Zeg mij de waarheid

Jika waktu adalah perjalanan seorang manusia dalam membawa Diri pada lorong-lorong labirin, maka setiap perlangkahan yang diperjalankan merupakan suatu usaha dalam melepaskan ego untuk menjadi diri dalam suatu diri kesatuan yang utuh. Pelepasan diri dari jalan buntu ialah usaha memerdekakan diri serta menampilkan diri sebagai  manusia yang telah diberikan akal pikiran untuk mengurai kusut, sebab kusut-kusut bulu ayam paruh juga yang menyelesaikan. Waktu adalah lorong-lorong perjalanan dalam labirin kehidupan manusia untuk menempuh perjalanan seutuhnya. Membangun peradaban dalam diri.

Sirot al-Mustaqim ke kebenaran, Sirot al-Yamin keburukan ke keangkuhan: Tunjukilah seorang atau sekelompok dosen ke arah kerendahan hati.

Jikalaulah seorang tualang mengenang segala kenang memagut segala apa yang patut di regut, maka kembalilah kepada jalan yang dulu pernah terseok, terperosok. Begitu dalam tertohok oleh kata-kata yang begitu menohok.

Suatu ketika dalam perkuliahan dengan seorang dosen, saya mengikuti ujian lisan pada mata kuliah rekayasa teletrafik. Dalam ujian lisan tersebut saya di uji mengenai teori Erlang, perihal jam sibuk dalam sebuah trafik percakapan telepon. Ketika saya dirasa kurang pas menjelaskan teori tersebut, serangan bertubi-tubi menghantam  merubuhkan. Beliau tidak memperdulikan kondisi apapun termasuk tekananan sebagaimanapun yang ia berikan yang terpenting saya dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sejenak saya coba patut-patut lagi dan menyusun ulang jawaban dan menyampaikannya kembali, namun usaha tersebut gagal. Sebagai usaha terakhir, maka saya menyerah dengan cara yang elegan. Saya katakan kepada beliau bahwa, saya benar-benar tidak dapat menjawab dengan benar sebab kerangka berfikir ataupun logika dari rumus tersebut tiadalah saya paham betul. Tentunya dengan penyampaian tersebut saya berharap beliau memakluminya. Rupanya tidak sama sekali.

Saya kembali ditebas dengan kilatan pisau kata yang mengenai hulu hati. Dan ia berkata “logika apa yang kamu katakan? Kita tidak ada logika dalam hal ini, yang ada hanyalah hafal!”.

Saya hanya terpaku seakan seribu hantaman pukulan bersarang di tubuh dan saya menjadi seorang yang merasa benar-benar pandir.

Kejadian tersebut begitu membekas seakan menjadi sebuah perseteruan yang akan melahirkan suatu konflik berkepanjangan. Hanya sebuah MoU kesepakatan damai yang dapat menghentikannya dengan genjatan senjata harus diberlakukan.

Perseteruan lainnya yang tidak kalah menarik adalah ketika ia berkesimpulan saya mengidap suatu penyakit mental atau ada sesuatu yang tidak beres dalam pola pikiran saya. Untuk itulah dalam suatu sesi di akhir pertemuan kuliah, atas rekomendasi darinya saya disarankan untuk mengunjungi hypnoterapi untuk mengobati gangguang kejiwaan tersebut.

Maka ujuran-ujuran tersebut telah menempatkan saya pada suatu kondisi sebagai mahasiswa yang memiliki cacat mental, cacat pikiran dan gangguan kejiwaan yang mesti segera untuk ditanggulngi agar saya dapat menyelesaikan perkuliahan ini dengan segera. Pernah juga saya menanyakan kepada beberapa kawan termasuk juga dari jurusan psikologi, apakah benar saya gila?

Peristiwa tersebut telah membikin hubungan saya retak dengan dosen tersebut, dan saya memilih untuk melanjutkan perjalanan menempuh lorong-lorong labirin kehidupan.

