Menyilau Hari lalu dan Beban Historis

“….wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad….”
(Perhatikanlah sejarahmu, untuk masa depanmu)(Q.S 59:18).

Sejarah adalah cerminan bagi manusia untuk belajar, ia adalah pohon yang senantiasa tumbuh dari perjalanan manusia menunggangi tubuh waktu. Manusia dapat belajar dari sejarah, mengambil contoh kepada yang sudah dan mengambil tuah kepada yang menang. Perihal hari lalu serta persoalan yang terjadi dapat menjadi telaah dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Jika kita amati, esensi dari apa yang terjadi pada hari lalu ataupun persoalan yang terjadi di hari lampau adalah sama dengan yang terjadi pada saat sekarang, yang membedakannya adalah ruang dan waktu kejadian.

Sebagaimana yang kita pahami bersama perihal pemeo yang sering kita dengar bahwa Sumatera Barat sebagai pabriknya pemikir-pemikir. Hal ini dapat kita tinjau melalui buku yang berjudul Asal-Usul Elit Minangkabau Modern yang ditulis oleh Elizabeth E. Graves. Pada tahun1930 orang Jawa mencapai 47 persen penduduk Hindia Timur Belanda. Ditambah lagi orang Sunda di Jawa Barat dan Madura-ketiga kelompok etnis yang bersama-sama dipandang negara sebagai jantung budayanya-maka jumlahnya mencapai 70 persen penduduk. Pada masa itu, orang Minangkabau hanya 2,36 persen penduduk Hindia, kurang dari dua juta orang.

Budaya Minangkabau yang egaliter di dataran tinggi Sumatera Barat telah melahirkan pemimpin Indonesia generasi pertama yang dinamik serta dengan bermacam ragam corak ideologi. Diantaranya; Haji Agus Salim (lahir 1884), negarawan dan menteri luar negeri; Mohammad Hatta (lahir 1902), wakil presiden pertama; Muhammad yamin (lahir 1903), filsuf nasionalis; Muhammad Natsir (lahir 1908), politikus islam; Hamka (lahir 1908), ulama; Sutan Sjahrir (lahir 1909), sosialis dan perdana menteri pertama; Rasuna Said (lahir 1910), pemimpin revolusioner dan politikus; Tan Malaka (lahir 1896), filsuf revolusioner.

Sejarah bukanlah untuk melenakan, apa yang terjadi di hari lalu telah usai. Mereka telah berbuat pada zamannya, kita tidak dapat terbuai begitu saja menjadi orang-orang yang hanyut dalam angan-angan. Oleh karena hal tersebut, patutlah kita renungkan bersama perihal kemerosotan moral yang saat ini tengah mengancam Sumatera Barat.

Sekali air besar maka sekali pula tepian berubah, zaman beralih waktu berganti. Manusia berintegrasi serta mengaktualisasikan diri guna menciptakan budaya sebagai manusia yang humanitas dan membuat catatan-catatan sejarah. Dalam pada itu, manusia melakukan apa yang disebut sebagai aktualisasi diri. Sesungguhnya bahwa aktualisasi adalah upaya seorang manusia atau sekelompok manusia untuk memperlihatkan keberadaannya di tengah-tengah kelompok masyarakat. Namun, tidak jarang kita lihat aktualisasi jusru dilakukan secara menyimpang yang berujung kepada tindakan anarkis ataupun kriminalitas. Hal tersebut dapat kita lihat pada kondisi Sumatera Barat saat ini.

Saya menggunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat, data yang saya ambil dari Statistik Ketahanan Sosial Sumatera Barat yang di rilis pada tanggal 2 Desember tahun 2016.

Pertama, kita lihat terlebih dahulu tabel indikator kriminalitas Nasional dan regional Sumatera pada tahun 2015 berikut ini

Pada tahun 2015, tiga provinsi dengan angka crime clock tertinggi secara berturut-turut sebagai berikut: 1. Provinsi Sumatera Utara sebesar 00.14’54” (setiap 14 menit terjadi satu tindak kejahatan di Sumatera Utara); 2. Provinsi Sumatera Selatan sebesar 00.25’32” (setiap 25 menit terjadi satu tindak kejahatan di Sumatera Selatan); 3. Provinsi Sumatera Barat sebesar 00.32’17” (setiap 32 menit terjadi satu tindak kejahatan di Sumatera Barat). Penyelesaian tindak pidana tertinggi di tahun 2015 berturut-turut yaitu Provinsi Lampung sebesar 69,57 persen, Provinsi Sumatera Utara sebesar 58,94 persen dan Provinsi Riau sebesar 56,15 persen.

