failure

well, sore kemarin saya mencoba melakukan monitoring kelembaban abu gunung Sinabung. Tempat yang digunakan untuk melakukan monitoring adalah lantai 3 jurusan Ilmu Tanah dimana lantai tersebut terdapat atap yang dapat digunakan untuk bersantai ataupun melakukan kegiatan santai lainnya. Setelah sebelumnya saya melakukan persiapan alat-alat yang dibutuhkan untuk melakukan monitoring tersebut. Singakt cerita siang menjelang petang tersebut hujan mulai tampak gerimis turun satu persatu. Lekas bersigegas saya menginstalasi peralatan tersebut.

Dalam monitoring tersebut tidak terjadi kegagalan dan berhasil mendapatkan data sebagaimana mestinya. Namun, pada pukul 15.38 wib data terakhir masuk ke database. Saya perhatikan terus namun benar-benar tidak ada data yang masuk hingga pukul 15.43 wib. Kecurigaan saya semakin bertambah dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi sekali.

Bergegas saya berlali menuju atap tersebut, benar saja, hampir setengah dari kotak tempat saya menginstalasi alat tersebut tergenang air. Hal tersebut mengakibatkan port serial dari mikrokontroller Arduino basah. Faktor tersebutlah yang mengakibatkan data tidak terkirim ke raspberri pi.

Spontan saya cabut seluruh kabel dan membawa ke ruangan untuk di investigasi. Selanjutnya baik arduino maupun raspberry pi saya keringkan menggunakan kipas angin. Pukul 17.30 saya coba mengkoneksikan arduino dengan laptop, apakah masih bisa digunakan ataupun sudah rusak seutuhnya. Beruntung arduino masih baik dan dapat digunakan. Namun, tidak dengan raspberry pi. Raspberry Pi tidak dapt hidup.

Pukul 18.30 berhubung waktu shalat maghrib sudah masuk, saya pergi ke mushalla Fakultas Pertanian untuk bertenang-tenang sejenak. Selepas maghrib, saya mencari blower untuk menghangatkan raspberry pi.

Alhamdulillah, blower tersebut berhasil untuk menyadarkan kembali raspberry pi. Saya kembali investigasi dan melihat kemungkinan terburuk dari instlasi peralatan tersebut.

Pukul 20.33 perangkat sudah kembali dapat digunakan untuk memonitor kelembaban. Namun begitu pukul 23.33 listtrik padam. Dan terpaksalah monitoring terhenti.

Saya kira mesti ke jurusan Ilmu Tanah pagi tadi untuk menghidupkan perangkat, beruntungnya perangkat tersebut aktif kembali setelah listrik kembali hidup. Ada muncul pertanyaan, kenapa saya tidak menggunakan acu kerig? Kemarin pernah saya gunakan di Gunung Talang, namun karena suhu yang begitu dingin mengakibatkan acu tersebut menjadi tidak berfungsi. Alasan tersebut mesti perlu dikaji ulang kembali, ini baru asumsi saya pribadi. Walau begitu, berharap rasanya listrik tidak sering padam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s