Dalam Air Badan Berpeluh

saya tulis tulisan ini sebagai obat kerinduan kepada kedua orang tua. dan kepada Ibunda, ananda teringat kita pernah berdiskusi perihal pantun ini suatu hari. Rilakanlah Ibunda, berilah maaf anak-anakmu yang engkau besarkan dengan air mata, semoga dengan ikhlasnya engkau, menjadikan pahala yang berlimpah dan keberkahan serta keselamatan kelak di akhirat. 

Perihal Pantun Minangkabau sebenarnya belum ada kajian yang mendalam mengenai hal ini, kecuali oleh R.J. Chadwick (1994) yang juga masih terbatas membicarakan bentuk majas tak sempurna (unconsummated methaphor) dalam pantun-pantun Minangkabau. Namun begitu, tidak salah rasanya dengan merujuk pantun sebagai salah satu dokumen sosial yang dengannya kita kita melihat sosial masyarakat di Minangkabau serta bahasa sebagai alat kontrol sosial.

R.J. Chadwick dalam penelitiannya yang berjudul UNCONSUMMATED METAPHOR IN THE MINANGKABAU PANTUN mengatakan bahwa pantun Minangkabau pekat kiasannya. Sampiran dan isi dihubungkan oleh majas yang jauh lebih halus dan samar dibanding pantun Melayu, sehingga “sulitnya menafsirkan pantun Minangkabau terletak pada watak bahasa yang digunakan yang sangat samar dan susah dipahami”.

Adapun yang akan penulis ketengahkan kepada pembaca pada tulisan kali ini adalah percikan permenungan dari sebuah lagu yang dibawakan oleh orkes Gumarang dalam album Kampuang Nan Djauh Di Mata dengan judul Buruak Pinto.

Urang mudo nak Pagaruyuang
Yo nak lalu ka Sawahlunto
Bukan salah bundo manganduang
Iyolah badan nan buruak pinto

Anak ayam di rumpun buluah
Duo tigo baru manateh
Dalam aia badan bapaluah
Konon lah pulo ditimpo paneh

Anak urang Kampuang Tarandam
Pasa Usang bali kaliki
Dima badan indak ka karam
Layia lah usang, biduak pun tirih

Kita bahas bagian pertama, pada bagian isi bagian pertama menggambarkan sistem matrilineal di Minangkabau. Kepercayaan pada garisan nasib oleh Tuhan sejak dari rahim Ibu direfleksikan dalam bait bukan salah bundo manganduang. Perihal takdir dapat kita lihat pada bait berikutnya Iyolah badan nan buruak pinto. 

Sebelum melanjutkan pada pembahasan bagian pertama dari pantun tersebut, sedikit saya menjelaskan arti pinto. Dalam kamus Van-Der-Toon, J.L., 1891. Minangkabausch-Maleisch-Nederlansch. ‘S Gravenhage, Martinus Nijhoff. Pinto diartikan verzoeken, vragen, bidden om iets. Pinto dapat diartikan kehendak, kemauan, serta perilaku ataupun perangai.

Baiklah, kembali kepada pangkal pembicaraan. Kita bedah pantun tersebut dengan pendekatan-pendekatan terhadap sendi kehidupan masyarakat Minangkabau yakni Islam. Bagian pertama berisi nasehat tentang pentingnya menghormati kedua orang tua, berbuat baik kepadanya.

Selanjutnya kita akan merujuk kepada Surat Al Isra’ ayat 23-24

Saya merujuk kepada tafsir Ibn Katsir untuk memahami ayat tersebut.  Allah Swt. memerintahkan (kepada hamba-hamba-Nya) untuk menyem­bah Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya. Kata qada dalam ayat ini me­ngandung makna perintah.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan mak­na firman-Nya, “Waqada” bahwa makna yang dimaksud ialah memerin­tahkan.

Hal yang sama dikatakan oleh Ubay ibnu Ka’b, Ibnu Mas’ud., dan Ad-Dahhak ibnu Muzahim; mereka mengartikannya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.”

Selanjutnya disebutkan perintah berbakti kepada kedua orang tua. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا}

dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu. (Al-Isra: 23)

Yakni Allah memerintahkan kepadamu untuk berbuat baik kepada ibu bapakmu. Makna ayat ini sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ}

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)

Adapun firman Allah Swt.:

{إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ}

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan ‘ah’ kepada keduanya (Al-Isra: 23)

Artinya, janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang buruk kepada keduanya, sehingga kata ‘ah’ pun yang merupakan kata-kata buruk yang paling ringan tidak diperbolehkan.