Perlu menjadi catatan bahwa kejahatan bisa sangat dipengaruhi dengan banyaknya jumlah penduduk di suatu wilayah. Hal ini terlihat dari tabel di atas bahwa meskipun Sumatera Barat dari sisi jumlah kejadian (crime total) berada pada posisi ketiga di Regional Sumatera, tetapi dari sisi tingkat resiko terkena kejahatan (crime rate) berada pada tingkat pertama yaitu 317 (setiap 100.000 penduduk di Sumatera Barat diperkirakan sebanyak 317 orang diantaranya yang beresiko terkena tindak kejahatan).

Secara umum telah terjadi peningkatan jumlah kejahatan secara nasional dan Sumatera Barat yang juga meningkatkan resiko masyarakat atas tindak pidana namun hanya separuh yang dapat terselesaikan. ini berarti kualitas kejahatan semakin tinggi yang menuntut kesiapan sumber daya yang ada. Sejalan dengan semakin meningkatnya angka kejahatan dari tahun ke tahun pada periode 2013-2015, jumlah penduduk yang berisiko terkena tindak pidana juga meningkat. Selang waktu kejadian kejahatanpun semakin menurun seiring dengan meningkatnya kejadian kejahatan dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 2013 setiap 36 menit terjadi tindak kejahatan di Sumatera Barat, maka pada tahun 2015 satu tindak kejahatan terjadi setiap 32 menit. Angka tersebut dapat kita lihat pada tabel berikut dibawah ini.

Sebagai pembanding, kita akan lihat bagaimana tingkat kemiskinan di Sumatera Barat dari tahun 2013 – 2015. Kemiskinan merupakan suatu indikator meningkatnya perilaku kriminalitas di suatu wilayah. Jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Barat pada September 2015 sebesar 349.592 orang, mengalami penurunan dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada September 2012 yang berjumlah 401.521 orang. Berarti terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 51.992 orang dalam kurun waktu 3 tahun.

Tingkat kemiskinan menurun dari 8,00 persen menjadi 6,71 persen selama September 2012-Septermber 2015 atau perentase penduduk miskin turun sebesar 1,29 persen. Dilihat menurut daerah, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan maupun di daerah perdesaan mengalami penurunan.

Telah bersua sebagaimana adat lama petuah orang tua bahwa jangan hilang kerbau oleh pengembala. Jika sesat di ujung jalan maka kembali pada pangkal jalan, sesat di ujung kaji maka sigi dan telaah kembali kepada pangkal kaji. Tentulah kita bertanya dan heran, suatu daerah yang dahulunya terkenal sebagai gudang pemikir cerdas kini mengalami kemerosotan yang sangat luar biasa, tingkat kriminalitas semakin tumbuh setiap tahunnya.

Kebanyakan kita hari ini berbicara tentang Minangkabau hanya terkait ide-ide besar yang bermuara pada kebudayaan yang bersifat lahir, contoh menjadikan saluang sebagai warisan dunia tetapi kita lupa akan nilai-nilai pembentuk dari kebudayaan itu salah satu yang penting adalah tasawuf. Nilai–nilai tasawuf merupakan unsur pembentuk kebudayaan Minangkabau itu sendiri. Nilai-nilai ini akhirnya mampu memberikan solusi untuk Minangkabau hari ini.

Jika kita runut dalam catatan sejarah, Islam masuk ke Sumatra barat pada 1500-an, menggantikan animisme dan buddhisme dalam suatu proses yang masih belum sepenuhnya di pahami. Thomas Dias, seorang mestizo Portugis yang mengunjungi dataran tinggi itu pada 1684, melaporkan melihat haji-haji di istana raja. Selanjutnya pada abad ke-17 tarekat Sufi utama didirikan di pesisir Ulakan.

Saya melihat persinggungan yang begitu intim antara tarekat dengan budaya lisan di Minangkabau, dimana bahasa digunakan sebagai alat kontrol sosial disampaikan dengan cara yang sangat halus. R.J. Chadwick dalam penelitiannya yang berjudul Unconsummated Metaphor in the Minangkabau Pantun mengatakan bahwa pantun Minangkabau pekat kiasannya. Sampiran dan isi dihubungkan oleh majas yang jauh lebih halus dan samar dibanding pantun Melayu, sehingga “sulitnya menafsirkan pantun Minangkabau terletak pada watak bahasa yang digunakan yang sangat samar dan susah dipahami”. Jika disandingkan dengan gaya bahasa sufi, maka akan terlihat persamaan yang kentara, bagaimana penggunaan majas serta kata-kata bersayap yang membutuhkan analisa serta telaah mendalam untuk memahami setiap ungkapan.

