Salah satu kebiasaan yang sering tidak pernah saya lewatkan sebelum tidur adalah memutar saluang. Saluang sangat saya gemari walau sebagian ataupun hampir kawan sejawat tidak menyukainya, alasannya beragam juga. Tidak menyukai ratapan yang ada di dalam saluang tersebut, kuno, tidak menarik serta alasan-alasan lainnya. Saya hargai dan terima pendapat serta alasan mereka dan tidak saya paksakan juga untuk mereka mendengarkannya. Saluang yang saya gemari adalah saluang klasik, pendendangnya antara lain Adjis Sutan Sati, Sawir Sutan Mudo, Buyuang Kamang.

Saluang mengajarkan saya melihat hari lalu, bertamasya mengunjungi nagari-nagari yang ada di Minangkabau. Saya mendapati pertualangan secara tidak langsung perihal sosi-antropologi masyarakat Nagari yang diceritakan oleh tukang dendang saluang tersebut. Dendang di syairkan dengan pantun-pantun lirih penuh kata bersayap dan berkiasan.

Sering kali topik yang diceritakan adalah perihal urusan rumah tangga, hubungan seorang dengan lingkungan, putus berkasih, dan bahkan mengenai perang (perang kamang, PRRI, sebagian contoh kecil perang yang diceritakan).

Lantas, apakah mendengarkan saluang kita hanyut dalam semiotika hari lalu? Hanyut dalam ratapan-ratapan seakan hidup hanyalah tragedi yang mesti diratapi?

Pengetahuan yang sangat fundamental dalam ilmu kebudayaan dan ilmu kemanusiaan pada umumnya adalah pengetahuan tentang “manusia” atau lebih tepatnya “kondisi manusia” (human condition). Sehingga apapun yang dibangun oleh manusia, apapun bentuk dunia ciptaan manusia (man-made-world) kesemuanya selalu berhadapan dengan pertanyaan fundamental bagaimana semuanya membangun nilai, meningkatkan kualitas, dan memberi makna pada kehidupan manusia.

Pengetahuan terhadap kondisi manusia ini sangat diperlukan bila kita menempatkan teknologi, seni, design sebagai elemen pembangun peradaban. Peradaban dilihat sebagai pencapaian kebudayaan terhadap tingkat lebih tinggi, sebagai sintesis dari pergumulan jangka panjang manusia dalam membangun dunia yang lebih baik, hidup yang lebih berkualitas, dan eksistensi yang lebih bermakna melalui produk buatan manusia, (seni, design, budaya, dan lainnya).

Perkembangan sain, teknologi, ekonomi, seni, tidak dapat dipisahkan implikasinya terhap perkembangan manusia dan kondisi manusia. Sebab semuanya dari dan untuk manusia itu sendiri.

Bentuk-bentuk kehidupan, cara hidup, pola hidup, gaya hidup dan pandangan hidup menentukan apa yang disebut bentuk kehidupan (form of life). Selanjutnya bahwa perkembangan sains, teknologi, ekonomi, industri dan seni tidak dapat dipisahkan dari implikasinya terhadap perkembangan manusia dan kondisi manusia, kesemuanya tersebut berperan dalam membentuk dunia kehidupan.

Membicarakan hari lalu bukanlah perihal sesuatu yang buruk, terkadang membicarakan hari lalu merupakan telaah terhadap suatu bengkalai yang tak usai. Kita akan melihat pada kenyataannya pendendang saluang akan mengabarkan suatu kabar, terbetik maka terberita di suatu Nagari terjadi suatu peristiwa, berikut pelaku-pelaku serta alur dan latar kejadian. Pesan moral adalah hal utama menjadi sasaran pendendang, tentang penyesalan seorang yang lunak terhadap diri hingga keraslah kehidupan terhadapnya. Mengenai penyesalan dan ratapan seorang anak yang telah durhaka terhadap orang tua, ataupun iba hati seorang orang tua yang di tinggalkan anak. Namun begitu, tetap saja hal-hal moralitas ditampilkan dalam lirik yang bersahaja.

Akan tetapi memahami kondisi manusia saat ini dapat membawa kita pada suatu kenyataan ironis, dimana makna akan manusia dan kemanusian itu,  kini justru tumbuh dari hal-hal kebalikan dari lukisan manusia membangun peradaban. Secara konseptual, selama ini manusia dipertentangkan dengan binatang (humanitas – animalitas).  Kondisi manusia saat kini yang dikendalikan oleh motif ekonomi membawa kita pada suatu kenyataan pahit bahwa kondisi manusia saat ini telah terjatuh dari kondisinya sebagai humanitas  oleh ciptaannya sendiri bahkan dapat jatuh dalam jurang animalitas (bukan berarti manusia menjadi binatang, namun ada nilai-nilai yang berkembang pada diri manusia yang setara dengan binatang).

Pendeknya, bahwa jika melihat kondisi manusia saat ini memunculkan suatu pertanyaan apakah manusia memikirkan relasi dengan objek ciptaannya; apakah manusia mengendalikan objek ciptaannya, atau sebaliknya dikendalikan oleh objek-objek ciptaanya itu.

Sebagai penutup, agar tidak lepas kendali mestinya  perkembangan sain, teknologi, ekonomi, seni mesti diselaraskan dengan grass root budaya, sehingga biarkanlah langit terbang maka tambangnya erat kita pegang. Dalam pada itu, jangan sampai mengedepankan periksa (logika) namun mentiadakan rasa. Jika sesat di ujung jalan maka kembali ke tanah pangkal, kembali ke asal. Yakni pada grass root yang telah ditinggalkan tersebut. Jika tidak maka kita akan dikendalikan oleh objek yang telah kita ciptakan sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s