{وَلا تَنْهَرْهُمَا}

dan janganlah kamu membentak mereka. (Al-Isra: 23)

Yakni janganlah kamu bersikap buruk kepada keduanya, seperti apa yang dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah kamu membentak mereka. (Al-Isra: 23) Maksudnya, janganlah kamu menolakkan kedua tanganmu terhadap keduanya.

Setelah melarang mengeluarkan perkataan dan perbuatan buruk ter­hadap kedua orang tua, Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan bertutur sapa yang baik kepada kedua. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا}

dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Al-Isra: 23)

Yaitu bertutur sapa yang baik dan lemah lembutlah kepada keduanya, serta berlaku sopan santunlah kepada keduanya dengan perasaan penuh hormat dan memuliakannya.

{وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ}

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan. (Al-Isra: 24)

Yakni berendah dirilah kamu dalam menghadapi keduanya.

{وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا}

dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka kedua­nya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Isra: 24)

Maksudnya, berendah diriiah kepada keduanya di saat keduanya telah berusia lanjut, dan doakanlah keduanya dengan doa ini bilamana keduanya telah meninggal dunia.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

{مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى}

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik. (At-Taubah: 113), hingga akhir ayat.

Hadis-hadis yang menyebutkan tentang berbakti kepada kedua orang tua cukup banyak, antara lain ialah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Anas dan lain-lainnya yang mengatakan bahwa pada suatu hari Nabi Saw. naik ke atas mimbar, kemudian beliau mengucapkan kalimat Amin sebanyak tiga kali. Maka ketika ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau aminkan?” Maka Nabi Saw. menjawab:

“أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ دَخَلَ عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ خَرَجَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ”

Jibril datang kepadaku, lalu mengatakan, “Hai Muhammad, terhinalah seorang lelaki yang namamu disebut di hadapannya, lalu ia tidak membaca salawat untukmu. Ucapkanlah ‘Amin’.” Maka saya mengucapkan Amin lalu Jibril berkata lagi, “Terhinalah seorang lelaki yang memasuki bulan Ramadan, lalu ia keluar dari bulan Ramadan dalam keadaan masih belum beroleh ampunan baginya. Katakanlah, ‘Amin’.” Maka aku ucapkan Amin. Jibril melanjutkan perkataannya, “Terhinalah seorang lelaki yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah seorangnya, lalu keduanya tidak dapat memasukkannya ke surga. Katakanlah, ‘Amin’.” Maka aku ucapkan Amin.

Hadis lain.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا هُشَيْم، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ، أَخْبَرَنَا زُرَارَة بْنُ أَوْفَى، عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ -رَجُلٍ مِنْهُمْ -أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ ضَمَّ يَتِيمًا بَيْنَ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ إِلَى طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ عَنْهُ، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةَ، وَمَنْ أَعْتَقَ امْرَأً مُسْلِمًا كَانَ فَكَاكه مِنَ النَّارِ، يُجْزَى بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنْهُ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Malik ibnul Haris, dari seorang lelaki yang tidak disebutkan .namanya, bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw. bersabda: Barang siapa yang menjamin makan dan minum seorang anak yatim yang kedua orang tuanya muslim hingga anak yatim itu tidak lagi memerlukan jaminannya, maka wajiblah surga bagi­nya. Barang siapa yang memerdekakan seorang budak muslim, maka akan menjadi tebusan baginya dari neraka, setiap anggo­ta tubuh budak itu membebaskan setiap anggota tubuhnya.

Kemudian Imam Ahmad mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ زَيْدٍ -فَذَكَرَ مَعْنَاهُ، إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: عَنْ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ يُقَالُ لَهُ: مَالِكُ أَوِ ابْنُ مَالِكٍ، وَزَادَ: “وَمَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَدَخَلَ النَّارَ، فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ”

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, bahwa ia pernah mendengar Ali ibnu Zaid mengatakan hadis ini, lalu Imam Ahmad menuturkan hadis yang semakna. Hanya dalam riwayat ini disebutkan ‘dari seorang lelaki dari kalangan kaumnya’ yang dikenal dengan nama Malik atau Ibnu Malik, dan ditambahkan dalam riwayat ini: Barang siapa yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya, lalu ia masuk neraka, maka ia adalah orang yang dijauhkan oleh Allah (dari rahmat-Nya).

