Setelah Pilkada DKI(?)

 

 

 

 

Menarik bagi saya mengamati jalannya pemilihan kepala daerah DKI beberapa waktu belakangan, suatu pilkada yang sangat menguras emosi dan energi. Dalam hematnya tulisan ini, tak perlu lagi rasanya saya ceritakan alur certa jalannya kampanye tersebut. Satu yang pasti kita ketahui mengenai hantu-hantu politik, serta hantu-hantu cyber yang diciptakan benar-benar membikin ketakutan dan kecemasan. Terlebih daripada farming berita yang sesat lagi menyesatkan. Hantu-hantu politik tersebut benar sungguh telah membenturkan, menghantukkan manusia dengan manusia lainnya. Pertikaian dan silang gaduh tak terhindarkan. Begitulah hantu-hantu politik, yang lahir dan di gadangkan dengan tujuan menciptakan ruang banalitas di tengah kehidupan masyarakat. Ruang banalitas dapat kita artikan sebagai ruang ketidakberperasaan. Hilang dan tumpulnya kasih sayang manusia, ketidakmampuan manusia tersebut untuk saling mengasihi.

Berbicara mengenai politik, bukan saya tiada tidak paham akan politik tersebut. Politik adalah dunia yang bertolak angsur, tawar menawar, siapa mendapat apa. tidak ada yang perlu dipikirkan dengan keras kepala, kecuali KEUNTUNGAN. Kita akan lihat bagaimana partai sebagai kendraan politik berubah menjadi suatu industri politik. Bahkan yang sampai kepada oligarki kekuasaan. Pendeknya, selama partai tersebut tumbuh hanya untuk kepentingan tuan-tuan borjouis kapitalis dan terlebih kepada dirinya sendiri, maka tiadalah memberikan faedah kepada masyarakat.

Sekali lagi, bukan saya tiada paham. Saya paham betapa jauh jarak antara lidah dan perbuatan terlebih kepada mereka diberikan suatu jabatan.

Jika kita singgung pilkada DKI, tentu akan muncul pertanyaan bahwa selanjutnya bagaimana?

Saya berpandangan bahwa kemenangan pasangan saat ini yang digadang-gadangkan sebagai kemenangan umat islam, nyata-nyatanya merupakan cambuk ataupun lecutan kepada umat islam itu sendiri. Adalah tamparan kepada masing-masing diri sebagai pribadi muslim. Bagaimana bersikap dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama Islam itu sendiri. Bagaimana menghadirkan Islam sebagai rahmat untuk alam.

Seburuk-buruk pemimpin Muslim, tentunya masih lebih baik ketimbang non-Muslim. Perlu kita garis bawahi bahwa bukan berarti ini menjadi sebuah pembenaran untuk meng-amin-kan semua tindakan dan kebijakan bathil yang dilakukan oleh pemimpin Muslim.  Tugas kita hanyalah mematuhi perintah Allah bahwa jangan pernah mengambil pemimpin dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Tugas kita hanyalah mencoba memberi kesempatan dan menanamkan rasa tsiqah (percaya) untuk dipimpin oleh orang yang se-aqidah. Kenapa tidak?

Sebagaimana surat Al-Baqarah ayat 120 yang saya ketengahkan di atas, bahwa sebaik-baik non-Muslim, sampai kiamat pun mereka tak akan pernah mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan umat Islam, kecuali kita menjadi pengikut millah (agama) mereka.

Kita mengucapkan selamat kepada pasangan Anis-Sandi, semoga anda berdua amanah, mampu menciptakan Jakarta yang makmur, sejahtera dan madani, serta benar-benar menjadi pengabdi rakyat. Ditinggikan seranting, didahulukan selangkah. Pergi tempat bertanya, pulang tempat berberita. Umpama pohon beringin di tengah kampung, daunnya rimbun tempat berlindung dari panas terik ataupun hujan yang mengguyur, batangnya tempat bersandar.

Kata orang tua bahwa selama masih ada ganiah, kenapa mesti marekan yang kita pilih. Selama masih ada emas, mengapas mesti loyang yang kita pilih?

Tentu semua ini dapat kita ambil hikmah. Akhir kata, Jakarta sebagai kota metropolitan yang notabene mayoritas penduduknya merupakan muslim, sepatutnya di pimpin oleh seorang muslim juga. Tidak lucu kan, mayoritas dipimpin minoritas, ketika masih ada dari golongan mayoritas yang sanggup berkomitmen untuk memimpin ummat? Atau jangan-jangan telah jauh dari sendi-sendi agama kita ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s