Pada Akhirnya Saya Menyelesaikannya

Ketika itu saya sedang bekerja di Medan menjadi guru SMK pada salah satu SMK swasta. Dalam pada itu, selain menjadi guru pada yayasan dimana SMK tersebut bernaung dibawahnya, saya juga menjadi admin jaringan internet dan memegang beberapa posisi penting di sekolah tersebut. Agaknya posisi yang saya tempati tersebut tidaklah nyaman bagi orang-orang disekitar saya. Saya merasakannya bagaimana kerasnya persaingan tesebut dan ketidaksukaan mereka yang telah terlebih dahulu bekerja jauh sebelum saya bekerja di tempat tersebut. Puncaknya adalah di awal tahun 2011 yang ternyata kegilaan di tempat kerja tersebut semakin menjadi-jadi.

Pada awal tahun tersebut juga saya mencari-cari informasi mengenai kuliah. Beberapa bidang peminatan serta kampus sudah dimasukkan kedalam daftar. Bidang elektro saya prioritaskan pada no 1 dan 2. Salah satu alasan bagi saya merantau ke Medan pada tahun 2010 adalah mengingat kondisi keuangan di rumah yang masih tidak stabil serta beberapa saudara yang masih kuliah dan juga sedang sekolah. Saya berfikir daripada hanya di kampung mengisi waktu luang sebagai pamadek labuah tentu hal tersebut tidak akan membesarkan air. Merantau adalah salah satu jalan keluarnya.

Maka keinginan untuk kuliah dan lepas dari pekerjaan serta meninggalkan kekacauan tersebut saya memutuskan untuk pulang kampung dan secara total untuk mengikuti bimbingan belajar. Elekro saya pilih bukan karena sebab. Saya waktu itu membikin satu riset kecil-kecilan. Jadi begini, latar belakang saya adalah tamatan SMK di bidang komputer, untuk melanjutkan kuliah baik itu Diploma 3 maupun Strata-1 saya tidak ingin memilih bidang yang sama. Alasannya adalah redudansi/pengulangan sistem pendidikan. Saya lihat kurikulum D3 maupun S1 di bidang komputer tidak jauh berbeda, lantas apa yang membedakannya? Semoga tidak hanya pada selembar ijazah saja, itu pikir saya waktu itu.

Lantas kenapa elektro? Saya melihat banyak selebriti IT di Indonesia yang berlatar belakang Elektro, Fisika, Matematika, dan lain sebagainya. Terlebih disiplin ilmu di bidang komputer mesti dipelajari secara kontinu disebabkan perubahan-perubahan yang berbanding lurus dengan kebutuhan manusia akan informasi dan efektifitas dari satu layanan. Namun saya benar-benar menginginkan landasan berpijak yang tepat untuk bidang komputer. Saya melihat elektro memang jawabannya, sebab dasar-dasar dari komputer tersebut dipelajari di elektro.

Ketika mengisi berkas pendaftaran online SBMPTN, pilihan pertama jatuh pada STEI ITB, pilihan ke dua Teknik Elektro Unand, dan terakhir pilihan pada Ilmu Komunikasi Unand. Ada kejadian menarik ketika saya mengikuti ujian di SMP 32 Jl Andalas, Padang. Hari pertama ujian dapat saya kerjakan dengan baik, pada hari ke dua saya mengalami kesulitan dalam menjawab soal-soal tersebut. Terlebih pada soal matematika ipa, biologi, fisika, dan kimia. Tentu akan jauh berbeda pelajaran di SMK dan SMA terlebih juga sudah satu tahun saya tidak ada belajar selain 1 bulan intensif di bimbingan belajar. Akhirnya saya tutuplah lembaran soal dan lembar jawaban. Saya tenangkan hati dan berzdikir. Saya katakan, Tuhan, sesungguhnya hambaMu ini telah berusaha dengan sebenarnya berusaha dan telah bersungguh-sungguh. Sekarang, Tuhan, atas nama usaha, doa serta kesungguhan hati tersebut, maka saksikanlah Tuhan. Jika STEI ITB terbaik bagi hamba, maka tuntun dan terangkanlah jalan menuju ke sana, jika tidak, apakah Elektro Unand yang terbaik bagi hamba? Maka terangkanlah jalan menuju kesana, tuntulah. Namun, jika tidak, apakah Ilmu Komunikasi Unand terbaik bagi hambaa? jika benar, maka tuntunlah dan terangkanlah jalan menuju ke sana. namun Tuhan, jika dari tiga pilihan yang hamba ambil ini tidak satupun yang Engkau izinkan, kemana biduk ini mesti hamba bawa berlayar Tuhan? tentu Engkau Maha Mengetahui, tuntulah hamba, terangkanlah jalan ini.

