no 43

meruang setapak jalan basah
di hadapan gerbang surau
aku ucapkan salam
merunduk masuk ke dalam
inilah diri
mencari hakiki
merundukkan kesombongan serta
keangkuhan melekat di badan
memasuki ruang ruang sunyi

duduk dalam kepasrahan
pada sehelai tikar pandan
wahai jiwa yang murung
dan duka yang nelangsa
aku bakar segala keresahan

pada zdikir yang mengambang
timpa bertimpa kegelisahan datang
bersidetak hentak
dalam daging terselubung onak

adat hidup tahu bilamana
ranting akan mencucuk
jatuh menimpa dari bawah

dalam ruang ruang sunyi
aku lawat surau
kenang hinggap menjadi angan
serta hari lalu yang membikin ngilu

duka adalah diri tidak lagi
mengetahui apa yang di tuju,

waktu yang rawan
dan jarum yang terus menghujam
sepantun badan dengan
dalam air badan berpeluh
maka, apa yang tiada indah
dari sebuah kepasrahan
selain Innalillahi
lepaslah diri
menanggalkan superioritas.

dalam pada itu,
zdikir adalah setapak jalan
menuju sanubari.
aku bangun surau di dalamnya
Hu kata aku, Allahu kata diri aku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s