Erupsi Marapi dan Hal Yang Mesti Kita Pahami

Kemarin pagi ketika sejenak saya mengalihkan perhatian dari penelitian dan menulis penelitian tersebut, ada hal yang menarik perhatian untuk dilakukan pagi tersebut yakni membaca buku. Buku yang saya pilih berjudul MEMOIR OF THE LIFE AND PUBLIC SERVICES OF SIR THOMAS STAMFORD RAFFLES, F.R.S. &c. yang ditulis oleh istri beliau SOPHIA RAFFLES. Saya tertarik untuk membaca catatan perjalan yang dilaluinya mulai dari pula Pisang Gadang hingga Simawang dan terakhir di Saruaso. Rute perjalannya adalah Pulau Pisang Gadang –>  Kampung Baru–> Limau Manih –> Toll Port I (di atas Limau Manih; kira-kira di atas Kampus Unand saat ini)–> Gunung Dingin –> Bukik Batu –> Solok Salayo–> Sandiang Baka –> Paninggahan –> (menyeberang Danau Singkarak)–> Simawang –> Muara Batang Antokan–> Saruaso–> Pagaruyung (pusat Kerajaan Minangkabau  Perjalanan dilakukan pada tanggal 23 Juli tahun 1818.

Baik, kita kembali kepada topik pembicaraan dalam postingan kali ini mengenai erupsi gunung Marapi dan hal yang mesti kita pahami. Saat rombongan sampai di Paninggahan, mereka melihat gunung Marapi sedang erupsi dengan ketinggian lebih kurang 10.000 ribu kaki-setara dengan 3 km-

tingkat letusan (Volcanic Eruption Index atau skala VEI) pada tahun 1818 dengan ketinggian lebih kurang 3 Km tersebut berada pada VEI 2 (LEVEL VULCANIAN). Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada hari minggu tanggal 4 Juni kemarin, gunung Marapi kembali erupsi. Tercatat lebih kurang 19 kali erupsi sampai hari senen tanggal 5 juni. Namun dengan skala VEI yang rendah, yakni VEI 0.

Hari senen kemarin (5 juni), saya dan tim beserta dosen kami menuju Situmbuak. Situmbuak berjarak lebih kurang 12 Km dari puncak gunung Marapi. Kami mengambil abu tersebut untuk kemudian dilakukan pengujian dan analisa.  Dari pengujian Ph abu, didapatkan hasil Ph tersebut masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan Ph abu vulkanis gunung Sinabung. Hal itu berarti bahwa erupsi yang terjadi hari minggu kemarin adalah erupsi pada lapisan material dangkal (lapisan tertatas).

Saya jadi teringat akan diskusi dengan pembimbing 2 tempo hari, bahwa bencana alam (gempa dan letusan gunung api) tersebut mempunyai periode waktu berulang, lama waktu berulangnya adalah 200 tahun dengan selisih 20 tahun. Artinya bahwa jika pada tahun 1818 terjadi erupsi marapi dengan ketinggian 2 Km akan terulang kembali erupsi gunung marapi tersebut 200 tahun kemudian (asumsi jika 1818 di tambah 200 adalah 2018). Manusia bisa menghitung dan memprediksikan kejadian alam dari mengamati dan melakukan penelitian-penelitian, namun bagiamanapun hal itu dilakukan manusia tetap Allah SWT yang kuasa atas kerajaan langit dan kerjaan bumi.

Terakhir, ada tahun-tahun penting yang mesti kita ingat dan catat juga mengenai bencana alam yang pernah terjadi dari rentang tahun 1700-1800an ini. Pada tahun 1797 terjadi tsunami di Kota Padang, pada tahun 1815 gunung Tambora meletus yang mengakibatkan day without summer di Eropa, berlanjut pada 26 Agustus 1883 gunung Karakatau meletus dengan dahsyatnya yang meruntuhkan kaldera dan menghilangkan beberapa pulau yang ada di sekitarnya dan dan terkahir gunung Marapi mengalami erupsi pada tahun 1818.  Kita bisa melihat dalam rentang 21 tahun tersebut terjadi pergerakan lempeng bumi dan aktifitas dapur magma  yang begitu aktif di Nusantara.

Akhir kata bahwa bencana tersebut dapat datang kapan saja, semoga kita waspada dan hati-hati. Hanya Kepada Allah lah kita berserah diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s