Rantau ranah lesatan energi potensial

Sepantun perantauan sebagaiamana petuah dalam perumpaan kubangan kerbau. Kerbau beranjak yang kubangan tinggal, pergilah kerbau membawa luluk seadanya. Begitulah suatu perumpaan perihal perantauan. Pergi meninggalkan kampung halaman membawa bekal seada dan sekadarnya untuk meninggalkan kampung berikut dengan harta pusaka. Saya merasakan sudah semestinya untuk menginggalkan kampung halaman untuk beberapa waktu atau barangkali untuk berapa bilangan tahun kedepan. Merantau, dalam tujuan harfiahnya adalah pergi berpindah mencari penghidupan ataupun mengaktualisasikan diri pada ranah perantauan tersebut. Serta tidak menutup kemungkinan alasan-alasan melankolis seperti membawa serta dengan hati dan perasaan yang gundah gulana tersebab pedihnya patah hati atau hal lainnya yang mesti dilakukan untuk meninggalkan kampung halaman.

Beberapa hari yang lampau saya menemui kawan yang sedang piket jaga di Telkom Tanah Datar, beliau adalah seorang kawan yang selalu memberikan nasehat-nasehat yang baik. Kepadanya saya ceritakan kesedihan serta kegundahan yang akhir-akhir ini melanda. Kegundahan dan kesedihan tersebut acap kali datang menyergap dan memerangkap saya dalam kesunyian kepiluan. Beliau menyarankan kepada saya untuk mengambil suatu keputusan penting, suatu keputusan bulat serta dengan tekad dan keyakinan penuh untuk segera melaksanakannya.

Keputusan yang mesti segera saya ambil tersebut adalah merantau, meninggalkan kampung halaman. Ada benarnya apa yang disampaikannya, bahwa selama ini saya larut dalam lingkaran persoalan konflik keluarga, persoalan di perkuliahan, percintaan yang membikin patah hati, serta persoalan lainnya. Setelah saya renungkan seketika, benar juga apa yang disampaikan beliau. Bahwa energi pontensial yang selama ini ada pada diri habis saya gunakan untuk menyelesaikan beberapa perkara yang itu ke itu saja. Konflik di rumah, kampus, percintaan misalnya. Artinya, ada kalanya saya mesti dan meninggalkan ranah tersebut, menyimpan energi potensial tersebut, merawatnya hingga bertumbuh makin besar di perantauan nanti maka ledakan energi potensial tersebut berupa energi kinetik dapat saya pergunakan sebagai aktualisasi diri tentunya untuk pengembangan diri lebih baik di ranah perantauan bukan pada ranah  dan lingkaran yang selama ini saya hadapi.

Dalam pada itu, dua malam yang lampau di ruang baca saya membaca buku capita selecta jilid 2 karangan M.Natsir, pada satu bab mengenai mosi integral yang dibacakannya, M.Natsir mengutip ayat 17 dari surat Ar-Ra’d sebagai perumpamaan kondisi NKRI waktu itu. Saya penasaran akan tafsir dari ayat tersebut. Seketika saya beranjak menuju rak buku mengambil tafsir Al-Azhar karangan Hamka dan tafsir Ibnu Katsir.

Ada dua perumpaan yang di isyratkan oleh Allah SWT dalam ayat tersebut, yakni hujan dan logam. Ayat tersebut mengandung dua perumpamaan yang menggambarkan tentang keteguhan dan kelestarian perkara hak dan kepudaran serta kefanaan perkara batil. Begitu juga ayat tersebut mengisyaratkan dan menggambarkan tentang hati manusia dan perbedaan-perbedaanya. Diantaranya ada yang dapat memuat ilmu yang banyak, diantaranya ada pula yang tidak dapat memuat ilmu yang banyak, melainkan sedikit karena hatinya sempit.

