Melawat Hari Lalu

Semakin jauh diri dalam kelana membawa pengembaraan meninggalkan sejenak tanah pangkal menuju sebuah perantauan. Maka, tiadalah heran jika dalam perjalanan tersebut acap kali bertemu dengan sandungan-sandungan, pada kerikil kecil yang membikin jatuh ataupun pada kerikil besar yang dihantam membikin tersungkur.

Sering kita bertanya perihal esensi kehidupan ataupun mengenai permasalahan yang hadir menemani relung ruang kehidupan. Sebagaimana dalam paham saya bahwa gesekan dalam kehidupan manusia sejatinya adalah esensi dari hidup itu sendiri. Gesekan adalah ranah aktualisasi guna menjadikan manusia tersebut seorang pembelajar.

Akan menyerah dengan takdir dan membiarkan nasib buruk demi nasib buruk menyeret dalam kekalutan ataupun menyelesaikan teka-teki dari hadirnya persoalan tersebut, kembali kepada manusia itu sendiri. Bahwa sesungguhnyalah  Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka*. Lantas, apatah lagi yang menjadi kecemasan terhadap perjalanan kehidupan tersebut. Bahwa harta adalah sebuah kelenaan bagi manusia dan begitu juga segala yang Allah SWT titipkan kepada manusia. Kaya akan jadi ujian jika manusia lalai, lalu dari mempergunakan harta tersebut pada tempat semestinya dan menunaikan kewajiban atas harta tersebut, pun begitu juga dengan miskin adalah ujian juga kepada manusia tersebut. Miskin akan jadi ujian jika manusia tidaklah bersabar, mengumpati nasib dan sebagainya.

Tiadakah kita paham bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu**.  Jikalaulah kita paham, ketika diberikan rezeki maka bersyukurlah dan pergunakan seperlunya sebab ketika ketiadaan dikemudian hari kita tiadalah gamang dan cemas akan kekurangan sebab semuanya telah di atur sedemikian. Pendeknya, berbahagia dan bersuka cita seperlunya kelak ketika mendapati duka cita tiadalah kita gamang.

Berbicara mengenai hari lalu, tidak terlepas dari melawat hari lalu dan bengkalai-bengkalai yang tidak usai. Saya menyukai saluang, rabab, salawat dulang serta berbagai kesenian klasik Minangkabau. Dengan melawat harilalu dengan media kesenian klasik, saya meninjau bagaimana persoalan persoalan itu muncul, sebab esensi persoalan itu sama, masalah itu akan kembali terulang namun yang berbeda adalah ruang dan waktu terjadi persoalan tersebut. Melawat harilalu untuk merawat hari depan, menelaah tragis dan kepiluan kehidupan yang terjadi, meninjau jarak mengukur bayang. Dengan demikian, dapatlah kita paham bahwa tahu dimana ranting akan mencucuk, dahan akan menimpa, dan jatuh menimpa dari bawah.

Pohon-pohon akan menggugurkan daun lama berselang akan meranggas hingga lapuk, daun pintu dikemudian hari dihinggapi rayap dan melapuk. Semua ada batasnya, bagaimana dengan manusia? Usia akan membawa manusia dalam ketidakberdayaan sejati, selagi hayat di kandung badan maka berani pakai. Hidup tidaklah mengepalang tanggung. Esensi dari perantauan dengan sekelumit persoalan dapatlah dijadikan bahan mendidik menunjuk-ajari anak serta kemenakan untuk memanusiakan manusia dengan memerdekakan akal serta pikirannya. Maka, tiadakah kita berfikir dan belajar? Tidakkah kita mengambil contoh kepada yang sudah, mengambil tuah kepada yang menang?.

Melawat hari lalu menelaah hari depan, merawat bingkai kehidupan. Badan sampai dan pikiranpun sudah.

*QS 13:11

**QS 29:62

Iklan

2 respons untuk ‘Melawat Hari Lalu

  1. Assalamualaikum wr.wb

    Ananda Ikbal,
    Mandeh sudah baca artikel ini. Mendalam bagi pembaca yg paham dan tentunya menjadi nasehat bagi diri dan orang lain. Teruslah berjalan meskipun kita berkali kali tersungkur. Jika kau tersungkur pertanda masih ada yang salah. Berjalanlah lurus dengan pandangan wajah kedepan. Jangan kau menunduk bagai keledai atau mendongak bagai jerapah Jangan pula pernah menyarah pd nasib karena nasib dilawan dg ikhtiar dan usaha. Merantau di manapun tetaplah berat karena badai yg menerpa terlalu kuat. Tetapi tat kala ada angin yang lembut dan ada penganjung yang kokoh serta teraju yg kuat. Insya Allah ikbal akan bisa mengudara secara pelan tapi pasti berkat rahmatNys. Aamiin ya Rabb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s