Kisruh

Saya mengikuti perkembangan kisruh yang terjadi antara Pemerintah dengan PT Freeport Mc Moran baik melalui radio RRI maupun beberapa situs berita. Sebelumnya, PT Freeport Indonesia memilih untuk menempuh jalur arbitrase jika negosiasi dengan pemerintah tidak menemukan titik temu. Freeport Indonesia tidak ingin melepas status Kontrak Karya (KK) dan mengubahnya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). ketika berita soal PT Freeport Mc Moran Indonesia di Timika Papua menolak ketentuan-ketentuan yang dijadikan prasyarat oleh Pemerintah Republik Indonesia menyeruak akhir-akhir ini, saya teriongat sebuah statement sederhana dari  Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka.

Beliau mengatakan dengan lugas bahwa: “..Tuan rumah tak akan (mungkin bersedia) berunding dengan maling yang (nyata-nyata sedang bermaksud) menjarah (isi) rumahnya..”

PT Freeport sejak awal kehadirannya di Indonesia paska lengsernya Presiden Soekarno tahun 1967 dengan jalan Coup De Etate, telah dikawal dengan ketat oleh Elit Borjuis dari kalangan Kapitalis Birokrasi (Kabir) Indonesia pada jaman Presiden Soeharto untuk mengeruk harta kekayaan di Bhumi Papua. Hal ini sudah berlangsung selama 50 tahun. (Buku yang menarik untuk di baca salah satunya berjudul Soeharto dan bangkitnya kapitalisme Indonesia yang ditulis oleh Emeritus Professor Richard Robison).

 Setelah 50 tahun, apakah kepentingan mereka sudah berubah menjadi lebih humanis..? TIDAK..!

Kapitalisme akan selalu dan selamanya bertujuan untuk memerah sampai habis tak tersisa atas apapun hidangan yang ada didepannya. Kapitalisme adalah Predator Ekonomi paling buas yang pernah manusia-manusia bermental Imperialis ciptakan.

Lantas bagaimana sekarang? Bagaimana dengan tambang-tambang, perkebunanan dan lainnya yang saat ini kian digasak habis-habisan oleh kaum kapitalisme, dihisap hingga benar tak bersisa.

Saya rasa dan berharap benar bahwa Pemerintah Indonesia, UNTUK YANG SEKALI INI, berdiri didepan kepentingan rakyatnya. Hal yang sudah sangat lama kami, saya, dan anda tentu nya rakyat jelata, orang biasa-biasa ini harapkan. Pemerintah Indonesia, UNTUK YANG SEKALI INI, mohonlah saya untuk berdiri tegak, keraskan tulang punggung jangan mudah membungkuk!.

Sudah saatnya kita sebagai bangsa yang rapuh ini menggali kembali nilai nilai Fundamental Revolusioner peninggalan para Founding Fathers kita yang DULU pernah menjadi tiang-tiang penyangga tegaknya pondasi kokok Republik ini.

Hari ini pada 68 tahun yang lalu beberapa peluru bersarang di tubuhnya, menghentikan langkahnya yang telah mengarungi berbagai benua dan negara, menghentikan cita-citanya akan sebuah negara republik yang merdeka sepenuhnya. 68 tahun pula sudah jasadnya terlentang pernah tanpa nama, senyap dipinggiran kampung. Berpuluh-puluh tahun ia hidup dalam kesunyian dan kesepian dan penderitaan, namun masih saja ia berjuang, masih ia menulis berbagai tulisan. Tulisannya hidup, tulisannya ada ruh-ruh revolusi yang terasa hidup setiap kali membacanya. Hari ini pada 68 tahun yang lalu itu, seorang putra Minangkabau yang lahir di sebuah nagari di pedalam Sumatera Tengah itu, di nagari Pandam Gadang, Kabupaten Lima Puluh Koto telah tiada, nun di Kediri sana dalam kesunyian juga kuburannya terabaikan sekian puluh tahun, kuburannya yang sepi itu menjadi sejarah durhakanya bangsa ini.

Tan Malaka terutntuk mu segala doa yang baik, semoga berkat rahmat daripada Allah senantiasa menaungi mu tuan. Tan, suaramu memang lebih nyaring  terdengar dari dalam kuburmu yang sunyi itu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s