Di Hadapan Sup Panas

Di hadapan semangkuk sup panas itu, dinda.
kita berdiang berselindung dalam kehangatan
yang terkandung serta kecupan lembut
dari rerasa dan harumnya kapulaga, jintan hitam
lada hitam, serta tumis gerimis yang sepadan dengannya.
Hujan tak henti menderaskan rintiknya
sementara langit dengan gaun hitamnya membikin
kaki-kaki langit runtuh.

Di hadapan semangkuk sup panas itu, dan
demi hari lalu yang kusut tak usai
dan demi bengkalai yang kita lalai daripadanya
dan demi aromnya yang mengantarkan pada hari lalu
ketahuilah dinda, tersebab segala tiris gerimis tersebut
para penggila rempah dari benua jauh di sana
telah mengarungi samudera,
menjinakkan angin laut yang tak menentu itu.

oh aroma yang telah menghantarkan berabad lamanya
siksa penindasan dan luka hari lalu.
hari lalu adalah bengkalai yang tak usai
dan kita senantiasa bersitahan menjenguk harilalu
dalam rupa dan laku hari ini, dinda.

Di hadapan semangkuk panas itu,
nikmatilah hidup yang tak seberapa jengkal
ataupun seberapa depa panjang penggalah
bersijarak antara rahim dan pintu kubur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s