Ada Waktunya, Bersabarlah

Selepas jum’at tadi saya ada janji dengan dosen yang tempo hari pernah beberapa kali kisahnya saya kisahkan di blog ini. Sebelumnya, hardisk beliau sudah dari bulan kemarin selesai saya perbaiki dan lakukan low level data format namun karena kesibukan maka hardisk tersebut masih saja saya simpan dan belum sempat untuk dikembalikan meskipun beberapa kali beliau mengirimkan pesan kepada saya, namun begitu beliau memaklumi juga kesibukan saya dalam penelitian tersebut agaknya.

Dalam pada itu, selama bulan April kemarin saya benar-benar dalam kesibukan yang sangat padat dan maraton. Selain penelitian di labor saya juga dilibatkan oleh pembimbing 2 untuk membantu beliau dalam beberapa projek penelitian. Minggu awal April saya dan tim ke Kecamatan IV Jurai di daerah Painan melakukan pemetaan lebih kurang 22 ribu petak sawah dimana projek tersebut atas permintaan Dinas Pertanian. Lanjut kegiatan pada minggu ke 2 dan ke tiga 3 di bulan April dimana terdapat long weekend. Maka long weekend bagi kami adalah waktu yang tidak santai. Kami ke Talang dan Sangir serta Kerinci untuk melaksanakan projek penelitian sawah vulkanis. Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk melakukan pengujian alat berdasarkan kondisi alam yang seutuhnya.

Kembali kepada pangkal cerita, perihal cerita yang saya ketengahkan. Siang tadi saya menemui beliau di salah satu gedung kuliah. Saya berikan hardisk tersebut dan beliau handak mengajak saya untuk bercerita barang sebentar untuk sepatah dua patah pertanyaan.

Beliau menanyakan perihal bagaimana perkembangan penelitian dan sudah sampai dimana.

Saya mencoba menjawab dengan tenang sembari tersenyum, saya jabarkan bagaimana proses penelitian tersebut, bagaimana saya membikin metoda-metoda sendiri untuk proses penyelesaian penelitian tersebut, bagaimana saya membikin rumus sendiri dan melakukan kalibrasi dan pengujian dari hasil yang didapatkan.

Saya lihat ada wajah sumringah dan bahagia pula terpancar dari beliau. Sesekali beliaupun menyela saya dan berkata “e e e jangan-jangan kamu sudah ada dapat tawaran S2 untuk melanjutkan penelitian ini?“, Dengan tersenyum sayapun membalasnya “InsyaAllah Pak, sudah ada yang menawarkan, dimana tawaran ini bersifat LOA, yang menjamin adalah pembimng 2 Saya”. Begitulah kira-kira percakapan tersebut dan percakapan lainnya dengan beliau. Di akhir percakapan beliau meminta kepada saya untuk di undang nanti dalam mengikuti seminar hasil penelitian tersebut.

Akhirnya saya meminta diri untuk pamit dan beliaupun kembali membuka kelas. Dalam perjalan kembali ke labor, entah kenapa saya tidak kuasa untuk menahan air mata. Tiba-tiba air mata ini keluar dengan sendirinya, perasaan apakah ini? Saya rasa ini merupakan air mata bahagia sekaligus haru.

Saya benar-benar merasakan perasaan haru, dalam hati saya bergumam dan bersyukur. Saya merasakan bagaimana dua tahun yang lampau perseteruan dengan beliau yang tidak bisa terhindarkan.  Suatu peristiwa yang tidak ingin sebenarnya untuk di hadapi, namun ini tentu atas izin Allah juga pastinya peristiwa tersebut terjadi. Ketika saya mengajukan hipotesa mengenai logika dari suatu rumus berikut dengan logikanya, seketika itu pula saya mendapat bantahan dari beliau bahwa tidak ada logika, yang ada hanyalah hapal. Perseteruan tersebut berujung kepada rekomendasi beliau kepada saya untuk ke psikiater/hypnoterapi plus hadiah nilai akhir 3 mata kuliah-secara kebetulan juga saya mengambil 3 mata kuliah dengan beliau-diganjar dengan nilai D.

Namun hari ini siang ini, rasanya Allah telah memberikan jalanNya, adakah ini buah dari kesabaran sehingga ada waktunya untuk mengalah dan bersabar sembari berserah diri sepenuhnya penyerahan diri yang utuh kepada Allah atas setiap peristiwa dan takdirNya. Atas nama jiwa saya belajar untuk tulus dan ikhlas. Siang ini, dalam pertemuan singkat terserbut secara tidak langsung saya memaparkan kepada beliau bagaimana proses pemecahan masalah dari penelitian tersebut, bagaimana saya mengakali untuk menciptakan simulator hujan dengan bermodalkan infus, bagaimana saca membikin rumus dan perhitungan sederhana untuk perhitungan curah hujan dengan menggunakan simulator hujan yang saya bikin tersebut. Hal tersebut bukanlah semata karena saya telah menghapal rumus-rumus tersebut, bukan sama sekali. Melainkan proses tersebut merupakan suatu proses dalam penggunaan akal dan pikiran dimana nalar dipergunakan untuk melogikakan suatu hal. Bagaimana tidak, untuk satu unit simulator hujan kabarnya ada yang sampai 50 juta. Namun, dalam penelitian tersebut saya menggunakan infus!

Terakhir, saya ingat bagaimana 2 tahun yang lampau perseteruan tersebut sempat membikin saya menahan tangis, saya merasakan bagaimana kata-kata tersebut menghujam begitu kerasnya. Emosi saya redam, sabar saya utamakan. Dan hari ini saya menangis bukan karena teringat hujaman kata-kata tersebut, melainkan rasa syukur yang teramat dalam. Ada waktunya, saya yakin itu. Dalam kesulitan tentu ada kemudahan, dan Allah pun tidak akan memberikan suatu cobaan/ujian kepada umat nya melebihi kemampuan  umat terserbut menghadapinya.

Saya hapus air mata yang tetiba jatuh tersebut, sembari mengucapkan fabiayi ala irobikuma thukadziban. Alhamdulillah hirobbil alamin.-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s