Platform of life

Pada bulan april tahun kemarin saya sedang dalam proses penyusunan draft proposal penelitian tugas akhir. Tema penelitian yang saya ajukan kala itu adalah mengenai monitoring kelembaban tanah. Dosen pembimbing yang saya pilih adalah ada dua orang, dosen pertama dari jurusan teknik elektro dan seorang dosen lagi dari jurusan ilmu tanah.

Selama bulan april tersebut saya terlibat aktif dengan dosen pembimbing diskusi serta membenahi kerangka tulisan. Tercatat hanya sekali saja saya memberikan draft penelitian tersebut kepada pembimbing pertama, sebab kali kedua saya mengantarkan beliau tolak dengan dalih bahwa saya sudah mapan untuk segera lekas melaksanakan ujian seminar proposal. Begitu juga dengan pembimbing kedua, entah beliau bergurau entahlah, tidak tau saya. Beliau hanya berkata “kamu ini sedang S2 atau S3? Tolong ditahan, jangan kamu keluarkan semuanya di penelitian kamu saat ini”.

Ketika dirasa draft porposal tersebut sudah layak untuk diseminarkan, rupanya ada satu kendala yang menghambat ada itu salah satu pratikum saya yang gagal rupanya. Saya diskusikan dengan pembimbing pertama dimana beliau selaku koordinator pratikum. Dari diskusi tersebut, saya diminta untk membuat surat izin melaksanakan pratikum khusus. Saya ingat bagaimana ketika surat izin tersebut saya selesai ketik, pembimbing pertama juga ikut memberikan arahan dan ikut mengetikkan perbaikan salah ketik di surat izin tersebut. Setelah selesai, surat tersebut ditandangani beliau langsung dan lekas saya temui Pak Mumuh selaku kepala laboratorium LDTE. Ajaibnya bahwa Pak Mumuh segera mendisposisi surat tersebut kepada asisten labor, “kamu berikan kepada asisten di labor, kamu harus lekas pratikum”.

Diawal bulan mei saya mengikuti pratikum khusus, dimana normalnya lima modul dilaksanakan lebih kurang dalam waktu dua bulan, karena ini sifatnya khusus, kilat pula lagi maka dilaksanakan setengah hari untuk pengambilan data-data dan seminggu untuk menyelesaikan laporan pratikum.

Tanggal 25 mei proposal saya ditandatangani pembimbing, besar hati saya kala itu. Pertama ini rasanya sebagai kado ulang tahun dan kedua adalah usaha telah membuahkan hasil. Tentunya selangkah tahap untuk segera wisuda.

Sebentar bertahan kebahagian tersebut, muncul silang-selisih dengan seorang pegawai biro jurusan. Beliau menganulir pratikum khusus yang saya laksanakan tersebut tidak sah dan nilai tidak dapat dikeluarkan. Saya tanya alasannya kenapa nilai saya tidak dikeluarkan adalah saya tidak melapor kepada kepada biro jurusan dalam pelaksanaan pratikum tersebut. Saya coba luruskan kesalahpahaman tersebut mengenai telah didisposisinya izin pelaksanaan pratikum khusus saya tersebut jauh hari oleh Pak Mumuh selaku kepala labor LDTE. Sikap dari pihak biro jurusan masih bergeming dan melihatkan sikap keengganannya .

Silang-selisih dengan biro jurusan pada akhirnya melahirkan babak yang tidak usai pada akhirnya berlarut-larut. Dalam paham saya, ini tidak obahnya seperti menarik benang dari tepung. Benang dapat dikeluarkan dari tepung tanpa merusak/menebar tepung tersebut. Begitu harapan saya dalam menyoal masalah tersebut namun tidak saya temukan dalam jalan pikiran seorang pegawai biro tersebut.

Dalam keadaan berpuasa ramadhan saya dihadirkan dalam situasi sulit tersebut, namun sedapat mungkin untuk mengikhlaskan diri menerima ujian tersebut. Bukankah puasa adalah melatih diri menjadi seorang yang sabar, sedang muara ataupun makrifat dari sabar itu sendiri akan sampai kepada keikhlasan. Berarti dalam kasus saya ini, mestilah saya ikhlas menjalninya dengan sungguh-sungguh. Sebab disebalik kesulitan akan ada kemudahan dan kebahagian.