Saya seolahsedang bercakap-cakap seakan Tuhan ada di depan saya, saya serahkan diri padaNya dengan sepenuhnya penyerahan diri. Alhamdulillah, jika saya tidak salah ingat, di akhir bulan Juli 2011 saya dinyatakan lulus dan diterima pada Teknik Elektro Universitas Andalas.

Memasuki masa-masa kuliah, saya mengalami kesulitan dalam hal keuangan, berbagai hal saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup tentunya dengan bekerja, seperti menjadi pemateri seminar, jadi tukang service komputer, pernah berjualan kain sarung waktu itu bulan puasa, serta kegiatan lainnya. Saya masih ingat, pernah menggadaikan laptop untuk biaya kontrakan namun dengan heroiknya kakak no 3 membantu menebus laptop yang tergadai tersebut dengan uang yang beliau dapatkan menjadi asisten di laboratorium jurusan ilmu tanah.

Saya dan kakak, kami memiliki cerita yang unik ketika saya kuliah. Ketika saya masuk di tahun 2011, kakak sedang melaksanakan penelitian. Singkat cerita, kami sering ketemuan di salah satu sudut gedung kuliah, kadang sekadar berbagi uang belanja. Jadi, misalnya saya ada pekerjaan dan mendapatkan uang berlebih, maka saya akan membagi uang tersebut kepada kakak, begitu juga sebaliknya. Pernah suatu malam di depan kosnya, kami sedang ngobrol ada sate keliling yang lewat. Kakak mau traktir saya, namun lekas ia melihat uang di sakunya dan menghitung-hitungnya. Dia melihat saya dan tersenyum, kita beli sate dengan porsi segini ya. Saya tersenyum dan katakan tidak apa-apa.

Masa-masa sulit di tahun pertama tidak jarang saya sarapan pagi dengan satu atau dua bakwan di campur nasi, atau merebus telur dimana telur tersebut di bagi menjadi dua bagian. Satu bagian saya makan pagi, satu bagian saya makan siang atau malam, di kampus saya sebisanya tidak belanja. Untuk transportasi memanfaatkan bus kampus. Sering juga, jika pulang ke kos, telur yang disisihkan telah dikerubungi semut, untuk memakannya, saya mesti membersihkan dari semut tersebut.

Dari kesulitan tersebut, pada tahun ke dua saya sudah mulai mencari tambahan belanja dengan menjadi tukang service komputer. Saya juga mengajak adik-adik yang juga kesulitan dalam perekonomiannya untuk juga berusaha demikian.

Pertengahan tahun 2012, kesulitan tersebut agaknya sedikit teratasi dengan bantuan seorang dosen yang mengajak saya bekerja paruh waktu pada Puskom (Pusat Komputer) yang sekarang sudah berganti menjadi LPTIK. Saya bekerja paruh waktu dengan beliau memasukkan data-data dosen dan juga ikut projek beliau untuk membikin satu website e-commerce. Uang tersebut saya rasa cukup untuk kebutuhan sehati-hari.

Berjarak beberapa bulan setelah saya di ajak kerja paruh waktu, dosen lainnya juga mengajak saya untuk bekerja paruh waktu di divisi jaringan internet. Waktu itu saya diberikan tantangan untuk menyelesaikan satu sistem jurnal online untuk Jurusan Teknik Elektro. Saya menyanggupinya dan menyelesaikannya. Pada bulan September 2012 itu juga saya menulis sebuah paper, dimana paper tersebut berhasil lolos. Oktober 2012 saya memenuhi undangan tersebut bersama dosen yang pertama mengajak saya ke Puskom.

Untuk biaya hidup tahun 2012 sampai 2013 saya juga di bantu oleh Abang no 2. Beliau selain membantu saya juga membantu saudara dan keluarga di rumah juga.  Setidaknya beban hidup pada tahun tersebut tidak sama dengan beban hidup pada tahun pertama kuliah.

