rasa di bawa naik, periksa di bawa turun

Berfikir-fikr- adalah merupakan penjamahan bayang-bayang ini di balik perasaan dan aplikasi akal di dalamnya untuk membuat analisa dan sintesa. Inilah arti kata af-idah (jamak dari fu-ad) dalam firman Allah ta’ala: “Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan akal”*. Fu-ad inilah yang dimaksud dengan pikiran, fikr. Kesanggupan berfikir ada beberapa tingkatan:

Tingkatan pertama ialah pemahaman intelektual menusia terhadap segala sesuatu yang ada di luar alam semesta dalam tatanan alam atau yang berubah-ubah, dengan maksud supaya dia dapat mengadakan seleksi dengan kemampuannya sendiri-sendiri. Bentuk pemikiran semacam ini kebanyakan berupa persepsi-persepsi. Inilah akal pembela (al-‘aql ut-tamyizi) yang membantu manusia memperoleh segala sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, memperoleh penghidupannya, dan menolak segala yang sia-sia bagi dirinya.

Tingkatan kedua ialah pikiran yang memperlengkapi manusia dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan dalam pergaulan dengan orang-orang bawahannya dan mengatur mereka. Pemikiran semacam ini kebanyakan  berupa appersepsi-appersepsi, (tashdiqat) yang dicapai satu demi satu melalui pengalaman, hingga benar-benar dirasakan manfaatnya. Inilah yang disebut dengan akal eksperimental, al-‘aql at-tajribi.

Tingkatan ketiga, pikiran yang memperlengkapi manusia dengan pengetahuan (‘ilm) atau pengetahuan hipotesis (dzann) mengenai sesuatu yang berada di belakang persepsi indera tanpa tindakan praktis yang menyertainya. Inilah akal spekulatif (al-‘aql an-nadzari). Ia merupakan persepsi dan appersepsi, tasawwur dan tashdiq, yang tersusun dalam tatanan khusus, sesuai dengan kondisi-kondisi khusus, sehingga membentuk pengetahuan lain dari jenisnya yang sama, baik perspetif atau apperspetif. Kemudian, semua itu bergabung dengan hal-hal lain, lalu membentuk pengetahuan  yang lain. Akhir dari proses ini ialah supaya terlengkapi persepsi mengenai wujud sebagaimana adanya, dengan berbagai genera, diferensia, sebab-akibatnya. Dengan memikirkan hal-hal ini, manusia mencapai kesempurnaan dalam realitasnya, dan menjadi intelek murni dan memiliki jiwa perspetif. Inilah makna realitas manusia (al-haqiqah  al –insaniyah).

Sebagaimana yang saya kutip sebelumnya dari surat Al-Mulk ayat 23 diatas. Dalam tafsir Al-Azhar yang di tulis Engku Hamka, ditafsirkan sebagai berikut

Katakanlah” (pangkal ayat 23). Yaitu perintah Allah kepada RasulNya Muhammad s.a.w. supaya beliau menyampaikan peringatan kepada orang-orang yang masih ragu-ragu itu. “Dialah yang telah memunculkan kamu.” Menimbulkan daripada tidak ada kepada ada. Kata-kata ansya-akum yang kita artikan menimbulkan, ialah daripada tidak ada kepada ada, dan hanya segumpal mani pada asalnya, kemudian muncul menjadi manusia. Berkaki, bertangan, berkepala, berbadan. “Dan menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. Dengan ketiga anugerah yang utama ini sangguplah kita sebagai manusia lengkap hidup dalam  alam ini. Dengan pendengaran untuk menangkap segala macam bunyi, yang nyaring yang badak, yang sumbang dan yang merdu, yang menggembirakan dan menyedihkan. Dengan penglihatan kita melihat dan membandingkan yang besar dengan yang kecil, yang tinggi dengan yang rendah, yang jauh dengan yang dekat. Pendeknya adalah dengan kerjasama yang baik di antara kedua indera itu, pendengaran dan penglihatan umpamanya akan membawa ke dalam perbendaharaan hati, dapatlah hidup engkau sebagai manusia mempunyai arti. Tetapi apa hendak dikata “Sedikit saja kamu yang bersyukur”.

Saya teringat dengan petuah lama, petuah tersebut mengatakan Rasa di bawa naik, periksa di bawa turun. Petuah ini sangat menarik untuk ditelaah dan dikaji sebagai pedoman hidup dan mematri bahwa Islam menuntun kemerdekaan akal.

Rasa-raso-merupakan intelegency atau dalam keseharian  kita menyebut dengan nalar maupun logika. Rasa merupakan kecerdasan berfikir. Periksa-pareso-merupakan  emotion/sprituality merupakan emosi, semangat, ke-shalehan. Memisahkan antara mater dengan in mater, pemisahan antara wujud dan non wujud. Rasa yang muncul dari dalam berupa sebuah permenungan, pemikiran-pemikiran selanjutnya dibawa  naik untuk di periksa di olah dengan nalar dan logika. Membenturkan hingga benar tampak nyata ada wujud tersebut baik dari materi maupun kebenaran tersebut. Selanjutnya periksa yang sudah mendapatkan jawaban dari logika dan akal pikiran tersebut akan dibawa turun kembali. Turunnya inilah yang kembali dalam kesadaran mutlak sebagai manusia yang lahir dari spritualitas ego. Yakni berhubungan dengan Ilahiah.