Sementara itu, saya ajukan lagi naskah perbaikan metode penelitian kepada pembimbing pertama, saya dan beliau terlibat diskusi yang sengit. Saya mempertahankan metode yang saya ajukan dimana penggabungan disiplin ilmu elektro sebagai instrumen sebagai alat pengukur kelembaban tanah dan disiplin ilmu tanah serta bidang kajian ilmu yang terkait didalamnya sebagai objek penelitian. Usulan saya tidak mendapat pertentangan dari pembimbing pertama.

Pernah ada di bulan puasa tersebut saya mencari dosen penengah untuk dapat menyelesaikan silang-sengketa yang berlarut dengan pihak biro jurusan. Akhirnya, pada hari jumat dua minggu sebelum lebaran idul fitri diadakanlah rapat terbatas atau lebih tepatnya musyawarah. Musyawarah ini dihadiri oleh saya sendiri, seorang dari biro jurusan, kepala labor yang bersangkutan, dan seorang dosen penengah. Kesimpulan dari musyawarah tersebut masih tidak menemukan titik terang, pihak biro jurusan bersekukuh saya telah melakukan kesalahan, dilain pihak yakni dari kepala laboratorium, beliaulah yang mengaku telah salah dan meminta proses saya dipercepat dan dipermudah. Akhir dari musyawarah tersebut yakni saya diwajibkan menghadap ketua jurusan untuk meminta izin untuk mengikuti pratikum kusus dan kepada koordinator kurikulum juga diwajibkan kepada saya untuk mendapat izin.

Selepas jum’at, maka saya temuilah ketua jurusan terlebih dahulu. Saya sampaikan hal-ikhwal maksud kedatangan saya menemui beliau. Rupanya dengan ketua jurusan tidak mendapatkan titik terang, beliau menyampaikan kepada saya “saya tidak mengetahui perihal izin tersebut, jika kamu ingin pratikum kusus, silahkan minta izin kepada kepala labor bersangkutan”. Meskipun bukan jawaban tersebut yang ingin saya dapatkan, dalam pada itu saya terima jawaban tersebut dan saya menganggap izin dari ketua jurusan telah final. Selanjutnya sore hari saya menemui koordinator kurikulum. Dengan beliau saya terlibat adu argumentasi. Dimana menurut beliau saya tidak diizinkan pratikum kusus karena saya belum mengikuti seminar hasil. Mendapati jawaban seperti itu, lantas saya ajukan satu ataupun barangkali dua pertanyaan kepada beliau.

“Pak, saat ini di Jurusan Teknik Elektro telah menerapkan suatu kurikulum baru serta peraturan baru yang mana peraturan tersebut mewajibkan mahasiswa yang akan mengikuti seminar proposal telah mengambil 140 sks. Pertanyaan saya Pak, saat ini saya sudah sampai140 sks, namun dikarenakan tersebab saya ada gagal pratikum sehingga ada nilai yang tidak keluar sampai saat ini. Maka, jangankan untuk seminar hasil sebagaimana yang bapak sampaikan tersebut sebagai syarat mengikuti pratikum kusus, dengan peraturuan seperti ini saya tidak akan dapat mengikuti seminar proposal sekalipun”.

Mendapati bantahan tersebut membikin beliau terdiam beberapa saat hingga meminta saya untuk menemuinya lagi senen depan, menurutnya akan didiskusikan terlebih dahulu dengan ketua jurusan. Singkat cerita, hari senen sebagaimana yang dijanjikan, maka senen tersebut bertepatan dengan tanggal 27 Juli 2016 saya mendapatkan izin untuk melaksanakan pratikum kusus. Namun karena saya sudah mengikuti pratikum tersebut, maka izin tersebut dipergunakan untuk mengeluarkan nilai saja lagi. Selanjutnya, izin tersebut saya berikan kepada biro jurusan kembali, dan hari jumat saya kembali ke jurusan untuk memastikan nilai tersebut sudah dikeluarkan. Rupanya nilai tersebut tidak dikeluarkan oleh pihak jurusan, e e e kan ada-ada saja namanya itu.

