luka 59 tahun yang lampau dan sekarang . . .

tagak bendera merah putiah
di bukik rang kamang  hilia
tando nagari dalam parang
denai mandapek kaba sahiah
kacarai ikan juo aia

mungkin mularaik salah sorang

 

15 Februari 59 tahun yang lampau suatu peristiwa penting bagi masyarakat Sumatera Tengah atau Minangkabau khususnya. Raja alim raja di sembah, raja zdalim raja di sanggah, begitulah prinsip masyarakat yang idealis dengan pemikirannya tersebut. Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (biasa disingkat dengan PRRI) merupakan salah satu gerakan pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.

Konflik yang terjadi ini sangat dipengaruhi oleh tuntutan keinginan akan adanya otonomi daerah yang lebih luas. Selain itu ultimatum yang dideklarasikan itu bukan tuntutan pembentukan negara baru maupun pemberontakan, tetapi lebih merupakan protes mengenai bagaimana konstitusi dijalankan.Pada masa bersamaan kondisi pemerintahan di Indonesia masih belum stabil pasca agresi Belanda. Hal ini juga memengaruhi hubungan pemerintah pusat dengan daerah serta menimbulkan berbagai ketimpangan dalam pembangunan, terutama pada daerah-daerah di luar pulau Jawa.

Pada tahun-tahun tersebut merupakan kondisi panasnya iklim politik, baik pertikaian Natsir dengan Soekarno (lihat Capita Selecta M Natsir pada bagian mosi), pertikaian Syahrir dengan Soekarno, pertikaian Hatta dengan Soekarno (lihat buku Hatta dengan judul Demokrasi Kita). Dan sebelumnya bibit-bibit konflik tersebut dapat dilihat dengan dikeluarkannya Perda No. 50 tahun 1950 tentang pembentukan wilayah otonom oleh provinsi Sumatera Tengah waktu itu yang mencakup wilayah provinsi Sumatera Barat, Riau yang kala itu masih mencakup wilayah Kepulauan Riau, dan Jambi sekarang.

Dari papa saya mendapatkan cerita, dimana cerita ini didapatkan dari orang tua beliau yang merupakan mantan pejuang kemerdekaan. Singkatnya adalah seperti ini, masyarakat Sumatera Tengah adalah bagian dari NKRI dan mereka telah melebur dalam suatu integrasi utuh terhadap Republik Indonesia, terlebih peran Sumatera Tengah dalam menyelamatkan NKRI ketika terjadi kekosongan kekuatan dimana kala itu Soekarno dan Hatta di tawan Belanda, maka diselamatkan dengan PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia), dimana Ibu Kota Negara waktu itu? jawabannya ada di rimba belantara Sumatera Tengah, termasuk di Sumpur Kudus. Oleh karena itulah Sumatera Tengah menuntut persamaan hak dan pembangunan infrastruktur yang terkesan hanya memperhatikan Jawa. Menurut tuturan papa, cara yang dilakukan waktu untuk membangun infrastruktur adalah melakukan by pass perdagangan langsung ke Singapura dan Malaisya, komuditi yang diperdagangkan adalah hasil-hasil pertanian dan tambang. Mengetahui hal tersebut, beranglah pemerintah pusat dan meminta segera diusut pembukuannya, apakah terjadi korupsi dan penyelewengan lainnya, setelah diperiksa tidak ditemukan kejanggalan sebab pembukuannya bersih dan rapi. Lebih lanjut papa bercerta bahwa pemerintah pusat tetap ngeyel agar hasil eskport tersebut diserahkan ke negara, namun lagi-lagi mereka menolaknya. Itu satu konflik, belum lagi konflik-konflik lainnya yang menjadi pemicu.

PRRI yang terjadi 59 tahun yang lampau ditanggapi berlebihan oleh pemerintah pusat, PRRI awalnya hanyalah sebuah gertakan namun gertakan tersebut ditumpas dengan kekuatan militer terbesar sepanjang sejarah. Duka kepiliuan dan rasa minder sebagai orang kalah menghinggapi masyarakat Sumatera Tengah, konon sampai tahun 1980an luka itu masih saja menjangkiti.

Selain itu PRRI telah membuat eksodos besar-besaran masyarakat Minangkabau keperantauan, menjadi perantau yang tidak pulang-pulang lagi, bahkan menukar nama ataupun memberikan nama kepada anak-anak mereka dengan nama Jawa.

Saya tak bermaksud hendak menghasut dalam tulisan ini, hanya suatu refleksi permenungan semata, bahwa 59 tahun yang lampau ketika orang Minang masih tegak kepalanya untuk mengatakan yang benar itu adalah benar, ketika roh idealisme masih gagah di dada mereka.

Jika Minangkabau adalah ibu bagi Republik ini yang dari rahimnya telah melahirkan cendikiawan-cendikiawan cerdas yang memberikan konsep-konsep tentang berdiirinya negara Indonesia, bagaimana mungkin ibu durhaka kepada anaknya? Toh konstituatente yang hampir rampung oleh Hatta telah dicerabut Dewan Konstituante tersebut oleh Soekarno sehingga sampai saat ini kita tidak mempunyai konstitusi yang sempurna.

59 tahun yang lampau tersebut barangkali luka yang nganga, cukuplah saluang dan rabab yang menyampaikan pedihnya. Dan sekarang, sebagai refleksi dari peristiwa tersebut, patutlah kita berbangga hati bahwa mereka telah membela negara ini, dan telah memperjuangkannya, tidak patut larut dalam minder.

Lantas bagaimana saat ini? ketika ada orang Minang yang muncul di pentas nasional, ramai-ramai kita bertepuk tangan bangga oo itu orang awak!, tapi lucunya ketika ada orang Minang yang terpeleset kasus di pentas nasional mereka diam seribu bahasa atau mengatakan “oh itu tidak benar sama sekali”.

luka 59 tahun yang lampau dan sekarang Minangkabau sedang dimana?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s