Point penting dari ayat tersebut yang sangat menarik bagi saya adalah bahwa apabila hak dan perkara batil bertemu, maka perkara yang batil tidak akan kuat dan pasti lenyap. Perihalnya sama dengan buih, tidak bertahan lama dengan air, tidak pula dengan emas, perak dan logam lainnya yang dilebur dengan api, melainkan pasti lenyap dan menyurut.

Seketika saya merenung membaca tafsir tersebut, saya merenung dan mempertanyakan kepada diri perihal keadaan saat ini. Benar rasanya saya mesti tegar dan kuat untuk menghadapi persoalan demi persoalan yang datang silih berganti tersebut, dimana memelihara energi potensial tersebut dengan menghadirkan Allah SWT dalam setiap gerak sendi kehidupan.

Jika perantauan adalah ranah yang terbaik untuk saya memulai kehidupan baru, menghasilkan dan menyimpan energi potensial perlahan demi perlahan, inilah kebulatan tekat yang mesti saya ambil segera dan rasanya hasrat untuk menyelami perantauan saya rasakan semakin kuat dan keinginan untuk meninggalkan kampung halaman semakin kuat juga.

Perantauan tentu bukan sekadar perantauan perut semata, atau perantaun pemikiran semata, tentu lebih daripada itu yang kita harapkan adalah perantauan hakiki dalam membawa serta perantauan batin, yakni sembari mengkaji ayat-ayat Allah dalam setiap perjalanan dan helaan nafas. Dan begitu banyak juga perintah Allah dalam Al Qur’an untuk mengembara/merantau sembari memperhatikan atas apa yang terjadi di tempat dimana orang-orang pernah mendustakan ayat Allah. Seumpama Ar-Rum Ayat 42 “Katakanlah: Mengembaralah kamu di muka bumi kemudian lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang telah lalu (yang telah dibinasakan); kebanyakan mereka adalah orang-orang musyrik”.

Kembali kepada pangkal cerita semula, ada ungkapan lain yang sangat melankolis perihal kondisi Minangkabau saat ini. Ungkapan tersebut tertuang dalam pantun berikut ini

Dahulu rabab nan batangkai
Kini lagundi nan babungo
Dahulu adat nan di pakai
Kini pitih nan paguno

Hal ini juga menjadi kegundahan saya saat ini, dimana pandangan orang-orang di kampung sudah berubah. Tidak cukup dengan budi pekerti yang baik untuk mendekati masyarakat namun uang ataupun harta dan tahta barangkali menjadi komoditi utama untuk mendekat kepada masyarakat. Misalnya saat saya hendak berbaur dalam lingkungan masyarakat, tentulah yang suara saya tidak akan diperdengar oleh mereka ketimbang seorang yang berharta dan berpangkat lainnya walaupun apa yang saya sampaikan tersebut ada benarnya. Terkadang, sampailah kita kepada kenyataan pahit bahwa karena di pandang miskin membikin hak untuk bersuara dan berpendapat menjadi tidak ada. Saya benar-benar tidak menyukai hal seperti ini. don’t judge me by cover, I’m not a book.

Selanjutnya, pantun di atas sejalan dengan apa yang tertuang dalam petuah adat yang lazim di Minangkabau. Anak di pangku kemenakan di bimbing, orang kampung di pertenggangkan. Bahwa anak di pangku, dibesarkan dengan harta pencarian, sementara kemenakan di bimbing dengan harta pusaka tinggi yang dikelola secara komunal. Anak kemenakan atau anak dari saudara perempuan dibesarkan dan dibimbing dengan harta pusaka tinggi tersebut. Tidak hanya kemenakan, saudara perempuan tersebut pun juga demikian halnya.

Namun kondisi saat ini tidaklah demikian, mamak banyak yang membawa pergi harta pusaka tersebut menjadikannya hak miliknya dan dinikmati bersama anak istrinya. Atau diperjual-gadaikan harta yang tidak sepatutnya diperjual-gadaikan.