Ketika saya tanyakan kepada mereka kenapa nilai saya tersebut tidak juga dikeluarkan. Mereka menjawab bahwa tidak ada izin dari jurusan. Saya terdiam hening tak mengerti apa yang mereka maksudkan tidak ada izin dari jurusan, toh, apagunanya musyawarah tempo hari dan izin yang susah payah saya urus tersebut? Akhirnya saya pergi begitu saja dari ruangan biro jurusan.

Itu satu certa di bulan puasa tersebut, ada juga cerita lainnya ketika saya mendapatkan calon penguji untuk proposal penelitian tersebut. Begini ceritanya, waktu itu kalau tidak salah tanggal 23 Juni 2016, berhubung nama calon penguji untuk penelitian saya ini sudah keluar, maka sesegeranya saya temui calon penguji pertama pagi itu pukul 10.00 wib seusai beliau memberikan kuliah semester pendek. Di ruangan beliau pagi itu saya sampaikan hal-ikhwal bahwa apakah beliau bersedia menjadi penguji dalam penelitian saya. Beliaupun langsung bertanya dan menguji perihal penelitian, saya coba jelaskan sedetailnya, namun begitu saya rasa akan muncul kerancuan daripada beliau sebab tentulah tidak bisa diceritakan dalam waktu singkat suatu penelitian dengan multidisiplin ilmu tersebut. Dugaan saya benar ternyata, akhirnya beliau angkat bicara dengan nada tinggi sembari mengatakan bahwa “apa-apan kamu, penelitian apa ini, ngawur ini, tidak benar, tidak masuk akal, bohong kamu, sudah-sudah, saya tolak saja langsung”. Beliau memberikan paraf pada kotak ditolak dan melemparkan begitu saja kehadapan saya. Saya ambil kertas tersebut sembari berdiri dan tersenyum kepada beliau dan tidak lupa mengucapkan terimkasih banyak.

Karena izin dari jurusan kembali ditolak untuk saya melaksanakan pratikum kusus tersebut, hal ini membikin penelitian yang akan saya mulai menjadi tergantung tidak bertali. Persoalan ini bagai terapung tidak hanyut, terendam tidak basah. Kusut-kusut yang tidak terurai dan keruh yang tidak terjenihkan. Selepas Idul Fitri saya kembali ke Padang, namun kembalinya saya ke Padang bukanlah untuk mengurus urusan tersebut kembali, namun lebih kepada mencari kesibukan lain untuk mencoba sejenak mengalihkan perhatian dan mengobati kesedihan diri.

Bisa dikatakan beberapa bulan saya seperti menghilang begitu saja dari Jurusan Teknik Elektro, dalam pada itu juga bahwa pembimbing 1 saya sedang ke Jepang begitupun dengan pembimbing 2 yang sedang berada di Australia hingga akhir tahun. Oleh karena itu, untuk mengisi waktu luang tersebut sembari mencari biaya tambahan untuk penelitian saya mencari pekerjaan sampingan serta kegiatan positif lainnya.

Saya dan tim mengerjakan suatu projek di PT. Semen Padang-projek ini sudah dimulai sejak awal bulan Juni-. Selepas projek tersebut, masih di awal Agustus, PT. Telkom Witel Sumbar, dalam hal ini divisi Ebis meminta saya untuk mengurus program mereka yakni peresmian kampung UMKM Digital. Jadilah saya mengerjakan projek tersebut, survei ke kota/kabupaten di Sumatera Barat sembari mengambil data-data dari pelaku UMKM. Sementara itu, untuk membikin design undangan, pamflet, kokarde dan lainnya saya pekerjakan seorang kawan yang rasanya cakap dan mahir.

