smart city (?)

Pertengahan bulan Januari kemarin saya bertemu dengan Bang Johar Alam di Indonesia Data Center. Dari obrolan santai hingga obrolan berat sembari menikmati suguhan somai dan teh panas di kantornya. Ketika ditanyakan kepada saya mengenai smart city, saya memberikan pandangan dan pendapat mengenai smart city. Dalam hemat saya, smart city dapat dikatakan sebagai instrumen untuk membantu mobilitas baik itu aparatur pemerintahan maupun masyarakat. Selain sebagai toolssmart city dapat memberikan data-data seperti informasi cuaca, kepadatan lalu lintas, transparasi anggaran belanja pemerintah daerah, layanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit, dan berbagai kemudahan lainnya yang dapat didapatkan. Salah satu yang digadang-gadangkan dalam implementasi adalah memangkas birokrasi pengurusan surat perizinan yang notabene barangkali terkesan dipersulit.

Tahun kemarin saya juga terlibat diskusi dengan Manager Ebis Telkom Sumbar dan kawan-kawan di Telkom mengenai implementasi Smart city untuk Sumatera Barat. Selain dengan Telkom, saya pernah diskusi juga dengan Kadis Kominfo Sumbar. Benang merah yang saya tangkap dari memulai implementasi smart city adalah ego sektoral di lini pemerintahan provinsi. Pada akhirnya macet dan tersendak sehingga wacana tinggal wacana begitu saja. Namun begitu, gaung smart city sudah mulai berdegung di berbagai kota dan kabupaten di Sumatera Barat. Saya lihat sudah banyak kota maupun kabupaten yang sudah mulai menandatangani MoU kerja sama dengan Telkom Sumbar.

Pertanyaan yang selalu saya munculkan tersebut adalah apa yang di maksud dengan smart city, apakah yang cerdas? Kota-nya kah yang cerdas atau sebaliknya adalah masyarakat-nya yang cerdas?

Banyak elemen persiapan dalam mempersiapkan smart city tersebut. Dari infrastruktur, pemerataan jaringan internet dan ini terkait dengan koneksi yang memadai, dan yang terpenting adalah kesiapan masyarakat terlebih terutama kepada aparatur pemerintahan. Untuk Sumatera Barat sendiri saya masih meragukan konektifitas jaringan internet. Di Sumatera Barat sendiri Telkom sebagai pemain besar rasanya belom begitu menjangkau pemerataan jaringan internet dengan menghadirkan koneksi berbasis FO. Terakhir kemarin saya berbincang dengan kawan yang menjadi teknisi di Telkom wilayah Batusangkar, menurut penuturannya untuk Tanah Datar kususnya Batusangkar sedang dalam proses penggantian dari kabel tembaga ke FO.

Itu satu, mengenai infrastruktur. di lain sisi infrastruktur akan berbanding lurus dengan tenaga terampil yang dapat memprogram maupun menjalankan sistem tersebut. Kembali pertanyaan adalah seberapa besar SDM Sumatera Barat siap menampung dan menjawab tantangan tersebut.

Selanjutnya yang paling penting menurut saya adalah kesiapan aparatur pemerintah dalam transparasi informasi kepada publik jika terkait dengan urusan surat-surat perizinan, informasi arus lalu lintas, dan sebagainya. Begitu juga dengan elemen masyarakat yang akan menggunakan aplikasi ataupun yang akan mengakses. Hal ini tentu membutuhkan data pengguna internet ataupun kelompok masyarakat yang mahir dalam menggunakan gawai. Saya sendiri tidak mempunyai data pasti berapa pengguna internet di Sumatera Barat. Namun, secara hitungan di atas kertas dapat kita mengacu daripada hasil surver APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia). Hasil surver tahun 2016 ini dapat digunakan sebagai acuan.

penetrasi_pengguna_internet_indonesia

Dari hasil sensus penduduk tahun 2010, terdapat 50,37 juta jiwa mendiami pulau Sumatera dan data penduduk tahun 2014 terdapat 5,132 juta jiwa penduduk Provinsi Sumatera Barat. Lengkapnya sebagai berikut; Aceh 5,096 juta jiwa/2016 , Sumatera Utara 13,53 juta jiwa/2014, Riau 6,344 juta jiwa/2015, Riau Kepulauan 1,973 juta jiwa/2015, Sumatera Selatan 10,68 juta jiwa/2015, Jambi 3,412 juta jiwa/2014, Bengkulu 308.544 juta jiwa/2010, Lampung 7,972 juta jiwa/2014, Bangka Belitung 1,373 juta jiwa/2015.

Kembali kepada survei APJII, jika kita lihat dari hitungan kasar 50,37 juta jiwa di pulau Sumatera, hanya 20.752.185 pengguna internet, atau sebanding dengan 15,7% dalam hitungan secara nasional. Meski begitu, jumlah tersebut masih menempatkan Sumatera sebagai pengguna internet no 2 di Indonesia.

Bicara mengenai transparasi ataupun keterbukaan informasi bagi saya pribadi mempunyai kesan tersendiri. Bahkan sikap skeptis sering menghinggapi saya pribadi. Skeptis maupun pesimis dari saya pribadi bukanlah tanpa alasan. Beberapa kali saya terlibat dalam projek pembuatan aplikasi, sebagai contoh tahun kemarin saya pernah membuat sebuah sistem informasi keuangan dana CSR untuk salah satu perusahaan yang ada di Sumatera Barat. Ketika aplikasi tersebut usai saya kerjakan, pihak yang memesan aplikasi tersebut meminta saya membuatkan sedikit celah agar dana yang telah tertulis di sistem dan telah di sahkan dapat di rubah dilain waktu.

Begitu juga ketika membuatkan aplikasi e-office untuk salah satu instansi plat merah. Keinginan untuk memanipulasi datapun mereka minta. Surat masuk pun ingin mereka manipulasi tanggal masuknya. Saya bicara dalam tulisan ini apa adanya. Benar akan saya katakan benar, salah akan saya katakan salah meskipun kepada daerah saya sendiri, kalau melap-lap tidak pandai saya.

Dari dua kasus yang saya sebutkan ini, lantas apa yang hendak kita capai dalam smart city tersebut? Tentu yang paling mendasar dibangun adalah etos kerja dan watak. Watuk iso diobati watak digowo mati, saya rasa sikap jujur maupun ketidak jujuran berpulang kepada pribadi masing-masing. Ketek taraja-raja, gadang tabawok-bawok, lah tuo tarubah tido pepatah ini patut dijadikan sebuah pedoman dan cerminan. Begitu juga dengan batuk-watuk-dapat diobati dengan obat yang dapat di beli di apotek selanjutnya beberapa hari  kemudian sembuh, namun watak akan terbawa sampai mati.

Smart City dapat terwujud jika kecerdasan spritual, emosional, dan intelegensi telah berpadu pada masing-masing pribadi baik dari level pemegang dan pengendali roda pemerintahan hingga ke level lapisan masyarakat. Barulah sinergi tersebut dapat terwujud, jika tidak maka smart city hanya akan menjadi rancak di labuah saja. Sebagai ajang pamer namun minim implementasi pemerataan atau barangkali semati-mati angin hanya sebagai pitih masuak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s