Dahulu, seorang mamak sangatlah dipandang baik oleh kemenakan. Menjadi guru untuk di tiru, pergi tempat bertanya pulang tempat berberita. Seorang mamak betul-betul disegani karena dapat melaksanakan tugasnya sebagai seorang mamak. Namun, saat ini dengan apa mamak dapat berperan dalam lingkungannya? Sementara mamak-mamak terhadulu sudah mengadai-jualkan harta pusaka. Tinggallah mamak mengurus anak dan istri dan kemenakan sebagaimana keinginan mereka sendiri. Tidak dapatnya mamak menjalankan amanah dalam hal membimbing kemenakan serta peran dalam kaum yang semakin melemah mengakibatkan pudarnya marwah berangsur-angsur.

Begitulah kondisi saat ini yang saya amati, bukankah sekelompok pemuda yang bersembunyi ke suatu gua demi menghindari pemimpin yang zalim kala itu adalah upaya hijrah di bawah lindungan Allah SWT. Berlindung mereka dari pemerintah yang zalim akan keselamatan mereka, dan Allah SWT selamatkan mereka dan kisah mereka diabadikan dalam surat Al Kahfi. Begitu juga dengan Muhammad SAW melakukan hijrah ke kota Madinah, di kota Madinah berdakwah, mengumpulkan kekuatan dan pada akhirnya kembali ke kota Mekah membawa kejayaan dan kemenangan tidak hanya untuk kota Mekah dan Madinah saja, namun untuk dunia. Rahmat bagi sekalian alam. Dengan demikian, benarlah rasanya, perkara hak dan batil tadi. Perihal kekuatan yang baik jika dikerjakan dengan penuh sungguh dan berserah diri kepada Allah SWT, maka perihal yang batil-pun tidak akan sanggup menghalangi.

Rantau adalah sebenar-benar jawabannya, sebagaimana dikatakan karatau madang di hulu// Babuah babungo balun//Marantau Bujang dahulu//Di kampuang baguno balun (Keratau madang di hulu//Berbuah berbunga belum//Merantau Bujang dahulu//Di kampung berguna belum). Di rantau, energi potensial, pengembangan diri serta aktualisasi diri dapat di asah dan tidak ada kata terlambat untuk hal tersebut. Selagi di asah punggung pisau yang tumpul tersebut, maka akan sama tajamnya dengan mata pisau. Ledakan besar dari energi kinetik tersebut berupa energi potensial yang barangkali dapat mengalahkan gravitasi sekalipun. Serta rantau akan menjadi turning point bagi pelakunya.

Pada tawaran yang diberikan oleh dosen pembimbing dua berikut dengan surat kesediaan Profesor dari dua kampus yang berbeda, saya merasa tawaran tersebut adalah jembatan penyeberangan menuju perantauan dan kegelisahan tersebut. Ketika saya dihadapkan oleh pembimbing dua tersebut akan keseriusan saya untuk melanjutkan riset, maka saya jawab dengan sangat serius bahwa saya bertekat melanjutkan riset tersebut. Maka, strategipun kami susun, seperti membuat proposal penelitian yang ditujukan kepada Kementerian Riset dan Perguruan Tinggi. Dan hal lain yang mengejutkan saya adalah dosen pembimbing dua mengantarkan saya ke tempat kenalannya untuk dilatih secara private bahasa inggris. Dalam hal ini beliau yang mendanai private tersebut.

Jikalaulah benar begitu, maka telah saya teguhkan pendirian untuk menerima tawaran dan ingin benar untuk segera memulai perantauan. Rantau bukanlah ranah untuk melarikan diri, rantau adalah coming of age untuk tempat yang baru dengan suasana baru. Atau barangkali dari rantaulah kita bisa melihat kampung dengan pisau analisa serta sudut pandang baru. Tidak hanya kampung, tapi luasan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Akhir kata, sejauh perantauan perumpamaan azan dan iqomah. Sejauh jalan perantauan, antara tanah pangkal dan tanah perantauan adalah sejarak rahim dan pintu kubur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s