Distruption

Hari kamis kemarin saya ada membaca sebuah berita menarik mengenai demo yang dilakukan sopir angkot di daerah Bukit Tinggi. Adapun demo tersebut adalah menolak hadirnya Go-Jek di kota tersebut. Jika dicermati, kasus ini serupa dengan apa yang pernah terjadi di Ibu Kota perihal penolakan ojek pangkalan terhadap hadirnya Go-Jek atau kasus yang terbaru adalah tuntutan taxi konfensional terhadap Go-Car, Grab, Uber.

Ada suatu benang merah yang dapat kita tilik dari kasus tersebut yakni ojek konvensional, taxi, angkot dalam keseharian aktifitas masih menggunakan cara-cara tradisonal. Ojek misalnya, dengan cara mangkal di pangkalan ojek menanti penumpang yang handak menggunakan jasanya. Dengan cara seperti ini dapat kita pastikan penghasilan tidak menentu sebab mobilitas masyarakat saat ini yang menuntut dilakukan serba cepat menjadikan pengguna jasa ojek telah bertransformasi dari mampir ke pangkalan ojek menjadi menunggu ojek tersebut datang menjemput pelanggan (istilah lainnya menjemput bola). Begitu juga dengan taxi konfensional yang cenderung melakukan ngakalin argo dengan cara beragam, seperti memainkan gas mobil, ataupun membawa penumpang berkeliling.

lantas muncullah apa yang kita lihat saat ini pesaing yang tidak terlihat dari pemain lama tersebut. Imcumben yang masih mempertahankan cara-cara tradisonal tersebut akan kalah dengan sendirinya dengan pendatang baru yang hadir dengan kemudahan akses serta menunjang mobilitas yang tinggi. Saya melihat fenomena-fenomena penolakan yang muncul tersebut adalah wujud tidak mampunya imcumben bersaing dengan pendatang baru bahkan tidak menutup kemungkinan akan menenggelamkan imcumben itu sendiri. Kita akan lihat beberapa kasus yang menarik dari raksasa perusahaan yang sebelumnya berjaya namun perlahan saat ini mulai merosot. Fenomena ini dapat kita katakan dengan distruption.

Dalam pada itu, fenomena distruption tidak hanya terjadi pada moda transportasi yang kita bicarakan di atas. Saya rasa kedepannya pelaku industri kuliner yang memiliki restoran patut waspada dengan pesaing-pesaing yang tidak tampak tersebut. Katakanlah dengan hadirnya aplikasi Go Food salah satunya, pelaku usaha kuliner cukup berafiliasi dengan Go Food dengan begitu jika ada pesanan yang masuk ke list app maka pengelola kuliner cukup menyiapkan masakan/manakan tersebut. Kita bayangkan kedepannya jika lapar tidak perlu antri panjang d suatu kedai nasi ataupun restoran, cukup hanya dengan menekan tombol di layar gawai, tidak butuh waktu lama maka pesananan akan datang.

Pada tahun 2006 Don Tapscott dan Anthony Williams memperkenalkan istilah Wikinomics, adalah upaya kolaborasi yang lebih murah dan lebih mudah melalui Internet. Hal ini memungkinkan sejalan dengan perkembangan web itu sendiri, yang semula web hanya berisi konten statis (web 1.0), beralih kepada web yang dinamis dimana ada interaksi antara user dengan aplikasi web (web 2.0), hingga pada web yang tidak hanya dapat interkasi dua arah atau lebih bahkan mampu untuk berbagi data, file, serta kebutuhan lainnya (web 3.0). Dengan begitu, inofasi adalah kunci, jika tetap bermain denga cara lama maka bersiaplah tenggelam dan hancur.

Kesimpulannya bahwa hadirnya aplikasi yang nyatanya telah memudahkan aktifitas masyarakat urban saat ini tidak dapat dijadikan suatu kecaman oleh pemain lama (incumben), namun perlu juga regulasi dari pemerintah terutama berkaitan pentingnya keselamatan dan keamanan pengguna moda transportasi online.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s