Makrifat Ilmu

Kegemaran terhadap membaca membuat saya menyukai hal yang bersifat menelaah, menganalisa, membandingkan suatu thesis dengan anti thesis-bahkan mencari suatu sintesa dari hal tersebut-. Saya ingat bagaimana budaya membaca tersebut telah tumbuh dan ada sejak menginjak bangku sekolah dasar. Kala itu buku yang sering saya baca adalah buku Antropologi, Filsafat, Sejarah, Kebudayan. Papa adalah seorang guru IPS di SMP dan Adik beliau-Pak Zul-merupakan dosen Antropologi di Universitas Andalas. Dengan begitu akses terhadap buku-buku tersebut dapat dengan mudah saya dapatkan di rumah. Bahkan saya tidak begitu memiliki ketertarikan dengan buku yang semestinya saya baca.

Kebiasaan membaca tersebut rasanya yang saya kira mengantarkan saya menggemari hal-hal berkaitan dengan kepenulisan dan penelitian. Dalam penulisan misalnya, ketika itu baru duduk di kelas 2 SMK, saya ingat bagaimana guru Bahasa Indonesia memberikan tugas menulis karangan narasi, ketika tugas tersebut saya kumpulkan, Ibuk Guru memanggil saya dan mempertanyakan perihal karangan yang saya buat bukanlah karangan narasi sebagaimana yang beliau minta. Rupanya karangan yang saya bikin tersebut merupakan tulisan essay. Dimana menurut beliau essay ini baru akan dipelajari di kelas 3.

Ketika saya kuliah, waktu itu baru memasuki semester 3. Saya ingat di bulan Agustus tahun 2012 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Pada majalah dinding yang terpampang di selasar jurusan Teknik Elektro saya melihat pengumuman Call for Paper yang diselenggarakan Direktorat Keamanan Informasi dan Komunikasi. Saya perhatikan sekiranya apa-apa saja topik, harapan saya dari topik tersebut ada yang menarik untuk dibuatkan paper. Fokus saya tertuju kepada social engineering. Selanjutnya topik tersebut saya diskusikan dengan kawan-kawan komunitas linux. dapatlah oleh saya garis besar tentang hal ikhwal apa yang mesti di tulis. Akhirnya saya fokuskan menganalisa sikap dan perilaku pengguna terhadap keamanan suatu sistem. Alhamdulillah, tidak butuh waktu lama draft tersebut dapat saya selesaikan dengan baik. Selanjutnya saya mencoba mencari seorang dosen untuk berkenan menjadi pembimbing penelitian tersebut. Singkat cerita, penelitian tersebut mendapat respon dari panitia acara dan saya di undang ke Bandung untuk mengikuti seminar dari rangkaian kegiatan tersebut.

Ketika mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nagari Pagaruyuang, saya dan seorang kawan dari jurusan Arkeologi Universitas Indonesia membuat sebuah tulisan mengenai benda peninggalan budaya berupa medan nan bapaneh (tempat rapat ataupun sidang musyawarah). Teman saya menulis dari sisi peninggalan budaya dan arkeologi dan saya menulis mengenai tinjauan filsafat budaya dan nilai-nilai yang dapat dipelajari dari pengingglaan budaya tersebut. Tulisan tersebut telah dipublikasin dalam kumpulan-kumpulan tulisan penulis lainnya dalam buku berjudul Cagar Budaya di Mata Publik yang diterbitkan Badan Purbakala dan Cagar Budaya wilayah Sumatera Barat – Riau.

Selain itu, penelitian-penelitian lainnya yang saya juga terlibat didalamnya adalah penelitian bersama kawan-kawan di jurusan Teknik Elektro, kususnya penelitian terkait dengan jaringan internet, server, IoT.

Beralih kita bercerita mengenai penelitian yang sedang saya kerjakan saat ini. Saat ini saya begitu larut dan asyik dalam suatu penelitian memonitoring kelembaban tanah. Mengimplementasikan teori mengenai ADC (Analog-to-digital converter),  signal, pemprograman, serta hal lainnya. Tentunya tidak sebatas hal tersebut saya persiapkan untuk penelitian tersebut. Bagi saya, untuk penelitian ini ada hal yang sangat mendasar sekali untuk di pelajari adalah mengenai dasar-dasar ilmu tanah. Saya pinjam buku-buku tersebut kepada kawan-kawan yang berkuliah di jurusan ilmu tanah.

Semakin saya pelajari membikin saya semakin sesak dan merasa ingin dan sangat ingin menekuninya. Maka, saya mulailah mengambil sampel tanah di tiga titik lokasi berbeda. Tanah andisol saya ambil di Koto Baru, tanah entisol di Katapiang, dan ultisol di bukit Karimuntiang.

Saya rancang program mulai dari mikrokontroller arduino, raspberry pi. Setelah program berhasil, saya mulai mengkalibrasi data-data tersebut di labor untuk mendapatkan hasil pembacaan sensor yang baik.

