Bumi Datar (Flat Earth)

Terkadang obrolan diskusi di GWA ada yang sesuai topik pembahasan terkadang ada juga guyonan dan ada juga yang diluar topik pembahasan. Seperti tadi siang menjelang lohor. Entah siapa yang memulai tiba-tiba pembicaraan mengarah kepada perdebatan bumi datar atau flath earth. nah loh. hi hi hi.

Jika di amati teori bumi datar itu juga berdasarkan ilmu pengetahuan dan bukti-bukti observasi. Yang pada awalnya dikemukakan oleh ilmuwan Barat. Tidak ada hubungannya dengan agama. Hanya saja sepertinya kaum agama diseret-seret untuk menambah dukungan. Padahal ini adalah perdebatan di kalangan ilmuwan. Begitu juga dengan tayangan di YouTube yang sempat saya amati sampai 12 seri kalau tidak salah-lumayan banyak juga ya, hi hi hi-benar saja tidak ada atau sedikit saja yang menyinggung dalam pendekatan agama dan tidak mendalam. Perlu kita garis bawahi bahwa Flat Earth-er ada 2, religius dan konspirasionis

Misalkan pertanyaan saya begini di tilik di Al quran ada ayat,  bintang-bintang akan jatuh menghujani bumi. Bagaimana teori sains memberikan jawabannya?

Yang jelas mau bumi bulat atau datar, itu bukan perkara aqidah. Gampang kan? hi hi hi. Oh ya,.  Perkara ghaib (masa depan), tak perlu ditafsir dan ditakwil. Cukupkan diri dengan yang muhkam.

Sebagai penutup, coba kita tengok surat Ali Imran ayat ke 7, disana kita akan mengerti, kenapa Allah hadirkan ayat-ayat semacam ini dan sikap apa yg harus kita lakukan.

ali-imran-ayat-7

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Ayat ke tujuh dari Surat Ali Imran ini saya gunakan tafsir Ibn Katsir, alasan menggunakan tafsir tersebut adalah Ibnu Katsir menggunakan metode bil matsur bukan metode bil ra’yi seperti Jalalain.

Allah Swt. memberitakan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkam, yang semuanya merupakan Ummul Kitab, yakni terang dan jelas pengertiannya, tiada seorang pun yang mempunyai pemahaman yang keliru tentangnya. Bagian yang lain dari kandungan Al-Qur’an adalah ayat-ayat mutasyabih (yang samar) pengertiannya bagi kebanyakan orang atau sebagian dari mereka. Barang siapa yang mengembalikan hal yang mutasyabih kepada dalil yang jelas dari Al-Qur’an, serta memutuskan dengan ayat yang muhkam atas ayat yang mutasyabih, maka sesungguhnya dia mendapat petunjuk. Barang siapa yang terbalik, yakni memutuskan yang mutasyabih atas yang muhkam, maka terbaliklah dia. Karena itulah Allah Swt. berfirman:

هُنَّ أُمُّ الْكِتابِ

itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an. (Ali Imran: 7)

Yaitu pokok dari isi Al-Qur’an yang dijadikan aijukan di saat menjumpai yang mutasyabih.

وَأُخَرُ مُتَشابِهاتٌ

dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. (Ali Imran: 7)

Yakni ayat-ayat yang pengertiannya terkadang mirip dengan ayat-ayat yang muhkam dan terkadang mirip dengan pengertian lainnya bila ditinjau dari segi lafaz dan susunannya, tetapi tidak dari segi makna yang dimaksud. Mereka berselisih pendapat mengenai muhkam dan mutasyabih, berbagai pendapat banyak diriwayatkan dari kalangan ulama Salaf. Untuk itu, Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ayat-ayat yang muhkam adalah ayat-ayat yang me-nasakh (merevisi), ayat-ayat yang menerangkan tentang halal dan haram, batasan-batasan dari Allah, serta semua hal yang berpengaruh dan diamalkan.

Disebutkan pula dari Ibnu Abbas bahwa ayat-ayat muhkam (antara lain) ialah firman Allah Swt.:

قُلْ تَعالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً

Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian, yaitu janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia (Al-An’am: 151)

Dan ayat-ayat lain yang sesudahnya, juga firman Allah Swt.:

وَقَضى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia. (Al-Isra: 23).

saya cukupkan mengutip tafsir Ibn Katsir terlebih dahulu sebab akan panjang benar pembahasan tersebut, namun begitu ada benang merah yang dapat diambil yakni perihal  muhkam dan mutasyabih.

Hal ini pula yang menjadi senjata bagi mereka yang mempopulerkan bumi datar. Yakni Al-Qur’an mengatakan bahwa bumi itu “dihamparkan” ibarat tikar. Ini jadi senjata para Flat Earther untuk menyatakan bumi itu datar. Padahal Allah hanya membuat perumpamaan tentang permukaan bumi yang amat luas dalam standar ukuran manusia, karena perspektif jarak pandang manusia dalam melihat permukaan bumi amat terbatas.

Lantas, bumi ini bulat atau datar? hi hi hi . Selagi ini bukan perkara aqidah ya bawa senyum aja. hi hi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s