– tentang jawaban atas diskusi dengan Cak Tarno di FIB UI

Hari depan adalah ruang kosong, kita tak tahu bagaimana nasib mempertautkan almanak takdir, jika sekarang sebagai yang tak berarti dari suatu ketiadaan hingga yang ada merupakan suatu dimensi yang mesti di isi dari berbagai sisi. Yang ada adalah suatu ketiadaan, ketiadaan adalah keabadian mutlak. Permulaan dari segala kehidupan dan kembali kepada sunyi. Hanyalah diri yang sebenarnya diri yang mengetahui.

Penenun di Pandai Sikek paham benar bagaiamana menarikan gurat asa dalam helai benang, menenun hari baik lalu memuntal hari buruk serta hari lalu. Jadilah kain yang membentang hari depan.

Hidup memerlukan persoalan untuk mendewasakan diri, penderitaan bukan perihal kenestapaan diri ataupun nelangsa mengutuk kehidupan. Permasalahan adalah guru yang senantiasa hadir dalam menapaki hidup dan kehiudpan menjadi manusia seutuhnya. Permasalahan adalah amuk diri dalam tirakat yang sedang dibangun. Hidup adalah kefanaan, sebagaimana siang menyudahi pagi yang tak mungkin kembali. Dan siang akan dilangkahi malam, tirakat diri adalah kefanaan yang utuh.

Di suatu tempat, seorang yang tidak menamatkan pendidikannya di bangku sekolah, suatu ketika hidup memeluknya yang dingin. Jadilah ia seorang yang memberikan makna bagi sekitar. Hidup adalah umpama matahari yang senantiasa terbit dari ufuk timur, menerangi alam hingga ketidakberdayaan sejati menyeretnya kedalam palung yang paling sunyi. Hingga tenggelam di bagian barat. Sejengkal jarak antara azan dan iqamah.

Hari esok adalah ruang kosong dan suatu misteri yang dingin. Terkadang hidup seperti bola bekel yang memantul tak tentu arah. Namun bukan berarti permukaan lintasan pantulan yang tak datar. Namun kembalikan pada diri yang memantulkan adakah ia melihat cerminan diri dalam pada itu. Jangan salahkan lantai yang bergoyang jika diri tak pandai menari. Simpan saja resultansi tersebut hingga menjadi suatu energi kinetik. JIka waktunya tiba, lesatkan dengan tepat hingga benar ledakan energi potensial tersebut bagai lesatan laser.

Surau dan gelanggang hanyalah kenang yang menjadi angan, tak lagi menjadi bekal diri dalam perjalanan yang semestinya. Maka jadilah aku si perantau yang menyusun tubuh yang utuh pada hakikat diri. Dan hari lalu adalah bengkalai yang tak usai. Jika malam tiba, mesti di tutup dengan pantun yang berjengkal makna di iringi tingkah saluang.

Aku mainkan pula palayaran, tentang orang-orang yang gamang di perjalanan. Gamang adalah kesementaraan dalam purnama penuh yang telah berlalu. Dan saluang pelayaran yang dimainkan, adalah mengenang setiap persinggahan diri, sejauh mana perantauan telah membawa diri yang lahir serta memaknai sunyi bagi diri yang batin.

Perihal pelajaran surau tersebut, tentang timbangan periksa pada rasa. Memisahkan antara materi dengan non-materi, antara wujud dan non-wujud. Sama’ yang diberikan berupa telinga sebagai indra pendengar, Bashar yang diberikan berupa mata sebagai indra penglihatan, dan Khalam diberikan berupa mulut untuk bicara. Bermula tiga anggota tubuh, ialah menjadi timbangan rasa di dalam diri sanubari. Rasa yang muncul di naikkan menjadi timbangan logika. Maka timbang patutlah mana yang mungkin, sebab diantara manusia senatiasa setan melingkupi. Jangan tergesa, dekat pada diri masih ada resah. Bawa turunlah timbangan akal tersebut, biarkan kebenaran hakiki menuntun  dan serta memisahkan perkara hak dan batil. Sebab setiap rasa wajib diperiksa, emas tahan sepuh, loyang tahan gosok. Disepuh benar imitasi maka bayang tembaga tampak juga.

Aku aamiinkan setengah doa pada hitam legam kopi, meski pahit namun selalu menjadikan rindu untuk meneguknya. Begitulah hidup, mestipun pahit senantiasa rindu untuk menyudahinya. Dan rindu adalah manifestasi kesunyian hakiki, rindu melahirkan cinta pada semesta. Dan jantungku adalah rindu yang senantiasa tawaf.

Aku sudahi malam, sesudah dendang palayaran tentu adalah surantiah. Hidup tak mesti berjalan pada tubuh yang lahir, mata lepas pada pandangan sekitar namun badan terkurung. Perlu keinsyafan yang batin untuk melihat kebenaran yang hakiki. Terhimpitlah diluar walau  meski musim buruk yang membikin rebah kuda datang tiba-tiba.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s