kelembaban tanah yang sudah saya rancang dan program. Kalibrasi dan analisa membandingkan pembacaan nilai sensor dengan nilai kadar air kapasitas lapang. Jika berhasil tentunya memberikan angin segar terhadap penelitian yang sedang dikerjakan. Lantas apa yang akan saya lakukan jika hal ini berhasil? Satu yang pasti adalah menghitung nilai dan membuatkan persamaan-persamaannya, bisa saja dengan persamaan dan logika logika dasar kita dapatkan turunan rumusnya.

Seusai penelitian di lab fisika tanah, tidak berapa jauhnya ada taman untuk rehat dan sebatang pohon jambu sedang lebat buahnya, sayapun mampir untuk duduk menghela nafas dan rehat sejenak

img_20170215_135548

ini baru boleh dimakan

saya paham bahwa ilmu pada hakikatnya tidak terikat oleh ruang dan waktu, ilmu bergerak bebas berbanding lurus dengan kamauan seorang untuk menelaah dan mengkaji. Ilmu adalah suatu gerak dinamis diantara ruang waktu dan bukanlah gerak statis yang diam tetap tak bergerak sama sekali. Bisa jadi 10 tahun yang lampau ketika suatu kelakar yang saya lontarkan waktu itu rupanya pengembangan pertanian menggunakan komputer pada saat ini telah benar-benar dapat dikembangkan. Steve Jobs berkata bahwa tetaplah lapar dan tetaplah bodoh, benar apa yang ia katakan, kita mesti lapar untuk ilmu yang tiada habisnya, sikap rendah hati adalah kunci utamanya. Betapa sempitnya jika kita pongah berlagak dan bersolek sombong dengan sedikit ilmu yang dimiliki.

Jika metoda yang sedang saya upayakan keberhasilannya, selanjutnya saya mempunyai keinginan untuk mengembangkannya ketahap IoT (internet of things), dimana data-data tanah untuk wilayah Sumbar dikumpulkan dalam suatu server dan diolah sedemikian rupa, misalnya menggunakan data mining untuk memetakan tanaman apa yang cocok ditanam pada saat penghujan atau sistem pengairan seperti apa yang cocok diberikan kepada tanah antisol, dan sebagainya.

Begitulah sekira adanya, sebuah memoir yang datang malam ini sebagai ganti merehatkan sejenak badan ini. Itulah yang saya ingat dan bersyukur diskusi dan debat tersebut mengantarkan kelompok kami menjadi juara 4, tidak masalah bagi kami, yang penting merasakan lomba dan mengasah kemampuan.

Saya paham bahwa Allah dalam setiap hari Ia dalam keadaan sibuk, semoga Allah memudahkan usaha ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s