Dapatlah sekiranya kita memahami bahwa pentingnya berlaku baik kepada kedua orang tua. Melawan kepada kedua orang tua mendatangkan keburukan terhadap diri sendiri. Begitulah pesan yang disampaikan pada pantun pertama. Tiada benar salah orang tua dari buruk perangai diri, sungguhpun diri yang tiada menurti nasehat kedua orang tua. Celakalah diri kesudahannya.

Tentu kita bertanya-tanya, hal apa yang menimpa seorang yang tiada mengindahkan nasehat orang tua dikemudian hari. Peringatan itu tergambar dalam isi pantun ke dua

Dalam aia badan bapaluah (dalam air badan berpeluh)
Konon lah pulo ditimpo paneh (apatah lagi di timpa panas)

Air mendatangkan kesejukan bagi manusia sedangkan panas nyata-nyatanya membikin badan berpeluh. Maka suatu keniscayaan rasanya di dalam air badan berpeluh, inilah kiasan yang sangat tajam untuk memberikan nasehat kepada manusia. Bahwa ada sesuatu yang salah terhadap diri. Tentunya kita akan bertanya-tanya perihal keganjilan tersebut.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Jika hati rusak disebabkan maksiat, keharaman dan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya) tiadalah salah nasehat di atas kita terjemahkan demikian. Hati yang rusak tiada mendapatkan keteduhan serta kenyamanan. Saat dimana orang berbahagia berada pada suatu lingkungan, mereka yang rusak hatinya karena tiada mendapatkan ketenangan hati akan senantiasa mendapati gelisah dan resah tiada berkesudahan.

Bagaimana mendapatkan ketenangan tersebut? jawabannya ada di surat Al Fath ayat 4

{هُوَ الَّذِي أَنزلَ السَّكِينَةَ}

Dialah yang telah menurunkan ketenangan.

Yang dimaksud dengan sakinah ialah ketenangan. Menurut Ibnu Abbas r.a., yang dimaksud adalah rahmat. Menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah ketenangan dalam hati orang-orang mukmin, yakni para sahabat di hari Hudaibiyah; mereka adalah orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya serta tunduk patuh kepada hukum Allah dan rasul-Nya. Setelah hati mereka tenang dan tenteram, maka Allah menambahkan kepada mereka keimanan selain dari keimanan yang telah ada pada diri mereka.

Dari pantun pertama dan kedua, mulailah kita paham nasehat dari betapa perilaku melawan kepada kedua orang tua dapat berdampak buruk. Barangkali cukuplah Malin Kundang yang durhaka kepada orang tuanya menjadi pelajaran bagi kita. Ambil contoh kepada yang sudah.

Pantun ketiga merupakan penutup semakin mempertegas keadaan seorang yang tiada mempunyai tujuan dalam hidupnya. Betapa badan tidak karam, sementara layar yang dikembang untuk berlayar di samudera kehidupan sudah usang, tambah daripada itu biduk sudah diris pula. Betapa meruginya manusia yang seperti itu.

Betapa akhirnya kita paham bahwa pentingnya mendengarkan nasehat dari kedua orang tua, berbakti kepada kedua orang tua. Selagi mereka masih hidup patut kita berbakti dan terlebih sekali ketika mereka telah beranjak menua, rambut sudah mulai beruban, kulit sudah mulai kendur, mata sudah mulai rabun, gigi sudah mulai tanggal, serta kepayahan yang mereka hadapi. Sepatutnya kita merawatnya, bukankah dahulu ketika kita lemah tiada biasa melakukan apapun di atas dunia ini, merekalah yang senantiasa ada untuk kita? Lantas kenapa kita tiada berbakti kepadanya?.

Sebagai penutup, jika sesat di ujung jalan maka kembalilah kepada pangkal jalan. Mendayung tidak sependayung sampai serta melangkah tidak selangkah sampai pada tujuan. Jika timbul keinsafan dalam diri, maka kembalilah kepada pangkal jalan. Jangan sampai rumah tampak jalan tidak tentu, angan lalu paham tertumbuk. Kembali untuk memperbaiki hati, sebab disanalah ketenangan itu didapatkan jika hati tersebut baik serta tidak lupa untuk meminta maaf kepada kedua orang tua sebab karena perangai kita mereka berurai air mata. Sebagaimana dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28

Berbaktilah kepada kedua orang tua, sehingga Allah ridho terhadap setiap langkah perjalanan kehidupan yang dijalani. Dari Abdullah Ibnu Amar al-Ash radliallahu anhu bahwa Nabi bersabda: “Keridhoan Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (Hadits riwayat Tirmidzi).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s