Saya akui memang tidak pandai dalam hal mengurus beasiswa sebagaimana lazimnya yang dilakukan oleh kawan-kawan. Dalam paham saya, beasiswa itu adalah amanah yang mesti dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Bahwa beasiswa tersebut didapatkan dari pajak yang dibayarkan rakyat menengah ke bawah (saya yakin bahwa rakyat kelas atas akan sulit mengeluarkan pajak). Artinya adalah, jika uang yang diterima masing-masing penerima beasiswa tersebut pandai bicara, maka ia akan bicara soal amanah dan soal harapan yang dititipkan melalui uang tersebut, barangkali begini terimalah uang ini wahai mahasiswa yang cerdik cendikiawan, maka pergunakanlah dengan baik-baik, maka dalam pada itu, setelah engkau lulus wahai kaum cerdik cendikiawan, maka bantulah mereka, bangunlah negeri ini oleh pikiranmu itu!.

Namun yang saya lihat perangai kawan-kawan yang menerima beasiswa tersebut (barangkali tidak keseluruhan tersebut) lebih kepada menghambur-hamburkan uang tersebut. Lantas, dimana letak tanggung jawab dan amanah yang mesti di pikul tersebut? Adakah kalian bersyukur?

Barangkali tulang punggung ini terlalu keras untuk membungkuk atau sekadar melunak, saya keras terhadap idealisme dan prinsip. Sebab idealisme adalah kekayan terbesar yang saya miliki. Saya memilih bergeriliya untuk memenuhi kebutuhan hidup mesti resikonya adalah nilai kuliah yang tidak baik. Tapi saya senang, senang dapat melaksanakan ke dua hal tersebut.

Saya pernah berfikir untuk menyerah namun orang tua terutama mama selalu memberikan dorongan untuk saya menyelesaikan pendidikan tersebut. Agakpun 6 tahun waang tamat, indak masalah bagi mama, begitu ucapan beliau.

Bagi saya, enam tahun dalam perkuliah ini tidak percuma. Perjalan menjadi seorang lelaki yang seutuhnya lelaki saya dapatkan disini. Bagaimana persoalan demi persoalan silih datang berganti menghampiri. Saya selesaikan satu masalah maka akan muncul lagi persoalan baru, begitu seterusnya. Bagaimana memanusiakan manusia saya lakukan juga dalam kondisi keterbatasan tersebut, mendidik beberapa adik-adik berpotensi yang terkendala dalam hal perekonomiannya, membantu kawan-kawan dan senior yang kesulitan dalam melakukan penelitian tugas akhir. Semuanya saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Enam tahun menjadikan saya belajar banyak hal juga mengenai sifat, watak, karakter manusia. Ada manusia yang hanya memanfaatkan kebaikan orang lain dan meninggalkan orang tersebut begitu saja, dan karakter-karakter lainnya. Saya akui, saya sangat bersyukur mendapatkan pengalaman luar biasa selama enam tahun ini.

Pelajaran terpenting lainnya yang saya dapatkan bahwa bersyukurlah maka akan lahir sifat sabar dalam diri. Jika sudah sabar teruslah dipertahankan, sebab sabar akan bermuara pada satu muara keikhlasan. Kita ikhlas menerima ketetapan-ketetapan yang dberikan oleh Allah, ikhlas menjalankan setiap ujian yang diberikan. Bukankah kita diingatkan untuk meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat? Jika begitu, untuk apa kita bersedih, sebab dunia tidaklah pantas membikin kita sedih apatah lagi menangisi dan meratapi hidup ini. Makrifat dari kesabran tersebut akan sampai pada puncaknya yakni berserah diri dengan sepenuhnya, dengan totalitas berserah diri. Jika kita berserah diri kepadanya, maka akan muncul rasa dalam diri bahwa hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’mannasir. 

Sebagai penutup tulisan ini, saya teringat bagaimana nasehat orang tua di Minangkabau, bahwa jauh berjalan banyak di lihat, lama hidup banyak di rasai. Cukuplah badan yang kasar terhimpit oleh pedihnya kehidupan, terhimpit oleh derita kemiskinan dan terkoyak oleh fitnah. Namun, bebaskanlah hati, jiwa, dan pikiran untuk merdeka pada jalan tauhid. At least i finished what i started.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s