Salah satu cara untuk mendalami Minangkabau melalui sudut pandang tasawuf, yakni dengan ilmu rasa. Hal ini tidak akan dapat terwujud dalam melakukan rekonstruksi sejarah Minangkabau jika bercampur dengan aktualisasi diri dan status kedudukan. Rekonstruksi sejarah Minangkabau merupakan wasilah untuk “mendapatkan-Nya”. Saya melihat tirai-tirai nilai luhur kebudayaan tersebut masih tersembunyi di balik semiotik dan simbol-simbol, semisal pada motif ukiran dan lain sebagainya. Hal yang mesti ada untuk keberlanjutan kebudayaan Minangkabau ini adalah sebuah lembaga kaderisasi untuk menjaga, di Jawa dapat kita lihat berupa pesantren salah satunya. Namun, di Minangkabau saat ini bisa dikatakan nyaris punah.

Merujuk pada fenomena yang saat ini terjadi di Sumatera Barat, saya melihat ada kecenderungan lari dari nilai-nilai luhur dalam pencarian jati diri. Artinya bahwa dunia mulai masuk dalam qalbu. Akhirnya pembicaraan Minangkabau hanya sampai pada persoalan profan: perseteruan masalah harta pusaka, perseteruan tatacara seremonial, perseteruan status sosial serta gelar dan kedudukan, dan sebagainya. Namun, yang tuah benar telah hilang sudah.

Tidak persoalan perahu yang berlayar di atas air,
yang akan jadi persoalan yakni air masuk dalam perahu.
Tidak persoalan menaklukkan dunia dengan qalbu,
yang akan jadi persoalan yakni dunia masuk dalam qalbu.

Adat dan kebudayan Minangkabau bukanlah suatu benda yang abadi, konflik dan pembaharuan silih berganti. Misalnya konflik antara Padri dengan kaum tradisionalis Minangkabau, sebuah upaya yang dilakukan oleh Muhammad Shahab yang kemudian lebih dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol bersama kawan seperjuangannya-harimau nan salapan-untuk memurnikan ajaran Islam-melalui memoarnya, Muhammad Shahab mengakui kekeliruannya dalam melakukan pemurniaan agama. Memoar tersebut ia tulis dalam masa pembuangan di Minahasa-. Minangkabau sejatinya seperti api di dalam sekam, sebuah konflik yang tidak terlihat di permukaan namun selalu ada bara yang nyala di dalamnya.

Jika di tinjau bagaimana era globalisasi ekonomi dan informasi dewasa ini, orang berbicara mengenai lenyapnya batas-batas teritorial, batas-batas negara dan bangsa, batas-batas kesukuan dan kepercayaan, batas-batas politik dan kebudayaan, yang pada waktu lalu dianggap sebagai hambatan dalam interaksi global. Akan tetapi, di dalam era tersebut tidak banyak yang berbicara mengenai lenyapnya batas sosiologis antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa, misalnya; batas ontologis antara citra dan realitas; batas filosofis antara kebenaran dan kepalsuan, batas psikologis antara normalitas dan abnormalitas.

Tantangan ke depan semakin besar. Derasnya pengaruh informasi dan data yang tidak terbentung serta globalisasi yang semakin membiaskan realitas ruang.

Generasi penerus Minangkabau mestinya mulai di kaderisasi kembali. Pokok persoalan penghalang generasi muda Minangkabau saat ini untuk masuk dalam alam tasawuf terletak pada penyajian dan tampilan tarekat yang tidak adaptif terhadap zaman, padahal yang dipertahankan saat ini hanyalah kulit luar bukan kurikulum pokok. Semisal salawaik dulang yang menampilkan kulit dari tarekat sebagaimana tarian sufi, namun bisa dipoles dan dimodernisasi dengan syarat yang membawakannya mesti pengamal.

Salah satu cara agar tasawuf ini dapat diterima kalangan modern, rasional, dan intelektual, serta anak muda milenial saat ini adalah memilah antara yang pokok dengan yang cabang pada tarekat untuk kemudian mengadaptasikan hal-hal cabang tersebut dengan dunia modern.

Satu harapan adalah bengkalai mengenai perangai yang semakin memburuk berangsur pulih. Semoga tidak larut dan terbuai dengan ingatan-ingatan kolektif perihal sejarah kejayaan masa lampau yang telah melahirkan pemikir-pemikir hebat, namun sejatinya hutang historis yang di tanggung oleh anak kemenakan Minangkabau saat ini. Oleh karena itu, segala perliku dan hal-hal buruk yang terjadi di Sumatera Barat saat ini semestinya menjadi pikiran bersama. Di pintas sebelum hanyut, biarlah langit terbang namun tambangnya pegang erat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s