Di titik persimpangan, serasa dihadapkan dua pilihan arah: kalau saya menempuh jalan yang lurus (sirot al-Mustaqim), saya akan berlapang hati menerima setiap ujaran tersebut dan terus berjalan membenahi diri, meski di sepanjang jalan tersebut saya akan digodai banyak lagi liku-liku ujian yang menyuruh untuk berbelok ke kiri, ke sirot al-yamin, di mana kepasrahan menerima nasib dan membiarkan ketidakberdayaan sejati menggerogoti tubuh.

Rupanya persimpangan jalan yang lurus yang telah saya ambil tersebut telah mempertemukan saya dan beliau yang sedari lama; bahwa segala hari buruk telah di kubur dalam ruang penglupaan diikat dengan tali pengacuhan. Tuhan Yang Maha Berkehendak tentu telah sudah segala catatan kehidupan ditulisNya.

Seminggu yang lampau, saya bertemu muka dengan beliau secara kebetulan di suatu tempat parkir, saya lemparkan senyum sebisanya dan ia mulai percakapan. Beliau meminta saya untuk memperbaiki satu unit hardisknya yang mengalami kerusakan dan tidak dapat di akses. Beliau berharap benar untuk mendapatkan data-data di dalam hardisk tersebut. Hari kamis ketika itu, beberapa hari setelah pertemuan tersebut terjadi beliau datang ke ruangan saya dengan membawa satu unit hardisk yang rusak tersebut. Langkah awal yang saya lakukan adalah menganalisa kerusakn-kerusakan apa saja yang terjadi di hardisk tersebut.

Saya mendengar ia mengatakan suatu hal ketika saya memeriksa hardisk, ucapan tersebut lebih kurang “ternyata saya telah salah dalam menilai kamu selama ini, saya tidak berhasil masuk dalam alam pikiran kamu ketika saya mengajar tempo hari. Dan metoda belajar saat ini tiadalah cocok untuk kamu”. Saya hanya membalas dengan senyuman. Dalam hati saya berkata zeg mij de waarheid. Katakanlah yang benar kepada saya mesti itu pahit untuk disampaikan.  Apakah yang orang tidak dapat capai dalam kehidupan jika orang itu jujur. Jika ucapan yang keluar tersebut dari beliau adalah suatu kejujuran yang benar-benar begitu adanya, alangkah bahagianya saya sebagai seorang yang pernah terpuruk oleh hantaman pisau belati kata. Orang bisa dicintai, dimuliakan dan dihormati.

Dari kerusakan pada hardisk tersebut, saya meminta diri untuk menyelesaikan hardisk ini agak 3-4 hari. Hari sabtu, berselang dua hari sejak pertemuan tersebut, tepatnya sabtu sore, beliau kembali datang ke ruangan saya untuk memindahkan data-data yang telah berhasil saya selamatkan tersebut. Beliau datang dengan membawa buah tangan sementara saya juga menyodorkan semangka dan gorengan lainnya untuk bersama –sama disantap.

Hari senen sore kita kembali bertemu, kali ini beliau kembali memindahkan data-data. Saya keluarkan lamang tapai yang saya bawa dari pasar Batusangkar. Kita menikmati pemindahan data sembari menyantap lamang tapai. Pekerjaanpun selesai selepas pukul 19.00 wib.

Lorong-lorong buntu yang ditemukan merupakan sebuah ujian bagi manusia untuk memerdekakan diri sebagaimana agama lahir untuk memuliakan akal pikiran manusia. Sebab tujuan utama dari ego tidak melihat sesuatu, tapi menjadi sesuatu.

Natuurlijk, de waarheid is daar, pada akhirnya boleh jadi kita hanya memilih satu di antara dua jalan persimpangan atau hanya sekadar duduk termenung dipersimpangan jalan tanpa berbuat apa-apa. Yang jelas: sejauh apapun perjalanan diri, pulangnya ke Maha Pemberi Petunjuk.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s