Alhamdulillah, kegiatan tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya. Selanjutnya, kesibukan lain yang saya kerjakan adalah menjadi panitia festifal siti nurbaya, panitia kedatangan wakil presiden di Universitas Andalas, panitia dalam kegiatan world halal tourism award-Alhamdulillah, Sumatera Barat terpilih di tahun 2016 sebagai juara 1-. Dan kegiatan lainnya adalah saya menjadi pegawai kontrak Kementrian Informasi dan Komunikasi (Kominfo) selama empat bulan dari bulan September hingga bulan Desember. Saya dan empat kawan lainnya terpilih untuk melaksanakan program 1juta.id di Sumatera Barat. Kesempatan ini saya manfaatkan juga untuk mencoba masuk dalam lingkaran peta politik di Sumatera Barat. Betapa terkejutnya saya menemukan hal-hal yang membikin saya bergeleng-geleng kepala.

Pagi itu hari jum’at tanggal 23 September 2016 ketika sedang rapat dengan Kementerian Pariwisata dan kawan-kawan kominitas sosial media untuk pemenangan Sumbar dalam ajang world halal tourism award, gawai saya tetiba berdering, kepala labor yang tempo hari tersebut menghubungi saya, beliau menyampaikan kepada saya kenapa saya mendaftar kembali untuk mengikuti pratikum. Menurutnya saya telah melaksanakan pratikum kusus dan telah mendapat izin dari jurusan. Saya pun menyampaikan kepada beliau bahwa izin yang pernah saya urus tempo hari tersebut di tolak oleh pihak jurusan melalui biro, dan saya sampaikan juga bahwa saya tidak ingin mencari ribut-ribut makanya saya legowo untuk mendaftar kembali pratikum dengan jalur normal. Beliau tidak terima dengan apa yang saya sampaikan, dengan tegas beliau sampaikan bahwa nilai saya sudah ada, dan meminta saya menghadap pembimbing untuk memudahkan proses tersebut.

Hari senen saya temui pembimbing 1 dan saya sampaikan apa yang disampaikan oleh kepala labor hari jumat tersebut. Alhamdulillah, seketika itu juga pembimbing 1 langsung menuju ke biro dan meminta saya untuk menunggu. Alhamdulilah, nilai yang sudah saya tunggu semenjak bulan mei-lebih kurang 4 bulan-telah keluar.

Timbul lagi pertanyaan, apakah saya bisa untuk wisuda bulan November? Setelah saya coba usahakan rupanya memang tidaklah bisa saya untuk wisuda di bulan November tersebut. Kembali saya bersabar sembari menyelesaikan juga penelitian dan pekerjaan di Kominfo tersebut.

Sedikitpun saya tidak menyesali terhadap apa yang telah ataupun datang kepada saya tersebut. Dalam paham saya bahwa hal tersebut adalah ujian, telah dipersiapkan dengan baik oleh Allah untuk dapat saya jalani dengan penuh kesabaran. Lebih lanjut saya melihat hal ini seumpama roller coaster. Saya telah memulainya, dan saya akan menyelesaikannya. Sebagai lelaki, yang ingin menjadi lelaki seutuhnya, biduk telah saya kayuh pantang surut ketepian sekalipun badai dan ombak gadang datang menerpa. What goes up might take us upside down, Life ain’t a merry go round. Benar rasanya, ingat yang di atas jatuh menimpa dari bawah, atau ingat yang di atas tiris datang dari lantai.

Don’t look down, don’t look back cause it ain’t over. Hold on tight, slide a little closer up so high stars are on our shoulders. Time flies by, don’t close your eyes. Saya menikmati setiap proses dan ujian yang diberikan tersebut, begitu bersyukur rasanya setiap mendapati ujian tersebut dan bersemangat untuk menuntaskannya. Betapa proses tersebut sangat mengenakkan.

Hidup barangkali memang seperti roller coaster, atau kata orang awak bahwa hidup sepantun dengan roda pedati.


tulisan ini saya tulis di akhir bulan Januari 2017 ketika kembali dari “pelarian”, dan pagi itu ketika menunggu pembimbing pertama. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s