Manusia berbeda dengan hewan karena kemampuannya untuk menyadari hal-hal  yang bersifat universal (kulliyyat) sesuatu yang lepas dari sensibilia. Manusia dapat melakukannya karena fakta bahwa imajinasinya  memperoleh (dari objek-objek individual yang diterima oleh indera-indera dan yang sesuai satu sama lainnya) suatu gambaran yang sesuai dengan seluruh objek individual ini. gambaran tersebut adalah universal (kully). Pikiran lalu membandingkan  objek-objek individual  yang bersesuaian satu sama lainnya dengan objek-objek lain yang juga sesuai dengan dalam beberapa respek. Maka diterima gambaran yang sesuai dengan kedua kelompok objek yang diperbandingkan itu, abstraksi terus berlangsung dan meningkat, sehingga ia mencapai konsep yang universal dan bukan konsep yang lainnya, dan karena itulah, ia menjadi mudah (basith).

Jika kita lihat, bertebaran dalam Al-Quran pertanyaan yang memikat perhatian untuk menyuruh manusia mempergunakan fikiran dan mendorong manusia supaya mempergunakan akalnya dengan sebaik-baiknya.

Seperti “kenapa mereka tidak berfikir”, “kenapa mereka tiada mengetahui”, “kenapa mereka tiada mempergunakan akal?”,  dan lain sebagainya. Benarlah bahwa telah disuruh manusia untuk memergunakan akal, di suruh kita oleh Allah s.w.t untuk memperhatikan tumbuhan yang hidup, selanjutnya dipertanyakan kepada kita siapakah yang menghidupkan dan menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan tersebut.

Rhetorische vraag-pertanyan-dalam Al-Quran yang tepat dan tajam tersebut dialamatkan kepada manusia  supaya mereka memakai akal  dan menghargai akal itu sebagaimana mestinya.

Menarik bagi saya fenomena akhir-akhir ini dengan merebaknya berita ataupun isu bohong-hoax-merupakan suatu gejala dimana manusia mengedepankan logika yang lemah namun meninggalkan rasa. Sehingga berita-berita tersebut hanya sampai di ujung mata dan belum ditilik kebenaran dari berita tersebut sehingga jemari langsung menyebarkan-share it– berita tersebut baik ke WAG, dan forum komunitas online lainnya. Akibat dari berita-berita bohong dan belum tentu kebenaran tersebut adalah kecemasan dan kegelisahan pada kelompok ataupun masyarakat yang menerima informasi tersebut.

Dalam pandangan lain saya berkeyakinan bahwa dunia virtual yang tercipta dari globalisasi telah menciptakan ruang-ruang banalitas yang tiada henti serta ruang yang melahirkan kecemasan-kecemasan yang tiada berakhir. Kecemasan tersebut berpangkal dari tidak dihadirkan akal untuk menelaah, jika manis jangan langsung di telan dan jika pahit jangan langsung di muntahkan. Maka rasakan terlebih dahulu, dibawa naik terlebih dahulu untuk diperiksa dengan akal pikiran yang jernih.

Allah s.w.t memberi manusia kemampuan untuk berfikir. Dengan pikirannya, dia menerima ilmu-ilmu pengetahuan dan keahlian-keahlian. Pengetahuan (‘ilm) boleh merupakan suatu persepsi terhadap esensi segala sesuatu, mahiyat-suatu bentuk persepsi yang bersahaja yang tidak disertai oleh hukum atau boleh merupakan appresiasi: yaitu, hukum bahwa sesuatu hal adalah hal itu-.

Agama datang membangun akal dan membangkitkan akal tersebut serta mengajak manusia mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya sebaai suatu nikmat Illahi. Een goed verstaander heeft slechts een half woord nodig, jikalaulah akal tersebut dipergunakan pada jalan sebagaimana mestinya, dan rasa serta periksa dilatih sedemikian rupa hingga benarlah sekiranya belum terkilat sudah berkalam. Belum sampai pada ujung pembicaraan terhadap pokok suatu pembicaraan oleh seorang maka kita sudah paham betul isi pokok pembicaraan tersebut. Sekiranyalah bahwa kilat cermin sudah ke kening, kilat beliung sudah ke kaki, terkilat ikan di dalam air sudah tentu mana yang jantan mana pula yang betina. Akal yang merdeka dan rasa dan periksa yang dipergunakan sebagai alat selidik untuk orang arif dan bijaksana, yang demikian sudah cukup baginya. Merupakan suatu harta yang sangat mewah dan patut di syukuri dengan penuh.

Sebagai penutup tulisan ini, Islam melarang bertaklid buta kepada paham dan itikad yang tak berdasar kepada Wahyu Tuhan, yaitu yang hanya mengikuti paham mana yang turun-temurun saja, dengan tiada pemeriksaan terlebih dahulu. Sebagaimana dalam surat Bani Israil ayat 36 mengatakan bahwa:

“Dan jangalah engkau turut saja apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan atasnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu, semuanya akan ditanya tentang itu”

Akhir kata, bawa naiklah logika dan jangan meninggalkan rasa dan periksa, semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s