Setelah mendapatkan data analisa kalibrasi tersebut, saya merasa semakin belum puas, saya diskusikan dengan pembimbing 1 dan 2, bahwa data-data yang saya dapatkan ini belumlah sempurna. Bahwa data tersebut hanya bersifat atificial, hanya suatu kondisi yang direkayasa. Bukanlah kondisi alam yang seutuhnya, dimana jika di alam akan banyak faktor-faktor lain yang akan mempengaruhi kelembaban tanah itu sendiri, misalnya infiltrasi, ataupun penguapan.

Pembimbing 2 memahami kegelisahan saya tersebut dan akhirnya meminta saya untuk ikut dalam riset beliau dan mahasiswa beliau ke lereng gunung Talang. Benar saja, di lokasi penelitian kami membikin lubang profil pada tanah inseptisol dan andisol. Pada horizon A, B, dan C sensor saya tanam dan dilakukan monitoring nilai kelembaban lebih kurang selama satu jam. 

secara teori akan kita dapatkan bahwa pada lapisan horizon A yakni pada kedalaman 0-15 cm akan lebih kecil kadar air dibandingkan pada horizon B maupun horizon C. Sebab pada lapisan horizon A telah mengalami penguapan dan infiltrasi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan laju perubahan grafik dalam satu jam tersebut. Selanjutnya, tanah yang berada di dekat sensor yang telah ditanam sebelumnya tersebut di cuplik (diambil) untuk kemudian di bawa ke labor untuk dilakukan kering angin selama 2×24 jam.

Menariknya, setelah dikering angin selama lebih kurang 2×24 tersebut. Saya mendapatkan hasil bahwa lapisan horizon A tersebut lebih banyak menyimpan air ketimbang lapisan horizon B maupun C. Saya jadi bertanya-tanya, hal apakah gerangan yang mengakibatkannya? Apakah kandungan bahan organik pada tanah tersebut-tepatnya di horizon A-? Jika bahan organik yang menjadi faktor tersebut, ini tentu akan semakin menambah deretan rangkaian analisan dan percobaan selanjutnya.

Dalam harapan saya, betapa saya menginginkan kawan-kawan berdiskusi lebih banyak lagi. Bertukar pikiran dan mengerjakan suatu projek penelitian dengan penuh gairah. Begitu inginnya saya mempelajari bahasa pempograman R digunakan sebagai data statistik dan data mining. Barangkalai bahasa pemprograman R dapat digunakan sebagai alternatif pengganti Matlab yang mana biaya lisensinya mencapai puluhan atau bahkan sampai ratusan juta rupiah. Tidak menutup kemungkinan hasil penelitian ini saya publikasikan ataupun dibikin suatu website yang dapat diakses oleh siapapun yang ingin mengetahui kadar air tanah pada beberapa lokasi di Sumatera Barat.

Saya menyukai riset dan penelitian, sebab ada keterkaitan antara disiplin ilmu yang satu dengan disiplin ilmu yang lainnya. Ketika menghadiri konferensi Indonesia Big Data tahun 2014 akhir di Yogyakarta, saya berkesimpulan bahwa memang benar satu disiplin ilmu sangat berkaitan dengan disiplin ilmu lainnya. Kita ambil contoh mengenai statistika. Bagaimana mematematika-kan aktifitas keseharian manusia, mematematika-kan data penelitian dan lain sebagainya hingga terwujudlah suatu data mining, sampai kepada big data yang dapat digunakan sebagai analisa yang lebih mendalam. MIsalnya dengan mematematika-kan kebiasan seorang konsumen mie instan, akan didapatkanlah mie instan seperti dengan rasa dan bentuk seperti apa yang diinginkan oleh pelanggan. Dengan begitu si pemilik perusahaan lebih untung sebab ia mengetahui apa inginnya konsumen.

Begitu juga halnya dengan mematematika-kan data-data cuitan di twitter, yang dapat digunakan entah untuk keperluan politik, iklan dan sebagainya. Pendek kata, sebagaimana mendiang Steve Jobs mengatakan bahwa tetaplah lapar dan tetaplah bodoh. Belajarlah dan jangan mudah menyerah. Dan yang terpenting membaca itu perlu. Tapi jangan seperti keledai, sebanyak itu buku yang ia pikul, tapi tak menjadikannya ia keledai yang pintar.

Akhirnya, kesemua hal yang saya temukan dalam proses pembelajaran tersebut membuat saya untuk kembali menelaah dan mempelajarinya. Dalam paham saya, hakikat dari suatu ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang dapat dibenturkan, dilogikan, dinalarkan, dicari sebab-akibatnya. Jika tidak, maka matilah ilmu pengetahuan tersebut. Kita mesti ingat, padi tumbuh tidak berisik.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s